Indonesian Mining Association

  • Create an account
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Mixed Reactions to Concession on Bauxite

E-mail Print PDF

GlobeAsla

Adentha Primanita

The government’s announcement that a ban on bauxite exports will be lifted for firms that demonstrate a commitment to build a smelter has met with miners approval - and mixed reactions by others.

Budi Santoso, head of the policy working group at the Indonesian mining Professionals Association, or Perhapi, said the government must not play favorites with big companies.

"There are concerns that big companies like Freeport or Newmont could be awarded special working contracts," Budi said on Tuesday. "The policy should be for Said Didu, the head of the smelter development acceleration team at the Energy and Mineral Resources ministry, said on Monday that the government would allow miners to export bauxite, a semi-refined aluminum ore, to help gain revenue and fund their smelter construction.

Budi said this was irrelevant

"The investment needed to build a smelter is between $500 million and $2 billion. It can’t be covered by selling bauxite."

Since exporting a ton of bauxite only fetches between $5 and $10 in profit, Budi said, a miner that exported two million tons annually would only net $20 million.

The new policy, according to Budi, has more to do with Indonesia’s budget deficit, which he attributed to the implementation of a 2009 law that banned exports of mineral ores - unless refined in-country.

Prior to the ban, which came into effect in January last year, the sector accounted for 60 percent of Indonesia’s exports.

"With the new policy, it only shows the government is not consistent with their own regulation," Budi said, it’s also shows they don’t have the knowledge capacity and capability regarding the mining sector."

But Syahrir Abubakar, the executive director of the Indonesia mining Association OMA), welcomed the latest decision.

"This is correct, logical thinking," Syahrir said on Wednesday. "We have been demanding for it for so long."

He added that the 2014 decree that allowed for exports of Copper concentrates, but not bauxite and nickel, was unfair.

Companies such as Hari ta Prima Abadi mineral, jointly held by Harita Group and Cita mineral Investindo, have invested $2.2 billion to build a bauxite smelter in Ketapang, West Kalimantan, Syahrir said.

Syahrir conceded export sales were only a minor contribution toward smelters cost - and instead rationalized the loophole as a well-deserved entitlement "We think that we must be rewarded with ease of doing business amid the low price of bauxite."

 Source : JakartaGlobe, March 26, 2015

Last Updated ( Friday, 27 March 2015 11:30 )
 

Gold Price Retreats From Two-Week High

E-mail Print PDF

Bloomberg

Gold declined from the highest price in more than two weeks after inflation showed signs of stirring in the world’s biggest Economy, boosting prospects for an increase in US interest rates. Silver dropped.

Bullion for immediate delivery fell as much as 0.6 percent to US$1,186.77 an ounce and was at $1,189.70 at in Singapore Wednesday, according to Bloomberg generic pricing. The precious metal climbed to $1,195.15 on Tuesday, the highest level since March 6, as prices advanced for a fifth straight day.

While some investors buy gold as an inflation hedge, a pickup in the pace of consumer prices may boost prospects for higher borrowing costs, benefiting the US currency and hurting bullion. The Federal Reserve said last week it wanted to be reasonably confident inflation was rising toward its 2 percent goal before tightening. The consumer-price index posted the first gain in four months in February, data showed on Tuesday.

"Even though the Feds rate-hiking pace has been slowed substantially, they’re still going to hike," Wayne Gordon, an analyst at UBS Group AG, said by phone from Singapore. "There is more uncertainty in when the Fed raise rates from here because every meeting is a live meeting from this point."

The CPI rose 0.2 percent last month, the Labor Department report showed. Core costs, which exclude food and energy, also gained 0.2 percent, exceeding the median forecast of economists surveyed by Bloomberg. The Bloomberg Dollar Spot Index climbed 0.2 percent on Tuesday, snapping two days of declines.

Chair Janet Yellen signaled last week that the Fed was in no hurry to raise rates after the central bank dropped a pledge to be patient. Vice Chairman Stanley Fischer said on Monday that while higher rates would probably be warranted before the end of the year, it would not be a smooth upward path.

Gold for April delivery declined 0.2 percent to $1,188.80 an ounce on the Comex. Prices capped a fifth day of gains on Tuesday in the longest run since the period to Jan. 20.

Silver for immediate delivery fell 0.4 percent to $16.8916 an ounce. Spot platinum lost 0.3 percent to $1,138 an ounce, while palladium added 0.1 percent to $765.03 an ounce.

Meanwhile, Copper declined after the biggest four-day rally in almost two years before data that was forecast to show durable goods orders slowed in the US, the world’s second- biggest consumer of the metal. Copper fell as much as 1.1 percent after closing at the highest since Jan. 6. Orders for goods meant to last at least three years climbed 0.2 percent in February, compared with 2.8 percent in January, according to a Bloomberg survey before the data due Wednesday. Manufacturing in China slowed to an 11-month low in March, the preliminary reading of a private Purchasing Managers Index showed Tuesday. Copper for delivery in three months on the London Metal Exchange fell 0.7 percent to $6,101.50 a metric ton ($2.77 a pound) at 305 p.m. in Shanghai. The metal rose 0.4 percent to $6,145 a ton on Tuesday, capping a four-day, 8.4 percent rally that was the biggest since May 2013.

 Source : The Jakarta Post, March 26, 2015

Last Updated ( Friday, 27 March 2015 11:27 )
 

Dukung Keputusan Lemasko – Forum Anak Kamoro Tolak Smelter di Poumako

E-mail Print PDF

TIMIKA – HP. Forum Anak Kamoro (FAK) menyatakan dukungannya atas keputusan Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro (Lemasko) yang menolah atas keputusan pembangunan slemter di Pomako. Sebelumnya Lemasko telah menggelar upacara adat sasi sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan Pemerintah Kabupaten Mimika yang menentukan lokasi pembangunan smelter di Pomako.

“Keputusan dari Lemasko itu sudah tepat dan benar. Ini demi keselamatan dan kelangsungan hidup anak cucu Kamoro ke depannya. Hutan mangrove itu sumber hidup orang Kamoro, kalau itu rusak, maka dimana mereka akan cari makan,” kata Beni Kareyau dari Forum Anak Kamoro saat bertandang ke Kantor Redaksi Harian Papua di Jalan Yos Sudarso, rabu (25/3).

Ia mengatakan pada prinsipnya penolakan ini tidak boleh diartikan sebagai penolakan terhadap pembangunan smelter. Tapi penolakan ini konteksnya adalah lokasi pembangunannya. “Silahkan dibangun di tempat lain, kami orang Kamoro sudah cukup dengan keberadaan PTFI. Mungkin daerah lain di Papua ini ada yang mau menerima pembangunan smelter ini,” jelas Beni.

Beni mengatakan, Pemkab Mimika harus bisa mendengar aspirasi dari masyarakat Kamoro. Apalagi Lemasko telah melakukan upacara adat untuk hal tersebut. ”Kalau pemerintah tetap memaksakan, saya sarankan kepada Lemasko untuk ke Jakarta guna menemui Presiden, mengadukan ha lini,” sarannya.

Ditanya, bahwa bukankah dengan adanya smelter akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat, khususnya Kamoro, Beni menyatakan persoalannya adalah apakah masyarakat Kamoro bisa siap untuk masuk sebagai tenaga kerja, dan memegang peran penting dalam mengambil kebijakan perusahaan smelter itu nantinya.

”Ini karena sumber daya manusia tidak pernah dipersiapkan. Maka seharusnya pertama-tama harus dilakukan adalah mempersiapkan sumber daya manusia, agar masyarakat Kamoro juga mendapat tempat dalam proses pembangunan. Saya pribadi menilai smelter ini sangat terburu-buru, tidak menimbang banyak hal,” kata Beni. (Bur).

 Sumber : Harian Papua, 26 Maret 2015

Last Updated ( Friday, 27 March 2015 11:23 )
 

Pemerintah Jangan Takut!

E-mail Print PDF

Jakarta. Pemerintah diminta tetap tegas menerapkan aturan ekspor wajib menggunakan dokumen Letter of Credit (L/C), meski ada sejumlah perusahaan besar termasuk Freeport mengajukan upaya penangguhan pemberlakuan aturan tersebut yang ditengarai akan mengganggu kepentingan transfer pricing mereka.

Direktur Eksekutif Indonesian Resource Studies (IRES) Marwan Batubara menegaskan, pemerintah jangan takut dan gentar untuk menerapkan peraturan kewajiban letter ojcredit (L/C), meski banyak eksportir yang mengajukan penangguhan aturan itu. Kalau perlu pemerintah harus memperkuat aturan itu dengan dasar hukum yang kuat jadi jika ada perusahaan atau eksportiryangmelanggarbisa dikenakan sanksi tegas sesuai dengan aturan dan payung hukum yang ada

"Pemerintah tidak boleh gentar dan harus tegas menerapkan aturan itu, dan kalau perlu diperkuat dengan aturan yang Iebih kuat dan legal," ujarnya kepada Neraca. Rabu (25/3).

Karena menurut dia, perlawanan itu pasti ada dari pengusaha maupun eskportir dan kini tinggal pemerintahnya mampu tegas tidak dalam menggulirkan aturan itu, jangan sampai pemerintah kalah dengan manuver dan upaya pengusaha maupun ekspprtir dalam menggagalkan peraturan tersebut "Pemerintah tidak boleh lemah, harus kuat terus mensosialisasikan kepada masyarakat dan tentu meminta dukungan publik, karena memang aturan ini benar dan harus diberlakukan," tegasnya. Marwan mengingatkan, apabi-laaturan baru ini diberlakukan mulai 1 April 2015, maka cadangan devisa negara bisa bertambah, selain itu juga bisa mengukur potensi dari kekayaan alam nasional. Selama ini kan tidak, banyak kekayaan alam nasional dieksploitasi hingga habis tapi tidak tercatat oleh negara.

"Pengusaha maupun eksportir jangan mau enaknya saja, ambil keuntungan dari Indonesia tapi uangnya banyak mengendap di negara lain. Kekayaan alam kita habis, tapi negara lain yang untung. Untuk itu, aturan ini harus tegas diberlakukan," tegas Marwan.

Bagaimanapun, menurut dia, aturan di negara lain juga sama, jadi tidak ada salahnya jika pemerintah Indonesia harus berbuat sama seperti di negara lain. "Di negara lain memperlakukan aturan yang sama, bahkan lebih ketat, kenapa kita harus lemah dalam menggulirkan aturan. Kalau perlu pemerintah haruslebih tegas tidak pandang bulu," ujarnya.

Patut diketahui, sedikitnya 12 perusahaan besar termasuk Freeport sedang mengajukan penangguhan atas kewajiban menggunakan L/C untuk ekspor komoditasnya kepada Kemendag. Aturan yang mewajibkan eksportir menggunakan L/C tertuangdalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.4/2015 terhitung mulai 1 April 2015.

Kemendag memang mewajibkan empat produk ekspor strategis menggunakan L/C dalam pembayaran ekspor. Keempat produk ekspor itu adalah minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (CPKO), mineral, batubara, serta minyak dan gas bumi.

Eksportir Kerepotan

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengaku pasrah jika aturan kewajiban L/C tetap diberlakukan oleh pemerintah terhadahan bagi para eksportir CPO sebesar USS 5 per ton juga akan memberatkan. Karena itu, Gapki tetap meminta kementerian untuk memperlonggar aturan ini dengan membebaskan L/C bagi ekspor CPO kepada perusahaan yang memiliki induk perusahaan (holding) yang sama "Walaupun sudah pernah dibicarakan, kami tetap meminta keringanan tersebut kepada Kemendag," ujarnya

Di sisi lain, Fadhil mengakui kebijakan wajib L/C itu penting untuk meningkatkan akurasi pencatatan penerimaan devisa. "Kewajiban ini diperlukan, namun pengusaha perlu melakukan kajian untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut Masa transisi juga diperlukan untuk pelaku usaha yang sudah memiliki kontrak kerja jangka panjang," ujarnya

Ketua tim asistensi ekonomi Wapres Jusuf Kalla, Sofjan Wanandi, mengatakan pemerintah memang mengeluarkan soal ketentuan wajib menggunakan fasilitas transaksi internasional L/C kepada para eksportir. Ketentuan ini bertujuan, agar devi sa eksporyang didapat para eksportir dalam negeri tercatat dan tak disimpan di luar negeri.

"Selama ini nilai dan volume ekspor Indonesia cukup besar. Contohnya, pada 2012 sempat mencapai US$200 mili ar dal am setahun. Namun, sebelum adanya ketentuan wajib pencatatan ekspor yang tertib termasuk melalui L/C, banyak devisa eksporyangtak masuk ke dalam negeri, tapi ke bank di luar negeri. Ya lebih disiplin, kita jadi tahu di mana itu uangnya nyangkut," ujarnya

Sofjan pun menambahkan, ekspor Indonesia tahun ini masih tertekan, karena harp minyak dunia yang anjlok, sehingga otomatis yang lain terdampak, seperti batu bara, CPO, LNG dan lainnya "Untuk US$200 miliar seperti 2012 saya pikir susah, tidak mungkin 2015ki ta capai segi tu. Kalaumenu-rut saya Iata usaha harus keras sekali untukekspor lebih banyak dan mengurangi impor ki ta Saya harap kita bisa capai 2016," ujarnya.

Sofjan juga membenarkan bahwa aturan ini ditentang para eksportir. Padahal ketentuan wajib L/C bertujuan, agar devisa ekspor yang didapat para eksportir dalam negeri tercatat, dan tak disimpan di luar negeri.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Partogi Pengaribuan mengatakan hampir 12 perusahaan dan kita sedang membicarakan di lcantor Menko Perekonomian dengan instansi terkait seperti Kementerian ESDM.

"Banyak, selain Freeport, Pertamina juga Sektornya Pertambangan, migas, CPO juga ada Mereka boleh dong menyampaikan kan kitamelihat cermat dengan instansi terkait," katanya lewat pesan singkat ketika dihubungi kemarin.

Partogi menjelaskan, ada banyak alasan perusahaan tersebut pemberlakuan L/C. Seperti di sektor Pertambangan kewajiban L/C tidak terdapat pada perjanjian kontrak karya (KK). "Lalu mereka merasakan ini skema baru yang harus dibicarakan dengan buyer mereka," ujarnya.

Kewajiban eksportir menggunakan L/C untuk produk-produk sumber daya alam ini merupakan salah satu dari enam kebijakan pemerintah, untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional. iwan/bari/agus/mohar

 Sumber : Neraca, 26 Maret 2015

Last Updated ( Friday, 27 March 2015 11:22 )
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 607