Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Newmont Belum Kantongi Izin Ekspor Konsentrat

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Sepekan setelah penandatangan nota kesepahaman (memorandum of understanding! MoU) amandemen kontrak pertambangan, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) belum mendapatkan izin ekspor konsentrat. Padahal izin ekspor itu diharapkan segera terbit agar kegiatan produksi di tambang Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat bisa dimulai.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R. Sukhyar mengatakan rekomendasi Surat Persetujuan Ekspor (SPE) belum diterbitkan lantaran masih dirumuskan besaran kuota ekspor bagi NNT.

"Kuota ekspor kan mengacu ke kapasitas smelter yang dibangun bersama Freeport (PT Freeport Indonesia)," kata Sukhyar di Jakarta, Kamis (11/9).

Sukhyar menuturkan kapasitas smelter yang dibangun Freeport mencapai 400 ribu ton tembaga katoda. Artiannya membutuhkan bahan baku konsentrat sebesar 1,6 juta ton. Dia bilang kuota ekspor bagi Freeport dan Newmont tidak boleh lebih dari 1,6 juta ton per tahun. Besaran pasokan konsentrat masing-masing pihak itulah nantinya menjadi kuota ekspor yang ditetapkan ESDM.

Dalam pembangunan smelter itu, Newmont bertindak sebagai pemasok konsentrat. Hanya saja yang menjadi masalah Freeport tidak memberi ruang bagi Newmont untuk memasok konsentrat lantaran Freeport sepenuhnya memasok konsentrat ke smelter itu. Sukhyar bilang pihaknya akan turun tangan untuk menyelesaikan masalah pasokan ini.

"Freeport kan inginnya semua milik dia, tapi Newmont kan enggak dapat jadinya. Kami buat kebijakan supaya mereka bisa saling berbagi," ujarnya.

Presiden Direktur NNT, Martiono Hadianto sebelumnya mengatakan penandatanganan nota kesepahaman ini memungkinkan NNT segera memperoleh izin ekspor konsentrat tembaga. Setelah izin ekspor diperoleh, NNT akan memanggil para karyawan dan kontraktor untuk kembali bekerja dan memulai kembali kegiatan operasi tambang tembaga dan emas Batu Hijau secara aman dan tepat waktu.

"Kami memperkirakan tambang Batu Hijau akan kembali melakukan ekspor konsentrat tembaga dan beroperasi secara normal pada September ini," ujarnya.(rap)

 Sumber : Investor Daily, 12 September 2014

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 12 September 2014 09:43 )
 

Operasional Newmont Terganjal Kuota Ekspor

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Kementerian ESDM belum mengeluarkan surat rekomendasi ekspor kepada PT Newmont Nusa. Tenggara karena pembahasan besaran kuota ekspor belum selesai.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sukhyar mengatakan besaran kuota ekspor Newmont mengacu pada kapasitas smelter yang akan dibangun bersama dengan PT Freeport Indonesia.

"Iya, itu yang masih kami kaji," katanya seusai Rapat Pimpinan Kementerian ESDM, Kamis (11/9).

Menurutnya, kapasitas produksi smelter yang akan dibangun Freeport dan Newmont sebesar 1,6 juta ton konsentrat hingga akhir 2017.

Dari total tersebut, belum ada kesepakatan besaran alokasi yang akan digunakan Newmont.

Sukhyar menginginkan kedua perusahaan itu membagi kapasitas smelter tetapi kondisi saat ini Freeport sudah mengambil penuh kapasitas smelter yang ada. "Nah itu yang akan kita buat kebijakan gimana caranya supaya Freeport jangan produksi sebesar itu," ujarnya.

Dia menjelaskan salah satu opsi yang dipilih pemerintah akan mengurangi besaran kuota yang, telah ditetapkan untuk Freeport.

Di luar itu, Sukhyar menjelaskan Surat Rekomendasi Ekspor Newmont akan disetujui pada pekan ini.

Sukhyar menegaskan belum mendapatkan laporan dari tim teknis mengenai progress pembangunan smelter Freeport yang nantinya akan dibangun bersama Newmont.

Menurutnya, tim teknis tersebut telah melakukan pertemuan perdana pada pekan lalu.

Progress pembangunan smelter akan dievaluasi oleh Kementerian ESDM setelah enam bulan atau pada Desember 2014.

Dalam kurun waktu enam bulan, jelasnya, progress smelter harus mencapai 60% dari target. "Kalau tidak memenuhi target ya dihentikan ekspornya," tuturnya.

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Utama PT Newmont Nusa Tenggara Martono Hadianto berharap pemerintah segera mengeluarkan SPE sehingga perusahaan bisa memanggil lagi karyawan untuk bekerja.

Pada bulan ini, dia memperkirakan Tambang Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat akan kembali melakukan aktivitas produksinya secara normal.

"Batu Hijau akan kembali melakukan ekspor konsentrat tembaga dan beroperasi secara normal pada September ini," tegasnya.

Newmont telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan pemerintah pada 3 September 2014. MoU tersebut berisi enam klausul renegosiasi antara lain kelanjutan operasi pertambangan, melakukan divestasi saham, menciutkan lahan, serta pemanfaatkan produk dan jasa lokal. (Fauzul Muna)

 Sumber : Bisnis Indonesia, 12 September 2014

 

Operasional Newmont Terganjal Kuota Ekspor

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Kementerian ESDM belum mengeluarkan surat rekomendasi ekspor kepada PT Newmont Nusa. Tenggara karena pembahasan besaran kuota ekspor belum selesai.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sukhyar mengatakan besaran kuota ekspor Newmont mengacu pada kapasitas smelter yang akan dibangun bersama dengan PT Freeport Indonesia.

"Iya, itu yang masih kami kaji," katanya seusai Rapat Pimpinan Kementerian ESDM, Kamis (11/9).

Menurutnya, kapasitas produksi smelter yang akan dibangun Freeport dan Newmont sebesar 1,6 juta ton konsentrat hingga akhir 2017.

Dari total tersebut, belum ada kesepakatan besaran alokasi yang akan digunakan Newmont.

Sukhyar menginginkan kedua perusahaan itu membagi kapasitas smelter tetapi kondisi saat ini Freeport sudah mengambil penuh kapasitas smelter yang ada. "Nah itu yang akan kita buat kebijakan gimana caranya supaya Freeport jangan produksi sebesar itu," ujarnya.

Dia menjelaskan salah satu opsi yang dipilih pemerintah akan mengurangi besaran kuota yang, telah ditetapkan untuk Freeport.

Di luar itu, Sukhyar menjelaskan Surat Rekomendasi Ekspor Newmont akan disetujui pada pekan ini.

Sukhyar menegaskan belum mendapatkan laporan dari tim teknis mengenai progress pembangunan smelter Freeport yang nantinya akan dibangun bersama Newmont.

Menurutnya, tim teknis tersebut telah melakukan pertemuan perdana pada pekan lalu.

Progress pembangunan smelter akan dievaluasi oleh Kementerian ESDM setelah enam bulan atau pada Desember 2014.

Dalam kurun waktu enam bulan, jelasnya, progress smelter harus mencapai 60% dari target. "Kalau tidak memenuhi target ya dihentikan ekspornya," tuturnya.

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Utama PT Newmont Nusa Tenggara Martono Hadianto berharap pemerintah segera mengeluarkan SPE sehingga perusahaan bisa memanggil lagi karyawan untuk bekerja.

Pada bulan ini, dia memperkirakan Tambang Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat akan kembali melakukan aktivitas produksinya secara normal.

"Batu Hijau akan kembali melakukan ekspor konsentrat tembaga dan beroperasi secara normal pada September ini," tegasnya.

Newmont telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan pemerintah pada 3 September 2014. MoU tersebut berisi enam klausul renegosiasi antara lain kelanjutan operasi pertambangan, melakukan divestasi saham, menciutkan lahan, serta pemanfaatkan produk dan jasa lokal. (Fauzul Muna)

 Sumber : Bisnis Indonesia, 12 September 2014

 

Percepat Renegosiasi

Surel Cetak PDF

Chairul Tanjung Ajak Bangkit dari Keterpurukan

JAKARTA, KOMPAS. Pemerintah siap mempercepat proses renegosiasi kontrak pertambangan dengan perusahaan pemilik kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara. Sebanyak 50 renegosiasi kontrak siap dituntaskan maksimal akhir bulan ini.

"Ada 40-50 nota kesepahaman renegosiasi yang dipercepat maksimal tuntas sampai akhir bulan ini. Kontrak yang perlu diamandemen harus gerak cepat," kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo seusai Rapat Pimpinan Eselon I dan II Kementerian ESDM, Kamis (11/9), di Jakarta.

Rapat itu dipimpin langsung Pelaksana Tugas Menteri ESDM yang juga Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung. Melalui Keputusan Presiden Nomor 77/P Tahun 2014 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, per 9 September 2014 Chairul Tanjung diangkat menggantikan Jero Wacik. Jero mengundurkan diri tiga hari setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 3 September 2014.

Di sektor minyak bumi dan gas, Susilo mengungkapkan, percepatan juga dilakukan atas perizinan, penanganan proyek besar, dan perpanjangan kontrak. Proyek di sektor migas yang disebut masih banyak tertunda penyelesaiannya antara lain Tangguh Train III, East Natuna, dan IDD Chevron. Hal itu juga ditargetkan tuntas pada akhir bulan ini.

"Sekarang permen (peraturan menteri) ESDM terkait pedoman perpanjangan kontrak akan selesai sebentar lagi. Dengan permen ESDM tersebut dapat menangani perpanjangan kontrak KKKS (kontraktor kontrak kerja sama), termasuk Blok Mahakam, Exxon, dan lainnya. Targetnya, permen ESDM tersebut selesai akhir bulan ini," tambahnya.

Di sektor kelistrikan, Susilo juga menyatakan, pihaknya siap mempercepat proyek listrik yang terganggu. Direktur jenderal di bidang itu diminta membuat terobosan agar tak terjadi krisis listrik di sejumlah daerah.

Chairul menyatakan, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi mendapat tugas menyelesaikan kontrak pengelolaan blok migas yang segera berakhir masa berlakunya.

Meski hanya pejabat pelaksana tugas, Chairul menegaskan bahwa dirinya mempunyai wewenang untuk menandatangani dan membuat keputusan terkait dengan sektor ESDM. Ia berharap, renegosiasi itu tuntas sebelum masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir.

"Kalau bisa selesaikan, itu baik. Namun, kalau tidak bisa selesai, setidaknya memberikan landasan bagi pemerintah yang akan datang," ujarnya.

Chairul mengakui, dengan merangkap sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, posisinya di ESDM tidak bisa penuh waktu. Ia pun membahas mekanisme kerja itu dengan jajaran eselon I dan II Kementerian ESDM. Tugas sehari-hari kementerian diberikan secara langsung tanggung jawabnya di bawah Susilo Siswoutomo selaku Wakil Menteri ESDM. Ia akan berkoordinasi langsung dengan deputi bidang ESDM dari kantor Menko Perekonomian yang akan ditempatkan di Kementerian ESDM.

Angkat harkat martabat

Dalam rapat pimpinan, Chairul mengaku berkenalan secara langsung dengan jajaran pimpinan di Kementerian ESDM. Ia memberikan arahan terkait upaya perbaikan di lingkungan kementerian yang dihantam sejumlah kasus terkait suap dan dugaan korupsi berturut-turut.

"Tugas saya pertama mengembalikan harkat martabat dan semangat di Kementerian ESDM untuk bangkit dari keterpurukan dan menatap masa depan lebih baik," ujarnya.

Chairul menyatakan, tidak mudah untuk langsung bangkit dari rasa keterpurukan di kementerian itu. Namun, ia menyatakan siap memasang badan di belakang jajaran Kementerian ESDM jika jajaran Kementerian ESDM berubah dan komitmen perbaikan dilakukan dengan sepenuh hati.

"Saya dapat komitmen pejabat ESDM untuk siap berubah. Mereka siap menarik garis tegas dari masa lalu dengan masa datang," ujarnya. (BEN)

 Sumber : Kompas, 12 September 2014

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 12 September 2014 09:21 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL