Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Mendag Optimistis Target Ekspor US$190 Miliar

Surel Cetak PDF

Luther Kembaran

MENTERI Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan keyakinannya target ekspor Indonesia 2014 sebesar USS 190 miliar akan tercapai, meskipun pada semester pertama untuk nonmigas baru mengantongi US$88,8 miliar.

"Capaian nilai ekspor nonmigas pada semester pertama masih kurang 2,5 persen dari target, namun saya masih optimistis bahwa target US$190 miliar itu akan tercapai," kata Lutfi sebelum penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dilansir Antara di Jakarta, Rabu (20/8).

Lutfi yakin akan ada perbaikan kinerja ekspor Indonesia memasuki semester II 2014, terlebih dengan sudah diperbolehkannya lima perusahaan tambang melakukan ekspor termasuk PT Freeport Indonesia yang sudah mengantongi izin ekspor konsentrat.

"Setidaknya ada lima perusahaan yang sudah mengantongi ijin dan siap melakukan ekspor, dengan nilai kurang lebih sebesar US$2 miliar yang akan memperbaiki kinerja ekspor ke depan," katanya.

Lutfi menjelaskan kinerja ekspor ke beberapa negara juga mengalami pertumbuhan pada semester I 2014, seperti Singapura mengalami pertumbuhan sebesar 2,2 persen, Amerika Serikat 5,1 persen, Inggris 4,9 persen dan Italia 4,6 persen. "Memang juga ada beberapa negara yang mengalami penurunan, seperti Jepang yang turun 16 persen dan Tiongkok 13,4 persen,," katanya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor ke beberapa negara prospektif juga mengalami peningkatan, seperti Australia tumbuh 40 persen, Uni Emirat Arab 69,4 persen dan Republik Afrika Selatan sebesar 101,7 persen.

Sementara untuk produk-produk utama yang mengalami peningkatan adalah produk kimia tumbuh 14,9 persen, makanan olahan 13,9 persen dan juga sumbangan dari industri otomotif sebesar 6,6 persen. Selain itu, untuk produk prospektif seperti perhiasan juga mengalami pertumbuhan sebesar 99,6 persen, udang 31,6 persen, kakao dan olahannya 21,8 persen.

Meskipun demikian, beberapa produk Indonesia yang mengalami penurunan ekspor pada semester I di antaranya adalah tekstil dan produk tekstil sebesar 2,3 persen, produk elektronik 8,0 persen, kopi 25,6 persen, dan ikan" serta produk ikan 14,8 persen.

 Sumber : JURNAL NASIONAL, 21 Agustus 2014

 

Mendag Optimistis Target Ekspor US$190 Miliar

Surel Cetak PDF

Luther Kembaran

MENTERI Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan keyakinannya target ekspor Indonesia 2014 sebesar USS 190 miliar akan tercapai, meskipun pada semester pertama untuk nonmigas baru mengantongi US$88,8 miliar.

"Capaian nilai ekspor nonmigas pada semester pertama masih kurang 2,5 persen dari target, namun saya masih optimistis bahwa target US$190 miliar itu akan tercapai," kata Lutfi sebelum penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dilansir Antara di Jakarta, Rabu (20/8).

Lutfi yakin akan ada perbaikan kinerja ekspor Indonesia memasuki semester II 2014, terlebih dengan sudah diperbolehkannya lima perusahaan tambang melakukan ekspor termasuk PT Freeport Indonesia yang sudah mengantongi izin ekspor konsentrat.

"Setidaknya ada lima perusahaan yang sudah mengantongi ijin dan siap melakukan ekspor, dengan nilai kurang lebih sebesar US$2 miliar yang akan memperbaiki kinerja ekspor ke depan," katanya.

Lutfi menjelaskan kinerja ekspor ke beberapa negara juga mengalami pertumbuhan pada semester I 2014, seperti Singapura mengalami pertumbuhan sebesar 2,2 persen, Amerika Serikat 5,1 persen, Inggris 4,9 persen dan Italia 4,6 persen. "Memang juga ada beberapa negara yang mengalami penurunan, seperti Jepang yang turun 16 persen dan Tiongkok 13,4 persen,," katanya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor ke beberapa negara prospektif juga mengalami peningkatan, seperti Australia tumbuh 40 persen, Uni Emirat Arab 69,4 persen dan Republik Afrika Selatan sebesar 101,7 persen.

Sementara untuk produk-produk utama yang mengalami peningkatan adalah produk kimia tumbuh 14,9 persen, makanan olahan 13,9 persen dan juga sumbangan dari industri otomotif sebesar 6,6 persen. Selain itu, untuk produk prospektif seperti perhiasan juga mengalami pertumbuhan sebesar 99,6 persen, udang 31,6 persen, kakao dan olahannya 21,8 persen.

Meskipun demikian, beberapa produk Indonesia yang mengalami penurunan ekspor pada semester I di antaranya adalah tekstil dan produk tekstil sebesar 2,3 persen, produk elektronik 8,0 persen, kopi 25,6 persen, dan ikan" serta produk ikan 14,8 persen.

 Sumber : JURNAL NASIONAL, 21 Agustus 2014

 

Pemerintah Optimistis Renegosiasi Kontrak Karya Tuntas Bulan Depan

Surel Cetak PDF

Penandatangan amendemen kontrak perusahaan pertambangan dilakukan oleh pemerintahan baru.

Yurika Indah Prasetianti

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan renegosiasi kontrak karya dan Perjanjian Karya Pertambangan dan Pengusahaan Batubara (PKP2B) bisa dituntaskan pada September 2014.

R Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementrian ESDM, mengatakan pemerintah menargetkan proses renegosiasi dapat tuntas sebelum berakhirnya pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Freeport dan Vale sudah selesai. Kami akan terus menjadwalkan pertemuan dengan para pemegang kontrak karya, enam issues harus selesai dalam September, seluruhnya. Makin cepat makin baik," kata dia, Rabu.

Menurut Sukhyar, Kementrian ESDM akan berkoordinasi dengan kementerian lainnya, seperti kementerian keuangan dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam menuntaskan renegosiasi. "Kami masih terus menyelesaikan ini dengan wakil-wakil dari kementerian lain khususnya kementerian keuangan dan BKPM. Targetnya sebelum pemerintahan peralihan enam issues selesai," tegas dia.

Enam poin yang dibahas dalam renegosiasi antara pemerintah dengan pemegang kontrak karya pertambangan dan Perjanjian Karya Pertambangan dan Pengusahaan Batubara (PKP2B) adalah kewajiban pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri, pengurangan luas lahan tambang, perubahan perpanjangan kontrak menjadi izin usaha pertambangan (IUP), kenaikan royalti untuk penerimaan negara, divestasi, serta penggunaan barang dan jasa pertambangan dalam negeri.

Chairul Tanjung, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, sebelumnya mengatakan pemerintah telah melakukan renegosiasi terhadap 107 pemegang kontrak karya dan PKP2B dari total 111 KK dan PKP2B.

Empat pemegang kontrak karya dan PKP2B tidak direnegosiasi karena dua kontrak tidak berlaku lagi (expired), dan dua kontrak terjadi tumpang tindih antara IUP dan pemegang saham.

Menurut Chairul, dari 107 KK dan PKP2B baru 40 kontrak yang selesai direnegosiasi, terdiri dari tujuh KK dan 33 PKP2B. Sedangkan 67 perusahaan baik KK dan PKP2B masih dalam proses penyelesaian.

"Kami sudah memberikan guidance yang utuh kepada Kementerian ESDM, khususnya Dirjen Minerba (mineral dan batubara), agar bisa menyelesaikan yang belum disepakati, paling lambat kalau bisa ditargetkan September seluruh dari KK dan PKP2B itu bisa diselesaikan," kata dia. Dua perusahaan besar pemegang kontrak karya yang telah menyetujui poin-poin renegosiasi adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Freeport Indonesia.

Freeport dan pemerintah Indonesia bahkan telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) amandemen kontrak karya pada 25 Juli 2014. Seiring penandatangan nota kesepahaman, Freeport Indonesia telah menyetorkan dana sebesar US$ 115 juta sebagai jaminan kesungguhan pembangunan smelter.

Pemerintah memperkirakan akan ada tambahan investasi sebesar US$ 35 miliar jika renegoisasi 107 Kontrak Karya dan PKP2B selesai dilakukan.

Mahendra Siregar, Kepala Badan Koordinator Penananam Modal (BKPM), mengatakan renegosiasi kontrak karya dan PKP2B yang tengah dijalankan pemerintah akan memberikan dampak positif bagi investasi. Dengan renegosiasi diperkirakan akan ada tambahan investasi sebesar US$ 35 milliar, meski belum seluruhnya direalisasikan pada tahun ini. "Investasi ini butuh proses, jadi keseluruhannya bukan tahun ini bergantung pada proses renegosiasinya selesai," kata dia.

Pemerintahan Baru

Sukhyar menambahkan perusahaan yang telah menyepakati renegosiasi akan menandatangani nota kesepahaman kemudian dilanjutkan dengan amandemen.

"Enam isu itu prinsip dasar yang nanti akan dituangkan di amendemen kontraknya. Amendemen kontrak itu membutuhkan waktu," lanjut Sukhyar.

Sukhyar mengungkapkan penandatangan amandemen kontrak perusahaan pertambangan akan dilakukan di masa pemerintahan baru. Bukan hanya enam issues yang akan dilihat, tetapi juga aspek-aspek lain seperti administratif dan aspek legal lainnya. "Itu harapan kami dari pemerintah, bisa diselesaikan sebelum Januari 2015. Praktis nanti yang menandatangani adalah menteri baru di ESDM mewakili pemerintah," tandas dia.

 Sumber : Indonesia Finance Today, 21 Agustus 2014

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 28 Agustus 2014 08:36 )
 

Freeport Sets Gresik for Smelter

Surel Cetak PDF

Tito Summa Siahaan

Freeport Indonesia has picked Gresik, East Java, as the location for its planned copper smelter project to be near infrastructure that would make it easier to ship abroad, instead of being located near its mining site in Papua.

After considering factors like the availability of infrastructure, Gresik was deemed as the more ideal location, said R. Sukhyar, director-general for coal and mineral resources at the Energy and Mineral Resources Ministry. He added that there had been a local request to build the smelter in Papua as part of a move to stimulate development in the province.

"We understand the request by local governments in Papua]. But they must understand that this smelter project must be done as soon as possible, and infrastructure is readily available in Gresik," Sukhyar said.

Gresik is already home to a copper smelter that is 25 percent owned by Freeport. Mitsubishi Materials Corporation owns 60.5 percent, while Mitsubishi Corporation Unimetal and Nippon Mining and Metals control the remaining 9.5 percent and 5 percent, respectively.

Sukhyar said that Freeport had received offers on four sites deemed suitable to build the smelter project "Freeport will pick the best location, based on the issue of cost, efficiency and its relative distance to supporting industries."

He said that Freeport had already started some of the works on engineering design and is in the process of drafting the environmental impact assessment document "We want them to commence construction this year," he added.

Freeport agreed to invest $2.3 billion for a copper smelter with capacity to produce 400,000 metric tons of copper cathodes, as part of a pact between the government and Freeport in the contract renegotiation and easing ore export restrictions.

Freeport had agreed to deposit a $115 million assurance bond to an escrow account while the government had eased its stance on export duty, thus allowing the miner to resume exports, of copper concentrates.

The Trade Ministry had granted Freeport a permit to export 1.1 million tons of copper concentrate worth at least $23 billion.

Mining companies like Freeport have to build a smelter to comply with the government’s regulation. Indonesia imposed an escalating tax policy, which penalized any company that had not made progress on building a smelter by slapping them with a 25 percent tax on copper concentrate exports or a 20 percent tax on lead, zinc, iron and manganese shipments. The tax was due to increase annually to 60 percent in 2017.

 Source : JakartaGlobe, August 20, 2014

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 28 Agustus 2014 08:32 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL