Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

PT Freeport Napas Hidup

Surel Cetak PDF

SILAS Natkime, merupakan salah satu tokoh masyarakat Papua yang selalu berupaya menyadarkan semua pihak di Papua, termasuk di Kabupaten Mimika akan pentingnya keberadaan PT Freeport Indonesia (PT FI) di tanah Amungsa ini. Tanpa kehadiran PT Freeport, perubahan di Papua secara umum, khususnya di Mimika dan sejumlah kabupaten di pegunungan tengah tidak terjadi signifikan seperti sekarang ini.

Karena itu, baik warga asli Papua dan warga daerah lain yang datang ke Papua untuk mencari hidup, semua harus menjaga PT Freeport agar beroperasi secara normal. Tidak boleh diantara kita yang bertindak merusak fasilitas PT Freeport yang dapat mengganggu operasional. Cari makanlah di daerah ini dengan cara-cara yang baik dan benar.

Seperti yang pernah diberitakan media massa, Silas berulang kali selalu mengingatkan bahwa PT Freeport menjadi salah satu napas bagi masyarakat Papua. Menghambat, mengganggu atau mematikan operasional PT Freeport sama saja dengan ini menyusahkan dan mamatikan masyarakat Papua.

"Sudah berulang kali saya katakan, tanpa PT Freeport tidak mungkin masyarakat Papua akan berubah, akan maju. Banyak warga dari luar Papua yang juga sudah menikmati hidup yang layak dari PT Freeport. Karena itu semua unsur pemerintahan yang ada di Mimika dan Papua, juga semua stakeholders dan semua warga harus bersama-sama menjaga PT Freeport," kata Silas.

"Saya selama ini berjuang agar ada kesatuan pemahaman antara perusahaan dan pemerintah dalam hal ini Bupati Mimika yang juga anak asli Amungme, juga DPRD agar sama-sama ikut mengatasi setiap masalah yang terjadi di PT Freeport, agar operasional berjalan lancar dan pendapatannya bisa tercapai sesuai target. Bila pendapatan PT Freeport baik, maka dampaknya bagi daerah serta masyarakat Papua dan Mimika juga baik," tambah Silas.

Silas menegaskan, semua pihak di Papua dan Mimika harus memiliki komitmen yang sama untuk menjaga PT Freeport. Tidak boleh terjadi ada orang atau pihak yang masa bodoh, hanya menonton dan mau enaknya saja. "Semua harus menjaga Freeport. Terlebih pejabat pemerintah di daerah ini harus menjaga Freeport. Jangan hanya mau menikmati hasil dari PT Freeport, tapi kalau ada masalah diam saja, masa bodoh saja. Atau lempar tanggung jawab ke pihak keamanan. Tidak bisa begitu. Itu pejabat macam apa?" kata Silas.

Menurut Silas, PT Freeport telah menghidupkan banyak orang. PT Freeport ini milik Indonesia, milik Papua dan milik Mimika, karena itu dalam kondisi seperti sekarang ini, semua harus aktif terlibat mengatasinya.

Tokoh masyarakat Papua asal Suku Amungme ini juga selalu tegas meminta agar Polri dan TNI di daerah ini menegakkan hukum. Siapa pun yang   tindakan kriminal harus ditangkap dan diproses secara hukum.

"Karena bila dibiarkan maka akan terjadi banyak masalah dan merugikan pihak lain," ujar Silas. (Yulius Lopo)

http://www.salampapua.com/2018/03/pt-freeport-napas-hidup-seluruh.html

Sumber : SALAM PAPUA, 27 Maret 2018

 

PT Freeport Napas Hidup

Surel Cetak PDF

SILAS Natkime, merupakan salah satu tokoh masyarakat Papua yang selalu berupaya menyadarkan semua pihak di Papua, termasuk di Kabupaten Mimika akan pentingnya keberadaan PT Freeport Indonesia (PT FI) di tanah Amungsa ini. Tanpa kehadiran PT Freeport, perubahan di Papua secara umum, khususnya di Mimika dan sejumlah kabupaten di pegunungan tengah tidak terjadi signifikan seperti sekarang ini.

Karena itu, baik warga asli Papua dan warga daerah lain yang datang ke Papua untuk mencari hidup, semua harus menjaga PT Freeport agar beroperasi secara normal. Tidak boleh diantara kita yang bertindak merusak fasilitas PT Freeport yang dapat mengganggu operasional. Cari makanlah di daerah ini dengan cara-cara yang baik dan benar.

Seperti yang pernah diberitakan media massa, Silas berulang kali selalu mengingatkan bahwa PT Freeport menjadi salah satu napas bagi masyarakat Papua. Menghambat, mengganggu atau mematikan operasional PT Freeport sama saja dengan ini menyusahkan dan mamatikan masyarakat Papua.

"Sudah berulang kali saya katakan, tanpa PT Freeport tidak mungkin masyarakat Papua akan berubah, akan maju. Banyak warga dari luar Papua yang juga sudah menikmati hidup yang layak dari PT Freeport. Karena itu semua unsur pemerintahan yang ada di Mimika dan Papua, juga semua stakeholders dan semua warga harus bersama-sama menjaga PT Freeport," kata Silas.

"Saya selama ini berjuang agar ada kesatuan pemahaman antara perusahaan dan pemerintah dalam hal ini Bupati Mimika yang juga anak asli Amungme, juga DPRD agar sama-sama ikut mengatasi setiap masalah yang terjadi di PT Freeport, agar operasional berjalan lancar dan pendapatannya bisa tercapai sesuai target. Bila pendapatan PT Freeport baik, maka dampaknya bagi daerah serta masyarakat Papua dan Mimika juga baik," tambah Silas.

Silas menegaskan, semua pihak di Papua dan Mimika harus memiliki komitmen yang sama untuk menjaga PT Freeport. Tidak boleh terjadi ada orang atau pihak yang masa bodoh, hanya menonton dan mau enaknya saja. "Semua harus menjaga Freeport. Terlebih pejabat pemerintah di daerah ini harus menjaga Freeport. Jangan hanya mau menikmati hasil dari PT Freeport, tapi kalau ada masalah diam saja, masa bodoh saja. Atau lempar tanggung jawab ke pihak keamanan. Tidak bisa begitu. Itu pejabat macam apa?" kata Silas.

Menurut Silas, PT Freeport telah menghidupkan banyak orang. PT Freeport ini milik Indonesia, milik Papua dan milik Mimika, karena itu dalam kondisi seperti sekarang ini, semua harus aktif terlibat mengatasinya.

Tokoh masyarakat Papua asal Suku Amungme ini juga selalu tegas meminta agar Polri dan TNI di daerah ini menegakkan hukum. Siapa pun yang   tindakan kriminal harus ditangkap dan diproses secara hukum.

"Karena bila dibiarkan maka akan terjadi banyak masalah dan merugikan pihak lain," ujar Silas. (Yulius Lopo)

http://www.salampapua.com/2018/03/pt-freeport-napas-hidup-seluruh.html

Sumber : SALAM PAPUA, 27 Maret 2018

 

Peluang Minta Diskon dari Kasus Limbah

Surel Cetak PDF

Inalum ingin mendapatkan harga 40% participating interest (PI) Rio Tinto dengan harga diskon. Keduanya masih terlibat negosiasi untuk menyelesaikan kesepakatan harga. Peluang Inalum mendapat diskon harga makin terbuka lantaran Rio Tinto tengah terpojok isu lingkungan dari operasi Freeport.

KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara mengejar waktu hingga April 2018 untuk membeli saham divestasi Freeport Indonesia sebesar 41,94%. Keseriusan pemerintah mengambil saham divestasi itu antara lain diwujudkan dengan membentuk induk usaha {holding) BUMN sektor pertambangan. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ditunjuk sebagai holding BUMN tambang, pada November 2017.

Perusahaan yang dipimpin Budi Gunadi Sadikin, mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu, memang diberi misi khusus memborong saham divestasi Freeport. Salah satu yang diincar adalah 40% participating interest (PI) atau saham Freeport Indonesia milik Rio Tinto. Tak heran, kini malum tampak intens bernegosiasi dengan Rio Tinto.

Selain mengincar Pi milik Rio Tinto, Inalum juga mengincar 5% saham Freeport Indonesia milik Freeport McMoran. Hitung punya hitung, berbagai aksi itu akan menjadikan Inalum menguasai 51% saham Freeport Indonesia.

Riza Pratama Juru Bicara PT Freeport Indonesia mengatakan, Rio Tinto memang ingin keluar dari Grasberg. Ketidakjelasan perpanjangan masa operasional Freeport menjadi pertimbangannya.

Selain ketidakjelasan kontrak, urusan lingkungan juga dikabarkan menjadi pertimbangan Rio Tinto keluar dari Freeport. Berdasarkan dokumen negosiasi divestasi saham Freeport yang diterima KONTAN, kerusakan lingkungan akibat limbah (tailing) Freeport Indonesia juga menekan Rio Tinto. Kabarnya, urusan lingkungan ini membuat sejumlah investor global mengancam mencabut dana investasinya di Rio Tinto.

Dengan alasan lingkungan itu juga, Norwegia melarang lembaga dana pensiun negara mereka untuk menginvestasikan dana di Rio Tinto. Secara spesifik Norwegia menuduh Rio Tinto terlibat langsung dalam kerusakan lingkungan akibat penambang Emas Grasberg milik Freeport.

Bak pucuk dicinta ulam tiba Posisi Rio Tinto yang tengah tersudut, menjadi peluang bagi Inalum untuk mengajukan diskon harga ke Rio Tinto.

Benarkah? "Sebagai pembeli pasti kami menawar semurah-murahnya," kata Budi, diplomatis.

Budi masih merahasiakan tawaran harga yang diajukan ke Rio Tinto. "Kami tengah melakukan negosiasi, kami tak bisa ngomong. Tapi mnge harga sudah ada," ujar Budi.

Merujuk informasi yang sampai KONTAN, Inalum akan memakai skema discounted cashflow (DCF) dari harga pasar untuk meminang 40% PI milik Rio Tinto. DCF adalah metode perhitungan nilai wajar berdasarkan konsep bahwa nilai suatu bisnis berasal dari jumlah cashflow atau arus uang yang didapat selama masa hidup bisnis tersebut. Kemudian hasilnya diskonto-kan kembali terhadap nilai uang yang berlaku sekarang.

Hitung punya hitung, harga penawaran Inalum terhadap 40% PI milik Rio Tinto sekitar US$ 2,3 miliar. Nilai itu mencerminkan harga 9,36% saham Freeport milik Inalum (hasil pemberian Pemerintah mdonesia) sekitar US$ 550 juta. Kabarnya, nilai tawaran itulah yang disorongkan Inalum ke Rio Tinto.

Sebagai perbandingan, sejumlah lembaga keuangan dunia juga memberikan hitungan harga (valuasi) atas 40% PI milik Rio Tinto. Deutsche Bank, misalnya, memberi valuasi harga 40% PI Rio Tinto sebesar US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 45,5 triliun dengan kurs saat itu. Harga tersebut juga tak terpaut jauh dari hitungan HSBC, maupun Morgan Stanley.

Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso menilai, pembelian participating interest 40% Rio Tinto perlu dicermati. Sebab, Rio Tinto tidak berkaitan langsung dengan Kontrak Karya (KK).

Ia menilai, skema DCF dari Inalum ialah metode umum. Tapi, skema ini termasuk berisiko. Apalagi, DCF memasukkan Mineral sebagai pendapatan. Artinya Mineral diakui milik pemegang Kontrak Karya. "Padahal Mineral milik negara, bukan milik kontraktor," tandasnya kepada KONTAN.

(Selesai)

Pratama Guitarra/Azis H usaini

 Sumber : Kontan, 27 Maret 2018

 

Peluang Minta Diskon dari Kasus Limbah

Surel Cetak PDF

Inalum ingin mendapatkan harga 40% participating interest (PI) Rio Tinto dengan harga diskon. Keduanya masih terlibat negosiasi untuk menyelesaikan kesepakatan harga. Peluang Inalum mendapat diskon harga makin terbuka lantaran Rio Tinto tengah terpojok isu lingkungan dari operasi Freeport.

KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara mengejar waktu hingga April 2018 untuk membeli saham divestasi Freeport Indonesia sebesar 41,94%. Keseriusan pemerintah mengambil saham divestasi itu antara lain diwujudkan dengan membentuk induk usaha {holding) BUMN sektor pertambangan. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ditunjuk sebagai holding BUMN tambang, pada November 2017.

Perusahaan yang dipimpin Budi Gunadi Sadikin, mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu, memang diberi misi khusus memborong saham divestasi Freeport. Salah satu yang diincar adalah 40% participating interest (PI) atau saham Freeport Indonesia milik Rio Tinto. Tak heran, kini malum tampak intens bernegosiasi dengan Rio Tinto.

Selain mengincar Pi milik Rio Tinto, Inalum juga mengincar 5% saham Freeport Indonesia milik Freeport McMoran. Hitung punya hitung, berbagai aksi itu akan menjadikan Inalum menguasai 51% saham Freeport Indonesia.

Riza Pratama Juru Bicara PT Freeport Indonesia mengatakan, Rio Tinto memang ingin keluar dari Grasberg. Ketidakjelasan perpanjangan masa operasional Freeport menjadi pertimbangannya.

Selain ketidakjelasan kontrak, urusan lingkungan juga dikabarkan menjadi pertimbangan Rio Tinto keluar dari Freeport. Berdasarkan dokumen negosiasi divestasi saham Freeport yang diterima KONTAN, kerusakan lingkungan akibat limbah (tailing) Freeport Indonesia juga menekan Rio Tinto. Kabarnya, urusan lingkungan ini membuat sejumlah investor global mengancam mencabut dana investasinya di Rio Tinto.

Dengan alasan lingkungan itu juga, Norwegia melarang lembaga dana pensiun negara mereka untuk menginvestasikan dana di Rio Tinto. Secara spesifik Norwegia menuduh Rio Tinto terlibat langsung dalam kerusakan lingkungan akibat penambang Emas Grasberg milik Freeport.

Bak pucuk dicinta ulam tiba Posisi Rio Tinto yang tengah tersudut, menjadi peluang bagi Inalum untuk mengajukan diskon harga ke Rio Tinto.

Benarkah? "Sebagai pembeli pasti kami menawar semurah-murahnya," kata Budi, diplomatis.

Budi masih merahasiakan tawaran harga yang diajukan ke Rio Tinto. "Kami tengah melakukan negosiasi, kami tak bisa ngomong. Tapi mnge harga sudah ada," ujar Budi.

Merujuk informasi yang sampai KONTAN, Inalum akan memakai skema discounted cashflow (DCF) dari harga pasar untuk meminang 40% PI milik Rio Tinto. DCF adalah metode perhitungan nilai wajar berdasarkan konsep bahwa nilai suatu bisnis berasal dari jumlah cashflow atau arus uang yang didapat selama masa hidup bisnis tersebut. Kemudian hasilnya diskonto-kan kembali terhadap nilai uang yang berlaku sekarang.

Hitung punya hitung, harga penawaran Inalum terhadap 40% PI milik Rio Tinto sekitar US$ 2,3 miliar. Nilai itu mencerminkan harga 9,36% saham Freeport milik Inalum (hasil pemberian Pemerintah mdonesia) sekitar US$ 550 juta. Kabarnya, nilai tawaran itulah yang disorongkan Inalum ke Rio Tinto.

Sebagai perbandingan, sejumlah lembaga keuangan dunia juga memberikan hitungan harga (valuasi) atas 40% PI milik Rio Tinto. Deutsche Bank, misalnya, memberi valuasi harga 40% PI Rio Tinto sebesar US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 45,5 triliun dengan kurs saat itu. Harga tersebut juga tak terpaut jauh dari hitungan HSBC, maupun Morgan Stanley.

Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso menilai, pembelian participating interest 40% Rio Tinto perlu dicermati. Sebab, Rio Tinto tidak berkaitan langsung dengan Kontrak Karya (KK).

Ia menilai, skema DCF dari Inalum ialah metode umum. Tapi, skema ini termasuk berisiko. Apalagi, DCF memasukkan Mineral sebagai pendapatan. Artinya Mineral diakui milik pemegang Kontrak Karya. "Padahal Mineral milik negara, bukan milik kontraktor," tandasnya kepada KONTAN.

(Selesai)

Pratama Guitarra/Azis H usaini

 Sumber : Kontan, 27 Maret 2018

 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL