Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Freeport Poised to Overcome Indonesia Export Hurdles: CEO

Surel Cetak PDF

by Danielle Bochove

Freeport-McMoRan Inc. said it’s confident of securing a new license to ship copper out of Indonesia as the deadline for talks with the government approaches.

Discussions continue on extending the current export permit, which expires on Thursday, Chief Executive Officer Richard Adkerson told analysts on a conference call Tuesday.

To prevent a possible halt in exports from its Grasberg mine in Papua province, the Indonesian government said it asked Freeport for a $530 million deposit toward building a new smelter. In Tuesday’s call, Adkerson confirmed that a “substantial” deposit had been requested in exchange for extending the export permit.

“We have responded that our view is that’s inconsistent with the understanding we had with the government,” Adkerson told analysts. The timing for future capital expenditures in Indonesia continues to be reviewed, he said.

‘Very Confident’

“We are presently very confident that we are going to get this export permit arranged for us,” the CEO said. “But if there was any aspect of our work with the government of Indonesia that would change that, then, unfortunately, we’d be forced to curtail development activities, curtail employment, take actions to preserve our company.”

Meanwhile, the Phoenix-based company is committed to building the smelter and is also confident its contract of work, which expires in 2021, will be renewed. Freeport recently received a “reaffirmation” of the Indonesian government’s commitment to moving forward to extend the contract, he said.

Handing over $530 million would undermine the CEO’s efforts to shore up the company’s balance sheet amid the worst commodities rout in a generation, which has led to five straight quarters of losses and a 78 percent share price plunge in the past year. For Indonesia, a halt at the giant Grasberg mine would costs jobs and tax revenue.

Indonesia’s Energy and Mineral Resources Ministry didn’t immediately respond to a request for comment sent outside of normal work hours.

 Source : Bloomberg.com, January 27, 2016

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 03 Februari 2016 08:27 )
 

Freeport-Mcmoran Pledges to Cut Up To $10 Billion Debt; Shares Jump

Surel Cetak PDF

By Nicole Mordant

Freeport-McMoRan Inc (FCX.N), the U.S. mining and oil group, on Tuesday made its strongest pledge yet to reduce its massive debt, saying it wants to lop off as much as $10 billion through proceeds from a mix of asset sales and joint ventures.

Freeport also reported a lower-than-expected fourth-quarter loss, and the shares jumped as much as 12 percent.

At one point, the stock fell on concerns about securing an important Indonesia copper export permit before Thursday's deadline.

Freeport faces "serious challenges" because of weak copper and oil prices and the massive debt on its balance sheet, Chief Executive Officer Richard Adkerson said on a conference call.

"We are addressing this seriously and with a degree of urgency and we're very focused on it," he said, mentioning a debt restructuring target of $5 billion to $10 billion for the first time.

Freeport's shares have tumbled 80 percent in the past year from the double whammy of falling oil and copper prices and $20 billion in debt.

Credit default swaps showed investors pricing in slightly less risk of a Freeport default after the results. Still, the massive premium demanded to insure Freeport debt implies a better-than-85 percent chance of default within five years.

Freeport was in talks with a number of parties on joint ventures or sales involving its copper assets, any of which could be sold at the right price, he said.

The company continues to weigh alternatives for its oil and gas assets.

Freeport expects to make "significant" progress on debt reduction in the first half of 2016, Adkerson said, but declined to give a time frame for the $5 billion to $10 billion target.

Freeport, the biggest U.S.-listed copper producer, suspended its annual dividend last year and made cuts to capital spending and copper output.

Adkerson did not rule out another equity issue but said Freeport was focusing on asset sales and joint ventures.

Excluding charges of $4.1 billion, Freeport reported an adjusted net loss of $21 million, or 2 cents a share, better than analysts' estimates of a loss of 17 cents.

Freeport's shares closed at $4.20, up 6.6 percent after rising as high as $4.42, in line with other copper stocks.

"Even though it was a wild day, no real change at the end of the day... How Freeport fares in 2016 will have a lot to do with both copper and oil pricing and how the company shapes itself from a strategic standpoint," Clarksons Platou Securities analyst Jeremy Sussman said.

(Reporting by Nicole Mordant in Vancouver; Additional reporting by Narottam Medhora in Bengaluru; Editing by Jeffrey Benkoe and Lisa Shumaker)

 Source : REUTERS, Jamuary 26, 2016

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 03 Februari 2016 08:24 )
 

Saham Freeport McMoran Lebih Murah

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Tawaran harga saham divestasi Freeport Indonesia 10,64% seharga US$ 1,7 miliar terus menjadi polemik. Lantaran tawarannya kelewat mahal, banyak yang menyarankan agar pemerintah membeli langsung saham sang induk Freeport-McMoRan Inc. yang kini murah. Anggota DPR Komisi VII Ramson Siagian saat rapat dengan pendapat dengan Menteri ESDM Sudirman Said, Senin (25/1) menyebut, dengan duit US$ 1,7 miliar, Pemerintah Indonesia bisa mengantongi saham Freeport-McMoRan Inc sekitar 40%, hampir mayoritas.

Merujuk harga saham Freeport McMoran. Jumat (221) pekan lalu, kapitalisasi saham Freeport McMoran di New York Stock Exchange hanya US$ 4.55 miliar. Ia menilai tawaran Freeport Indonesia seharga US$ 1,7 miliar setara dengan kapitalisasi sebesar US$ 16,2 miliar.

"Freeport McMoran di Amerika Serikat mengalami penurunan harga saham begitu tajam, market value Freeport Mcmoran anjlok," ujarnya. Senin (25/1). Harga saham Ft X (22/1) hanya US$ 3,9 per saham.

Ramson memaparkan, jika Pemerintah Indonesia bisa menguasai 40% saham Freeport McMoran, otomatis pemerintah bisa mengatur saham Freeport Indonesia "Dengan 40% semua keputusan strategis bisa dipengaruhi pemegang saham," ungkapnya.

Hanya saja, hal yang membuat saham PCX masih bertengger di kisaran USS 3,9 per saham lantaran saat itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said berjanji untuk memperpanjang kontrak Freeport Indonesia sampai 2041 melalui surat yang ia kirim langsung ke Freeport McMoran.

"Reaksi publik termasuk Rizal Ramli menyerang Menteri ESDM, pengaruh di market harga saham Freeport McMoran seharusnya bisa menurun drastis, apalagi ada penolakan publik dan pengamat," tandasnya.

Menanggapi ini, Menteri ESDM Sudirman Said mengaku, harga saham Freeport McMoran memang lebih murah dibandingkan dengan harga saham Freeport Indonesia. Sayangnya Peraturan Pemerintah (PP) tidak mengatur mengenai pembelian induk usaha. "PP hanya mengatakan divestasi untuk Freeport Indonesia saja," terangnya.

Namun, bisa saja jika Kementerian BUMN atau BUMN ingin melakukan pembelian saham Freeport McMoran.

"Yang menjadi tugas Kementerian ESDM adalah Kami akan meminta harga seren-dah-rendahnya, apabila pemerintah yang ambil, karena kami pihak yang menawar," ungkap dia.

Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang (Antam), Tri Hartono menyatakan, pembelian saham FCX bisa saja menjadi opsi. Ia menegaskan, kalo pemerintah memang memberikan penugasan kepada Tim Konsolidasi BUMN Pertambangan untuk melaksanakan ini, maka siap jalan. Pratama Guitarra

Sumber : Kontan, 26 Januari 2016

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 03 Februari 2016 06:51 )
 

Divestasi Freeport dan Tambang Underground

Surel Cetak PDF

Ferdy Hasiman

PADA 13 Januari 2016, manajemen Freeport Indonesia (Freeport) telah melakukan penawaran 10,64% saham tahap pertama kepada pemerintah Indonesia. Harga 10,64% saham Freeport dipatok pada harga US$1,7 miliar, atau senilai Rp23,67 triliun dengan asumsi 100% saham Freeport McMoRan (FCX) senilai US$16,2 miliar. Berdasarkan amendemen kontrak dalam renegosiasi kontrak, Freeport wajib mendivestasikan 30% saham ke pihak nasional. Karena pemerintah telah mengantongi 9,36% saham. Freeport tinggal mendivestasikan 20% saham ke pihak nasional.

Divestasi 20% saham itu pun akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar 10,64% pada 2016 dan tahap kedua sebesar 10% pada 2019. Mengapa Freeport hanya mendivestasikan 30% saham ke pihak nasional? Padahal, PP No.24/2012 mengamanatkan semua perusahaan asing yang sudah berproduksi selama 10 tahun wajib mendivestasikan saham sebesar 51% ke pihak nasional; pemerintah pusat, pemda, BUMN/BUMD, dan swasta nasional.

Hal itu tak lepas dari tarik-ulur kepentingan antara korporasi dan pemerintah pada saat renegosiasi kontrak berlangsung. Banyak perusahaan-perusahaan tambang asing yang keberatan dengan aturan itu. Mereka enggan membangun pelebur logam (smelter) dan tak mau membangun tambang underground yang membutuhkan dana besar untuk investasi. Sebagai jalan tengah, pemerintahan SBY-Boediono mengeluarkan PP No.77/2014 sebagai revisi atas PP No.24/2012.

PP No.77/2014 mengamanatkan perusahaan tambang asing yang membangun sektor hulu-hilir (pelebur logam), seperti PT Weda Bay Nikel (Eremet), hanya mendivestasikan 41% saham ke pihak nasional. Sementara itu, perusahaan yang membangun pelebur logam dan investasi tambang underground hanya mendivestasikan saham sebesar 30% ke pihak nasional. Itulah penyebab Freeport hanya mendivestasikan saham sebesar 30% ke pihak nasional.

Tambang underground Freeport termasuk; Grasberg Blok Cave, Deep Mill Level Zone (DMLZ), Deep Mill Level Zone (DMLZ), Deep Ore Zone (DOZ), Blok Cave Grasberg, dan DMLZ akan menghasilkan 24.000 metrik ton per hari untuk mengantisipasi masa transisi tambang open pit pada 2016. Investasi yang dikeluarkan Freeport untuk membangun tambang underground pun besar. Freeport telah membangun infrastruktur untuk memperlancar operasi tambang bawah tanah demi mengakses Blok Cave Grasberg dan DMLZ dengan total investasi mencapai US$635 juta dan investasi 2016 diperkirakan mencapai US$7 miliar. Lantas bagaimana mekanisme penawaran divestasi?

Mekanisme penawaran

Menurut PP No.77/2014, penawaran divestasi dilakukan secara berjenjang kepada pemerintah pusat, pemprov, dan pemkab/pemkot. Pemerintah pusat-daerah harus menyatakan minat paling lambat 60 hari setelah tanggal penawaran berdasarkan kesepakatan harga. Apabila dalam jangka waktu 60 hari tidak menyatakan minat, saham akan ditawarkan kepada BUMN/BUMD.

Langkah pemerintah pusat mengambil 10,64% saham Freeport tak mungkin. Alokasi APBN 2016 untuk membeli saham Freeport tak ada. Begitupun jika diserahkan ke pemda. Pemda Papua (pemerintah provinsi Papua dan kabupaten Mimika) tak memiliki banyak uang untuk membeli saham Freeport yang mahal itu. Jika saja Pemda ngotot, paling banter akan bekerja sama dengan pengusaha lokal dan orang-orang kuat di negeri ini.

Mekanisme seperti itulah yang dilakukan Pemda Sumbawa Barat pada divestasi 24% tahap pertama saham Newmont. Padahal, Newmont waktu itu telah memberikan harga spesial ke pemerintah, tetapi yang mendapat keuntungan ialah Bakrie Group yang mendapat pinjaman dana Credit Suisse. Jika divestasi saham Freeport diserahkan ke Pemda, bukan tak mungkin itu akan jatuh ke tangan pebisnis lokal dan rakyat tak mendapat manfaat dari divestasi.

Nasionalisasi KPC dan Arutmin ke tangan Bakrie Group juga menjadi acuan lain dari buruknya nasionalisasi pertambangan. KPC awalnya dikontrol perusahaan Australia BHP Billiton, sementara Arutmin awalnya dikontrol Rio Tinto dan BHP Billiton. Namun, nasionalisasi dua perusahaan itu tak memberikan kontribusi bagi penerimaan negara; pajak dan pembayaran royalti mengecil. Bukan hanya itu, di tangan pengusaha lokal, lingkungan hidup tak diperhatikan dan para pekerja tambang dibayar upah tak wajar.

Pengusaha lokal memiliki target mendapat saham Freeport dengan cara meminjam dana dari bank-bank asing. Mereka mampu menguasai kekuasaan dengan uang karena politisi memerlukan uang untuk biaya kampanye. Dalam aras perebutan inilah posisi Presiden Jokowi harus memiliki kehendak baik agar negara mendapat keuntungan dari divestasi. Kebijakan besar seperti divestasi pertambangan kerap disekap kepentingan pengusaha dan elite politik. Kesejahteraan rakyat terbengkalai. Gagasan divestasi kemudian hanya kamuflase kaum elite untuk mengelabui publik.

Diserahkan ke BUMN

Divestasi saham Freeport tidak boleh diserahkan kepada daerah atau swasta, tetapi diserahkan kepada pemerintah pusat melalui perusahaan BUMN, seperti PT Aneka Tambang Tbk dan didanai bank-bank BUMN. Keuntungan besar yang diperoleh Freeport tentu tak diragukan untuk pengembalian dana pinjaman dalam jangka waktu singkat. Karena itu, Menteri BUMN harus menangkap peluang tersebut. Sudah saatnya BUMN bersinergi agar tumbuh besar dan menjadi andalan ke depan. Setelah itu, tambang Freeport harus dikelola secara transparan untuk kesejahteraan rakyat.

Perlu menjadi catatan penting bahwa pertambangan milik PT Freeport Indonesia merupakan salah satu contoh imperialisme baru di Papua. Tata kelola Freeport Indonesia mengolah tambang underground juga sulit kita peroleh informasinya secara benar. Paling banter informasinya yang kita dapatkan hanya berisi pernyataan para elite di Jakarta. Elite-elite ini mengatakan Freeport sangat mumpuni dan memiliki skill tinggi mengolah tambang underground.

Ironisnya, sudah banyak pekerja yang mati di tambang underground Freeport ini. Pada 12 September 2014 di area West Muck Bay di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, seorang pekerja, Boby Hermawan, mati tertimpa reruntuhan batu. Pada 14 Mei 2013, sebanyak 38 pekerja tambang tertimpa atap area pelatihan tambang bawah tanah Big Gossan. Hanya 10 pekerja selamat, sementara 28 pekerja lainnya tewas. Pada 31 Mei 2013, seorang seorang sopir truk meninggal ketika sedang melakukan tugas pemeliharaan di area Deep Ore Zone (DOZ). Pada 1 Desember 2013, longsor di area Loading Point IE West Tambang Bawah Tanah DOZ menyebabkan 1 korban tewas.

Kematian pekerja di tambang underground Freeport merupakan kematian sia-sia. Pemerintah tak menganggap serius kematian pekerja tambang, seolah itu bukan pelanggaran HAM berat yang dilakukan korporasi. Catatan buruk pengelolahan tambang underground harus menjadi peringatan pemerintahan Jokowi-JK dalam melakukan renegosiasi kontrak dengan Freeport.

 Sumber : Media Indonesia, 26 Januari 2016

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 03 Februari 2016 06:46 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL