Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Kemilau Emas ANTM

Surel Cetak PDF

Harga saham Aneka Tambang berkilau, tergosok kenaikan harga emas

Eldo Christoffel Rafael

JAKARTA - Tren kenaikan harga emas berefek positif terhadap kenaikan harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Pada penutupan Kamis (16/6), harga saham ANTM naik 8,63% menjadi Rp 755 per saham.

Hingga akhir kuartal 1-2016, ANTM menjual sekitar tiga ton emas. Angka ini melebihi seperempat target penjualan emas perseroan tahun ini sebesar 10 ton. Dari laporan kuartal 1-2016, penjualan emas masih mendominasi 75,9% pendapatan ANTM. Setelah dua tahun belakangan merugi, emiten yang kerap disebut Antam mulai mampu mencatatkan kinerja positif pada kuartal I tahun 2016.

Christian Saortua, Analis Minna Padi Investama, mengatakan, penjualan ANTM tahun ini masih akan didominasi emas. Porsi penjualan emas di kuartal pertama tahun ini mencapai 76% lebih tinggi ketimbang tahun lalu sekitar 67%.

Sebenarnya, ANTM terus mengembangkan pabrik feronikel yang bisa menambah produksi hingga 13%. Tapi, tetap sulit mengimbangi porsi emas. Apalagi tren harga emas sampai akhir tahun masih positif. "Saya melihat dorongan harga emas terus mempertahankan penguatannya," kata Christian.

Lydia J Toisuta, Analis JP Morgan dalam riset menjelaskan pendapatan ANTM pada kuartal 1-2016 menurun tajam, karena penjualan nikel yang menurun 55%. Volume produksinya juga turun 38%.

ANTM memulai menjual nikel ore di pasar domestik sebenarnya juga turut membantu pendapatan. Imbas negatif masih ada setelah aturan larangan ekspor nikel mentah. Lydia memperkirakan, pendapatan ANTM masih tetap sama sampai ekspansi selesai dilakukan.

Stefanus Darmagiri, Analis Danareksa Sekuritas, dalam riset menjelaskan, proyek ANTM saat ini sedang berkembang. ANTM menyelesaikan ekspansi Pomalaa Ferro-nikel di tahun 2016, yang bertujuan menambah kapasitas produksi dan menurunkan beban.

Pembangunan pabrik feronikel Halmahera Timur dengan kapasitas produksi 13.500 ton yang akan selesai tahun 2018. Kemudian rencana membentuk usaha patungan bersama G°i nt venture) dengan PT Freeport Indonesia dengan proyek anode slime dan precious metal refinery ditargetkan berkapasitas produksi 6.000 ton. Selain itu smelter . Mempawah masih membutuhkan waktu 3 tahun-4 tahun untuk selesai, yang diprediksi akan memberi kontribusi pendapatan di jangka menengah.

Tahun ini ANTM, mengalokasikan belanja modal Rp 2,12 triliun untuk beberapa pengembangan pabrik. Stefanus memprediksi, pendapatan ANTM tahun ini turun menjadi Rp 9,14 triliun dari tahun sebelumnya Rp 10,53 triliun. Namun kerugian tahun ini diprediksi juga menurun menjadi Rp 307 miliar dibanding tahun lalu Rp 1,44 triliun.

Stefanus merekomendasikan hold saham ANTM dengan target harga Rp 650. Lydia merekomendasikan underweight dengan target harga Rp 300. Christian merekomendasi sell saham ANTM dengan target harga Rp 680.

 Sumber : Kontan, 17 Juni 2016

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 13 Juli 2016 09:44 )
 

Akhir Tahun, 27 Smelter Ditargetkan Mulai Operasi

Surel Cetak PDF

Retno Ayuningtyas

JAKARTA - Pemerintah menargetkan bakal ada 27 pabrik pengolahan dan pemurnian {smelter) yang beroperasi sampai akhir tahun ini. Dengan perkembangan pembangunan smelter ini, pemerintah s diminta tetap menjalankan larangan ekspor bijih pada 2017.

Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) Sujatmiko mengatakan, sampai Juni ini, sudah ada 23 smelter yang beroperasi. Ke-23 smelter tersebut yaitu 6 smelter nikel, 1 smelter bauksit, 1 smelter man-gan, 2 smelter kaolin, 2 smelter zeolit, dan 11 smelter zirkon.

"Sampai akhir 2016, jumlah smelter yang beroperasi ditargetkan mencapai 27 unit," kata dia di Jakarta, Rabu (15/6). Pada akhir tahun nanti, jumlah smelter nikel akan bertambah menjadi 8 unit dan smelter bauksit menjadi 2 unit.

Pada sisa tahun ini, lanjut dia, bakal ada empat smelter lagi yang beroperasi. Pertama, smelter grade alumina di Ketapang, Kalimantan Tengah oleh Well Harvest Winning dengan kapasitas produksi alumina 1 juta ton per tahun. Nilai investasi smelter ini yakni US$ 1,1 miliar. Kedua, smelter logam timbal di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah oleh Kapuas Prima Citra dengan kapasitas hasil 18 ribu ton per tahun. Proyek ini memiliki nilai investasi US$ 6,22 juta.

"Untuk smelter yang di Ketapang, saat ini sudah mulai produksi, sudah soft opening," ujar Sujatmiko.

Selanjutnya smelter lain yang akan operasi adalah smelter bijih besi di Sebuku, Kalimantan Selatan oleh SILO dengan kapasitas produksi 1,7 juta ton per tahun. Investasi dari proyek ini mencapai US$ 170 juta. Terakhir, smelter ferronikel di Halmahera Tengah, Maluku oleh First Pacific mining dengan kapasitas 30 ribu ton per tahun. Proyek ini memiliki nilai investasi US$ 200 juta.

Ketua Indonesian Smelter and Processing Association (ISPA) R Sukhyar menilai, progres pembangunan smelter ini sudah cukup bagus. Pasalnya, pemerintah baru mulai secara serius mengawasi pembangunan smelter pada dua tahun lalu.

"Artinya praktis selama dua tahun ini tambahan smeltemyz luar biasa. Sangat bagus (progresnya)," tuturnya.

Apalagi, tambah dia, pembangunan smelter, itu terjadi dalam kondisi yang masih banyak hambatan. Para investor disebutnya masih mau membangun smelter meski terdapat keterbatasan infrakturtur dan minimnya pasokan listrik. Hal ini membuat investor haru mengucurkan dana yang lebih besar. Selain itu, investor juga masih berhadapan pada banyaknya perizinan yang harus dipenuhi dalam membangun smelter.

"Saya dapat info bahwa ada 151 perizinan yang harus dipenuhi. Tetapi dengan kondisi seperti ini, (pembangunan smelter) masih berjalan," jelas Sukhyar.

Karenanya, Sukhyar mendesak pemerintah untuk tetap konsisten menjalankan larangan ekspor konsentrat mineral mulai 2017. Pasalnya, jika tidak ada larangan, maka akan mematikan investasi di smelter. Selain itu, konsistensi ini diperlukan guna menjaga kepercayaan investor terhadap pemerintah.

"Pemerintah akan ditertawa-kan kalau berubah-ubah, dan orang tidak akan percaya lagi pada pemerintah," tegas dia.

Pelarangan ekspor konsentrat mineral ini, ditegaskannya juga harus berlaku bagi PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara. Jika kedua perusahaan merasa berat membangun smelter, saran Sukhyar, sebaiknya proyek tersebut diberikan kepada perusahaan swasta lain. Pasalnya, investasi yang dibutuhkan untuk membangun smelter Tembaga ini memang cukup besar.

 Sumber : Investor Daily, 17 Juni 2016

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 13 Juli 2016 09:41 )
 

GOLD, COPPER PRICE JUMPS SPARK MAJOR MINING STOCKS RALLY

Surel Cetak PDF

Frik Els

A RESURGENT copper price saw investors returning to the biggest names in mining on Wednesday with the world's top listed producer of the red metal leading the charge.

 

In mid-day New York trade on Wednesday copper for delivery in July jumped 3.8% exchanging hands for $2.1190 a pound ($4,672 a tonne) as it recovers from four-month lows hit last week. Copper is now also back to breakeven for the year although it's still underperforming almost all other commodities in 2016.

 

The gold price touched the $1,300-mark for the first time since the beginning of May following a dovish Federal Reserve statement on interest rates that sent the dollar lower. The metal is now trading 22.6% or $240 an ounce for the better this year.

 

Iron ore declined but held above $50 a tonne on Wednesday according to data from The SteelIndex. The iron ore price is up 17% this year defying expectations of a steep decline amid weak fundamentals.

 

Freeport-McMoRan (NYSE:FCX), which vies with Chile's state-owned Codelco as the world's number one copper miner in terms of output, was the best performer on the day, rocketing 9.5%.

 

Volumes were huge with more than 40 million shares changing hands by lunchtime  making it the second most actively traded stock on the New York Stock Exchange. The Phoenix-based company is  now worth $13.7 billion after rising 65.4% since the start of the year.

 

Shares in world number one BHP Billiton (NYSE:BHP) also made strides in New York, gaining 4.1%. The $68 billion Melbourne-based company hit near decade lows last year following a catastrophic dam burst at its Samarco iron ore operations  in Brazil it jointly owns with Vale.

 

Shares in Vale (NYSE:VALE.P), the world's top iron ore producer, traded 5.2% higher in New York bringing its gains in 2016 to 38% and its market capitalization back above the $20 billion mark.

 

A Brazilian judge yesterday dismissed a $5.8  billion lawsuit for damages against the two companies although a much larger civil action brought by prosecutors is still being considered. In March Vale and BHP reached a deal with Brazilian authorities agreeing to pay roughly $6.2 billion spread out over several years.

 

The world's second largest miner based on revenue Rio Tinto (NYSE:RIO) added 4.5% in New York for a market cap of $51.5 billion. The Melbourne-HQed firm held up well in 2015 when others in the sector were falling to multi-year lows, but has not participated in this years rally. The counter is down 2% year to date while other like world number five diversified mining company Anglo-American has doubled in value in 2016.

 

Anglo American (LON:AAL, OTCMKTS:NGLOY) shares surged 5.8% in New York hitting a market value of $12 billion. In January the company with roots going back to the gold and diamond fields of South Africa more than a hundred years ago was worth a mere $2.2 billion. Anglo announced a radical restructuring program earlier this month that would see it cut some 85,000 jobs over the next few years as it reduces the number of mines it operates from 55 to the low 20s.

 

Glencore (LON:GLEN) over the counter stock in New York advanced 6%, building on earlier gains in London. The $26 billion Swiss mining and trading giant is recovering from record lows hit last year as it executes on a radical cost and debt reduction program that includes idling mines, asset divestments, stake sales, capex cuts and streaming deals.

Barrick Gold Corp (NYSE:ABX, TSE:ABX), which produced 6.1 million ounces of gold in 2015,  was up 3.4% with more than 15 million shares changing hands in early afternoon dealings pushing the shares to 2-year high.

After falling to its its lowest since 1989 in September last year, today's advance brings the world's top producer of the metal's gains since the start of the year to an astonishing 177%. At a market value of $23.4 billion in New York, the Toronto-based company is the most valuable gold mining company in the world.

World number two in terms of production Newmont Mining Corp (NYSE:NEM) climbed 3.6% in afternoon trade. Denver-based Newmont, the only gold company that forms part of the S&P500 index, is also having a monster 2016, doubling since the beginning of the year.

While others are disposing of mines, Newmont is building its portfolio and last year acquired the Cripple Creek & Victor gold mine in Colorado. Newmont also has five key projects that are in execution stage including the Turf Vent project in Nevada and Merian mine in South America expected to start production late in 2016.

American Depository Receipts of AngloGold Ashanti (NYSE:AU), the world's third largest gold producer in terms of output, added 4.7% for a market value of $6.9 billion on the NYSE. AngloGold Ashanti is up 136% since the start of the year and trading at its highest since August 2014.

Goldcorp (TSE:G, NYSE:GG) climbed 2.8%  for market capitalization of $14.8 billion in New York. The year-to-date increase for the Vancouver-based firm which recently saw a top management overhauls is more modest than its peers at 58%. Goldcorp recently lowered its production forecast for to 2.8 – 3.1 million ounces from 2016 to 2018 from about 3.5 million ounces in 2015 driven by production declines at older mines.

Source : MINING.com, June 16, 2016

 


Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 13 Juli 2016 09:28 )
 

ALUMINIUM BERTAHAN SAAT PASAR KOMODITAS JATUH

Surel Cetak PDF

HARGA aluminium mampu bertahan di tengah kejatuhan harga komoditas akibat perlambatan ekonomi global. Meski demikian, harga aluminium sepekan ke depan masih terancam turun.

Mengutip Bloomberg, Rabu (15/6) pukul 14.16 WIB, harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menguat tipis 0,09% ke level US$ 1.611,5 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir aluminium naik 0,47%.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, pasar komoditas saat ini sedang dilanda kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Kekhawatiran investor semakin besar lantaran Inggris berpotensi keluar dari Uni Eropa. Hal ini menyusul beberapa polling terakhir yang menunjukkan sebagian besar warga Inggris ingin keluar dari Uni Eropa. "Jika terjadi Brexit, maka transaksi di LME akan turut terkena dampaknya," papar Ibrahim.

Harga aluminium bisa bertahan dari tekanan lantaran enam produsen aluminium di China setuju untuk memangkas produksi jika harga jatuh ke angka 11.500 yuan atau US$ 1.743 per metrik.

Di samping itu, data industrial production China bulan Mei yang stabil di level 6% dianggap positif bagi aluminium.

Namun demikian, Ibrahim menduga isu Brexit dapat membebani pergerakan aluminium dalam jangka pendek, apalagi mendekati referendum tanggal 23 Juni mendatang.

Sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi aluminium dapat melemah di kisaran US$ 1.589 - US$ 1.670,2 per metrik ton. Wuwun Nafsiah

Sumber : Kontan.co.id, 16 Juni 2016

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 13 Juli 2016 09:23 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL