Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Harga Logam 2012 Diprediksi Turun 11 Persen

Surel Cetak PDF

JAKARTA - Bank Dunia memproyeksikan harga alumunium, tembaga, dan nikel akan turun rata-rata 11 persen sepanjang 2012. Laporan Global Economic Prospect Bank Dunia yang dirilis pada Juni 2012 menyatakan penurunan ini disebabkan pertumbuhan permintaaan yang moderat ditengah peningkatan kapasitas produksi tambang meningkat.

“Negara-negara Indocina mulai bangkit, komoditas tambang yang kami punya, mereka juga punya,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association Syahrir. A.B kemarin.

Ia menegaskan saat ini permintaan dunia hanya naik moderat karena permintaan dari Eropa dan Amerika Serikat cenderung turun. Permintaan dari Cina dan India masih tumbuh, tapi mulai melambat karena pasar ekspor Cina melamh. Padahal, saat ini Cina mengkonsumsi 43 persen logam olahan dunia.

Syahrir berujar melemahnya komoditas mineral di pasar global akan memukul industri dalam negeri. Sebab saat ini pelaku usaha mendapat hambatan dari regulasi di dalam negeri. “Sudah ada moratorium pembukaan tambang, rekomendasi ekspor dan kuota ekspor, serta harga komoditas diperkirakan turun,” kata dia.

Melihat kondisi ini, dipastikan sumbangan sektor pertambangan terhadap pendapatan negara akan turun. Tambahan lagi, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tahun ini hanya 7,6 persen, turun dari pertumbuhan ekonomi tahun lalu 8,3 persen.

Proyeksi pertumbuhan masih bisa terkoreksi menjadi 2-4 persen, Jika Eropa benar-benar merosot. Indonesia, yang mengandalkan ekspor komoditas, dikhawatirkan mendapat pukulan keras jika kondisi Eropa memburuk.

Ketua Umum Asosiasi Nikel Indonesia Shelby Ihsan memperkirakan harga nikel akan membaik pada semester II 2012. Pada saat itu, harga bahan baku stainless steel ini bisa berada di kisaran US$ 20-22 ribu per ton.

“Ini karena stok nikel dunia sudah turun, sehingga mereka harus membeli lagi,” kata Shelby. Harga nikel, kata dia, masih turun karena kondisi ekonomi masih lesu. Bursa London Metal Exchange mencatat, pada Juni 2012, harga nikel melorot hingga US$ 16 ribu per ton.

Perihal banyaknya proposal pembangunan smelter (tempat peleburan logam) yang diterima Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Syahrir menilai itu hanyalah taktik agar pengusaha diizinkan mengekspor mineral lagi.

Dia ragu ke-152 proposal itu akan direalisasi oleh pengusaha tambang. “Roadmap membuat smelter itu bisa saja dikarang, kemudian dapat izin ekspor sebelum 2014 (batas waktu larangan ekspor bijih),” kata Syahrir.

Selain itu, dalam pembangunan smelter, dibutuhkan analisis cadangan dan sumber daya mineral, ketersediaan pasokan listrik, infrastruktur pengangkutan, dan pasar produk jadi. Jika analisis tidak dilakukan menyeluruh, Syahrir mengatakan investor tak akan berani membangun smelter. 

Sumber: Koran Tempo, 25 Juni 2012

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 28 Juni 2012 08:06 )