Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Antam’s Sales Fall 35% On Lower Prices

Surel Cetak PDF

Anggi M. Lubis

JAKARTA. Publicly listed diversified mining company Aneka Tambang (Antam) reported that its first-quarter sales flopped by nearly 35 percent year-on-year (y-o-y) due to the sharp decline in the price of nickel and gold as well as a fall in production.

Antam’s unaudited financial report published recently shows that its revenue fell by 34 percent to Rp 2.22 trillion (US$192.62 million) during the first three months of this year, from Rp 3.34 trillion recorded during the same period last year, when the company recorded a 35.5 percent y-o-y increase.

Its total comprehensive income went down by about 11 percent y-o-y to Rp 409.95 billion between January and March.

Gold sales made up half of Antam’s first-quarter revenue, accounting for Rp 1.16 trillion, a 26 percent decline compared to the same period last year.

According to the company’s statement, the decline in sales volume and the drop in the price of gold were the two main factors behind the revenue drop. The company said the average price of gold fell 23 percent y-o-y to $1,318.31 in the first quarter of 2014 compared to the same period last year.

Antam’s gold production went down by 16 percent y-o-y to 513 kilograms during the first quarter of the year.

“The decrease was also attributable to the lower grade of the ore mined from the Pongkor [West Java] and Cibaliung [Banten] mines,” the statement read. This contributed to slumping sales, which declined by 20 percent y-o-y to 2,323 kg. The company’s gold sales included purchases from other gold mining companies.

Antam’s nickel ore production also slumped by 95 percent y-o-y to 178,459 wet metric tons (wmt), which came entirely from its high-grade Pakal Island mine in North Maluku.

In line with the implementation of the government’s mineral ore export ban earlier this year, Antam’s nickel ore production was largely used to supply the company’s ferronickel smelters, which left the company to book a 92 percent y-o-y decline in both its nickel sales volume and value.

Antam sold 215,400 wmt of nickel ore in the first quarter of this year, the total value of which stood at Rp 87 billion.

Following the government’s ban, Antam’s ferronickel sales rose by 46 percent y-o-y to 5,523 tons of nickel in ferronickel (TNi).

Despite a 21 percent decline in the company’s ferronickel average selling price to $6.3 per pound compared to the first quarter of 2013, Antam’s unaudited ferronickel sales grew by around 50 percent to Rp 891 billion, thanks to the higher sales volume.

“Antam remains confident that it will reach its 2014 production target of 18,000 TNi,” the statement said.

Meanwhile, Antam’s bauxite production rose by 186 percent y-o-y to 115,340 wmt, as the company has been aggressively boosting the commodity’s production in preparation of the company’s Tayan Grade Chemical Alumina plant.

The $490 million Tayan refinery was commissioned in October last year, and is expected to launch operations soon, with output set at between 125,000 tons and 130,000 tons of alumina throughout this year, before increasing to 300,000 tons next year.

This year, Antam plans to allocate Rp 2.8 trillion for capital expenditure (capex), compared to Rp 2 trillion last year, as more projects come onstream.

The state-run miner has also signed a memorandum of understanding (MoU) with mining giant PT Freeport Indonesia to develop a smelter to purify copper ore under a public private partnership (PPP).

Antam’s shares, traded on the Indonesia Stock Exchange (IDX) under the ticker symbol ANTM, closed at 1,150 on Friday, a 2.3 percent decline from the previous closing session.

 Source : The Jakarta Post, May 03, 2014

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 07 May 2014 07:43 )
 

Pemerintah Permudah Izin PMA untuk Bangun Smelter

Surel Cetak PDF

Investor lokal diminta memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas dengan membangun pabrik pengolahan dan pemurnian.

Yurika Indah Prasetianti

JAKARTA. Pemerintah akan mempermudah izin penanaman modal asing (PMA) bagi investor yang akan bekeija sama membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) di Indonesia. Hingga saat ini ada 55 perusahaan yang mengajukan izin pembangunan smelter.

R Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan pembangunan smelter memang membutuhkan izin operasi khusus, tapi itu akan diupayakan untuk dipermudah.

Kami butuh kok, jadi izin harus cepat keluar. Hasil pertemuan di Tiongkok kemarin banyak yang sudah memahami dan mengerti kebijakan pengolahan dan pemurnian Indonesia. Tapi, mereka ingin kebijakan itu tidak berubah lagi," kata dia, di Jakarta, Jumat.

Sukhyar menekankan pada para investor dalam negeri, untuk memanfaatkan kenaikan harga komoditas saat ini seiring kebijakan larangan ekspor mineral mentah yang mulai diberlakukan pemerintah pada 12 Januan 2014.

"Dengan harga nikel yang sedang bagus, bauksit juga ini menjadi challenge bagi investor dalam negeri. Ini kesempatan baik. Jangan nanti tiba-tiba orang lain masuk, lalu kita nggak dapat apaapa. Mereka harus cepat-cepat, kan untuk nikel investasinya tidak mahal. Off taker- nya pasti Tiongkok, mereka butuh sekali. Harga bagus harus dinikmati," ungkap dia.

Namun, sukhyar mengakui masih ada beberapa kendala dalam pengembangan smelter, salah satunya masalah energi. Untuk itu, investor mengharapkan peran serta pemerintah dalam penyediaan energi untuk kebutuhan smelter.

"Memang ada catatan-catatan, salah satunya masalah energi. Harapan mereka, pemerintah segera penuhi kebutuhan listrik untuk smelter,” kata dia.

Sukhyar mengatakan, pengembangan pembangkit listrik saat ini memiliki tiga pola. Pertama adalah keija sama dengan PT PLN (Persero). Kedua, PLN membangun pembangkit sesuai dengan kebutuhan di satu daerah sehingga bisa langsung digunakan untuk smelter. Ketiga, pengembang smelter langsung membangun pembangkit listrik sendiri.

Alie Cendrawan, Chairman PT Green Energi Indotama, mengatakan respons investor Tiongkok yang ingin bekeija sama dalam membangun smelter sangat menarik.

"Sangat menarik kalau investor Tiongkok masuk ke Indonesia, regulasi yang dilakukan pemerintah sangat benar. Banyak investor smelter yang terdaftar ingin masuk, kelistrikan juga," kata dia.

Kementerian Koordinator Perekonomian sebelumnya menyebutkan empat perusahaan besar eksportir mineral siap membangun smelter. Keempat perusahaan tersebut merupakan perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan PMA.

Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian, mengatakan sudah ada empat perusahaan yang siap membangun smelter di dalam negeri.

Hatta meminta kepada kementerian atau lembaga terkait untuk mendorong dan mendukung keseriusan empat perusahaan tersebut dalam membangun smelter.

“Intinya kami meminta agar yang sudah menunjukkan keseriusan itu agar jangan ada hambatan, misal hambatan lahan, ini itu, kita ingin dipercepat," tutur dia.

MS Hidayat, Menteri Perindustrian, sebelumnya mengatakan satu smelter akan dibangun di Bintan, dua di Sulawesi, dan satu di Kalimantan. Yang mengajukan itu ada 55 perusahaan. Namun yang benar-benar membangun hanya lima atau delapan perusahaan, termasuk PT Freeport Indonesia dan lainnya. Itu sudah bagus," kata dia.

Kerja Sama

Menurut Sukhyar, beberapa perusahaan pengembang smelter sudah banyak yang bermitra dengan investor Tiongkok.

"Smelter yang ada di sini semua investasinya banyak keija sama dengan Tiongkok, seperti Modem Group. Bintang Alumina dengan Shen Shen, kemudian Harita bermitra dengan Tiongkok juga," ungkap dia.

Salah satu pembangunan smelter nikel yang merupakan kerja sama perusahaan lokal dengan PMA asal Tiongkok adalah milik PT Sulawesi Mining Investment. Sulawesi Mining merupakan perusahaan joint venture Tsingshan Group, produsen nikel perbesar di Tiongkok dan Grup Bintang Delapan Mineral. Pembangunan smelter saat ini telah mencapai 40%-50%.

Alexander Barus, Wakil Presiden Direktur Sulawesi Mining, yang juga manajemen Bintang Delapan Mineral, mengatakan smelter nikel Sulawesi Mining memproduksi 300 ribu metrik ton per tahun (MTPA) feronikel.

Kami tentu akan bekerja secara paralel, namun terlebih dahulu kami bangun fasilitas-fasilitas penunjangnya," kata dia.

Smelter nikel tersebut membutuhkan pasokan bijih nikel tiga juta ton per tahun. Pasokan bijih nikel akan diperoleh dari tambang Bintang Delapan Mineral, yang memiliki konsensi lahan seluas 47 ribu hektare di Morowali maupun Konawe, Sulawesi Tenggara.

 Sumber : Indonesia Finance Today, 05 Mei 2014

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 07 May 2014 07:40 )
 

Produksi Logam Emas Ditargetkan Naik 47,5%

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Direktur Mineral Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dede Suhendra mengatakan bahwa pemerintah menargetkan produksi logas emas pada 2014 mencapai 87 ton atau meningkat mencapai 47,5% dibandingkan 2013 yang hanya 59 ton. "Dalam 10 tahun terakhir, produksi emas mengalami fluktuasi. Tahun ini rencana produksi emas sekitar 87 ton," ungkap Dede di Jakarta, Rabu (30/4).

mi puncak produksi logam emas dalam 10 tahun terakhir yaitu tepatnya pada 2005 yang mencapai 143 ton. Namun secara berturut-turut angka produksi, mengalami penurunan samapi di 2013 yang hanya mencapai 59 ton. "Secara berturut-turut, sejak 2004, produksi emas mencapai 93 ton, 2005

sebesar 143 ton, lalu 2006 mencapai 85 ton, dan 2007 118 ton. Selanjutnya, pada 2008 sebesar 64 ton, 2009 104 ton, 2010 104 ton, 2011 76 ton 2012 75 ton, dan 2013 mencapai 59 ton," ujarnya.

Sementara, Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat cadangan logam emas per 2013 mencapai 2.773 ton dengan bijih 3,2 juta ton. Untuk sumber daya emas tercatat 7.215 ton untuk logamnya dan 7,7 juta ton untuk bijih. Dede melanjutkan, produksi timah pada 2014 diproyeksikan 88 ribu ton atau sama dengan 2013. Lalu, produksi tembaga ditargetkan 640 ribu ton atau meningkat dibandingkan 2013 sebesar 450 ribu ton.

Sementara, untuk produksi bijih nikel, bijih bauksit, bijih besi, dan pasir besi diproyeksikan turun drastis menyusul penerapan pelarangan ekspor sesuai UU Xo 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mulai 12 Januari 2014. Produksi bijih nikel pada 2014 direncanakan hanya 3,5 juta ton atau turun jauh dibandingkan 2013 yang mencapai 60 juta ton.

Untuk bauksit, produksi ditargetkan hanya satu juta ton, sementara 2013 sebesar 56 juta ton, serta bijih besi dan pasir besi direncanakan hanya tujuh juta ton atau turun dibandingkan 2013 yang 19 juta ton.

Sebelumnya, Dede juga sempat menyebutkan bahwa produksi cadangan emas milik PT Freeport merupakan yang peling terbesar di Indonesia. Dede Suhendra mengatakan, produksi cadangan emas PT Freeport sudah melebihi tambang emas, "untuk risetnya 4 miliar kali 1 gram per ton, kali lagi resouces-nya 4 miliar kali lagi 1 gram," kata Dede.

Sementara bagi perusahaan tambang yang berskala kecil, Dede menyebutkan lumayan banyak produksi cadangan emasnya.

Sumber : Harian Ekonomi NERACA, 02 Mei 2014

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 07 May 2014 07:29 )
 

Jaminan 5% Disetor ke Bank Mandiri

Surel Cetak PDF

Muhammad Yazid

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Kementerian Keuangan akan membuat rekening bersama di Bank Mandiri untuk mendepositokan 5% dana jaminan kesungguhan pembangunan smelter. Saat ini, FT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara sudah siap menyetor dana tersebut.

Dede I. Suhendra, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM mengatakan, Freeport Indonesia telah memutuskan untuk menyimpan dana jaminan tersebut di Bank Mandiri. "Rekening bersama ini akan disetujui oleh Kementerian Keuangan, mudah-mudahan bisa keluar minggu ini," kata dia, Rabu (30/4).

Menurut Dede, pembuatan rekening bersama untuk deposito jaminan kesungguhan merupakan syarat yang harus penuhi perusahaan untuk mendapatkan rekomendasi ekspor konsentrat. "Freeport akan mendepositokan dana senilai USS 100 juta, sudah kami minta ke mereka untuk segera disiapkan untuk dimasukkan ke rekening bersama," imbuhnya.

Selain Freeport, Kementerian ESDM juga telah menggelar dialog dengan PT Newmont Nusa Tenggara terkait penerbitan rekening bersama untuk deposito jaminan kesungguhan. Namun, hingga sejauh ini, belum dipastikan bank nasional mana yang akan menjadi lokasi penempatan dana tersebut.

Dede bilang, mengingat pasokan konsentrat milik Newmont lebih kecil, besaran jaminan kesungguhan yang akan disetorkan juga lebih rendah dibandingkan Freeport. "Jaminan kesungguhan Newmont sekitar US$ 25 juta. Soal bank mana yang dipercaya, kami serahkan kepada perusahaan. Persetujuannya ditetapkan oleh Kementerian Keuangan," ujar dia.

Dede menambahkan, saat ini, pemerintah belum menerbitkan izin ekspor bagi Freeport dan Newmont lantaran Kementerian ESDM masih membahas keterkaitan penurunan tarif bea keluar dengan jaminan kesungguhan secara lintas sektoral. Rencananya, tarif bea keluar dapat turun andaikata progres pembangunan smelter sesuai dengan target yang dibuat.

Perusahaan juga dapat mencairkan deposito jaminan tersebut per satu tahun bilamana targetnya terpenuhi. Namun bila tidak, pemerintah akan memberlakukan tarif bea keluar progresif dan tetap menahan jaminan kesungguhan.

Daisy Primayanti, Juru Bicara PT Freeport Indonesia membenarkan kesiapan Freeport untuk mendepositokan senilai US$ 100 juta di Bank Mandiri. Namun demikian, "Kami masih terus berdiskusi dengan pemerintah dan berharap bisa segera memperoleh izin ekspor," ujarnya.

 Sumber : Kontan, 02 Mei 2014

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 07 May 2014 07:26 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL