Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Saham Milik Pemerintah di Freeport Beralih ke Holding

Surel Cetak PDF

By Pratama Guitarra

JAKARTA - Pemerintah berencana mengalihkan 9,36% saham miliknya di PT Freeport mdonesia ke holding Pertambangan. Holding ini dikomandani oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Anggota holding adalah PT Bukit Asam Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah Tbk.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono bercerita, Selasa (15/11), Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menyambangi kantor Dirjen Minerba. Mereka membahas skema peralihan divestasi saham tersebut. "Kementerian BUMN menanyakan bagaimana proses dan persyaratan. Itu saja," terang Bambang, di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (16/11).

Hanya saja, Bambang belum bisa mendetailkan skema peralihan saham tersebut. Tapi yang jelas, tata cara peralihan itu sesuai ketentuan yang berlaku. "Seperti proses biasa saja, transfer saham, itu biasa, kan," ujar Bambang.

Sedangkan terkait divestasi saham Freeport sebesar 10,64%, belum tentu holding Pertambangan yang mendapatkannya. "Kalau soal divestasi saham Freeport ditentukan oleh pemerintah saja. Tapi tetap menjadi prioritas, holding mendapatkan divestasi yang 10,64% tersebut," ungkap Direktur Utama Inalum Winardi Sunoto.

Freeport sendiri sudah menetapkan harga divestasi 10,64% sebesar USS 1,7 miliar. Tapi, pemerintah menawar harga itu turun menjadi USS 630 juta. Saat ini pihak Kementerian ESDM dan manajemen Freeport masih bernegosiasi soal harga. "Dana kami siap," ungkap Winardi.

 Sumber : Kontan, 17 November 2016

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 22 November 2016 09:53 )
 

Petrosea Dapat Kontrak Jasa Tambang Rp 1,5 T

Surel Cetak PDF

PT Petrosea Tbk. (PTRO) menandatangani kontrak jasa Pertambangan dengan PT Kimco Armindo dengan nilai kontrak Rp 1,57 triliun. Pendapatan perseroan ditargetkan naik.

Berdasarkan keterbukaan informasi, perseroan mengumumkan pada 11 November 2016 perseroan telah menandatangani perjanjian jasa Pertambangan pemindahan tanah penutup dengan PT Kimco Armindo. Kerja sama tidak memiliki hubungan afiliasi.

Adapun, nilai kontrak sebesar Rp 1,57 triliun di mana perolehan kontrak tersebut diharapkan bisa menambah pendapatan perusahaan. Jangka waktu kontrak kerja sama adalah tiga tahun.

"Dampak kerja sama ini adalah bertambahnya pendapatan Keuangan perusahaan dan bertambahnya ruang lingkup pekerjaan." kata Direktur Petrosea Johanes Ispumawan.

Sebelumnya, emiten jasa konstruksi ini juga menandatangani kontrak kerja sama jasa umum dengan Conoco Phillips (Grissik) Ltd dengan total nilai transaksi Rp 40,2 miliar. Adapun, jangka waktu kontrak adalah 33 minggu.

Kerja sama ini juga berdampak pada pendapatan perseroan. Tahun ini, PT Petrosea Tbk. (PTRO) juga memangkas belanja modal seiring melemahnya harga komoditas. Perseroan menyiapkan belanja modal (capital expendi- mre/Capex) pada tahun ini di bawah 65 juta dolar AS.

Dia mengungkapkan, anggaran belanja modal tahun ini bakal digunakan untuk membiayai kontrak-kontrak baru dengan PT Indoasia Cemerlang, PT Maruwai Coal, PT Indonesia Bulk Terminal, dan PT Freeport Indonesia.

Emiten berkode saham PTRO tersebut juga memerkirakan pendapatan tahun ini bakal sama dengan perolehan pada periode 2015. Tahun lalu, pendapatan perseroan merosot 40.6 persen menjadi 206,8 juta dolar AS dari sebelumnya 3475 juta dolar AS.

Sepanjang tahun lalu. Petrosea mencatatkan kinerja yang terbilang kusam. Perseroan harus mendulang rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai 12,47 juta dolar AS dibandingkan periode sebelumnya yang masih laba 2,07 juta dolar AS.

 Sumber : Rakyat Merdeka, 16 November 2016

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 22 November 2016 09:47 )
 

Relaksasi Ekspor Sesuai Progres Proyek Smelter

Surel Cetak PDF

By Pratama Guitarra

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum memutuskan jenis mineral mentah apa saja yang bakal mendapat kelonggaran ekspor. Pasalnya, setiap komoditas memiliki karakteristik yang berbeda-beda

Maka dari itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ari-yono menyatakan, akan memberikan perlakuan yang berbeda pula terhadap masing-masing komoditas. "Treatment masing-masing komoditas mineral berbeda, maka akan ada insentif yang berbeda. Kami juga belum memutuskan mana yang diberikan insentif, masih kami kaji," katanya kepada KONTAN, Selasa (15/11).

Treatment yang berbeda itu, dilihat juga dari progres pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter). Jadi melihat dari berapa jumlah smelter yang dibutuhkan di dalam negeri, sekaligus besar bea keluar yang akan diterapkan. "Usulan besaran bea keluar masih kami kaji, kalau diberikan insentif yang pasti akan ada bea keluar dilihat dari pembangunan smelter," terangnya.

Namun sayang, Bambang masih enggan memberikan bocoran terkait tahu payung hukum yang akan terbit untuk mendukung rencana relaksasi ekspor mineral mentah pada bulan Januari 2017 nanti. Tapi yang jelas, kata Bambang, payung hukum tersebut tidak akan bertentangan dengan Undang-Undanng Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Mineral dan Batubara (Minerba). "Tentu kami mencari jalan keluarnya,. Kalau Perppu sedikit bersinggungan dengan politik," tegas Bambang.

 Sumber : Kontan, 16 November 2016

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 22 November 2016 09:21 )
 

Tembaga Melonjak Tajam

Surel Cetak PDF

JAKARTA - Harga tembaga mengalami reli setelah pernyataan Donald Trump yang akan menggenjot sektor infrastruktur sehingga meningkatkan proyeksi naiknya permintaan. Namun, lonjakan yang terlalu tajam dalam waktu singkat diprediksi bakal rentan terkoreksi.

Pada perdagangan Senin (14/11) pukul 1730 WIB harga tembaga di bursa Comex untuk kontrak Desember 2016 naik 4 poin atau 1,59% menjadi US$254,9 per pon. Ini menunjukkan harga sudah meningkat 18,19% sepanjang tahun berjalan.

Adapun harga tembaga di London Metal Exchange (LME) menurun 52 poin atau 0,93% menuju US$5,549 per ton pada penutupan perdagangan Jumat (11/11). Sebelumnya, harga mengalami reli kencang sekitar 12,22% sejak 4 November 2016.

Goldman Sachs Group Inc. dalam risetnya, Senin (14/11), menyampaikan logam tembaga melonjak setelah Donald Trump Presiden AS yang baru terpilih mencanangkan belanja infrastruktur untuk memacu perekonomian. Namun, reaksi pasar terlalu berlebihan karena harga dapat kembali meluncur. ,

Trump menyatakan akan menghabiskan dana sebanyak US$1 triliun untuk pembangunan infrastruktur dalam satu dekade. Pernyataan ini membuat pasar berbondong-bondong melakukan aksi beli terhadap logam industri.

Meskipun demikian, investor sempat beralih karena dolar terus meningkat di tengah spekulasi. Pasar masih menunggu kebijakan-kebijakan Trump di bidang moneter yang memengaruhi perekonomian.

"Reli pasca pemilu AS pada bijih besi dan tembaga tampaknya terlalu berlebihan terhadap pernyataan Trump," papar riset, Senin (14/11).

Jia Zheng, analis Shanghai Ming-hong Investment Management Co., mengatakan volatilitas pasar tembaga yang sebesar ini sangat langka. Namun, harga akan stabil dalam waktu dekat.

"Dengan kebijakan membatasi dari regulator, harga mungkin turun sedikit. Tapi kini pasar sangat memanas," ujarnya.

National Bank of Abu Dhabi menambahkan, reli tembaga terjadi seiring dengan pernyataan Trump untuk memacu infrastruktur. Salah satunya infrastruktur tersebut ialah jaringan transportasi dengan investasi US$550 miliar.

Sementara itu. Standard Chartered Bank dalam publikasi risetnya menyampaikan, pasar tembaga di China tampak lebih ketat pada kuartal IV/2016. Pada akhir Oktober, stok di Shanghai Future Exchange (SHFE) jatuh ke level terendah dalam 12 bulan terakhir, yakni 600.000 ton.

Namun, tren pengetatan pasar tembaga di China tidak menjadikan harga mengalami tren bullish. Setidaknya ada tiga alasan yang mendasarinya.

Pertama, posisi investor tembaga saat ini mayoritas bersikap netral, bahkan sedikit mengarah ke investasi jangka pendek. Ini menjadi alasan kekuatan harga tidak bertahan lama.

Kedua, prospek pasokan secara fundamental. Pada kuartal 1/2017 surplus tembaga olahan di pasar global dapat mencapai 270.000 ton, karena proses penyetokan kembali sudah dimulai sejak kuartal IV/2016.

Ketiga, pasar konsentrat juga dilanda surplus dan memicu pertumbuhan pasokan tembaga olahan di China ke level tertinggi dalam dua tahun. Sampai pasar diperketat kembali, yang diperkirakan mulai pertengahan 2017, harga masih sulit meningkat signifikan.

"Dalam kondisi seperti ini, harga tembaga cenderung mengalami stagnasi dibandingkan untuk mendaki," papar riset.

Standard Chartered memprediksi pada kuartal IV/2016 harga bisa mencapai rerata US$5,150 per ton. Adapun rerata harga sepanjang 2016 ialah US$4,850 per ton.

Bank Dunia dalam laporan bertajuk Commodity Markets Outlook Oktober 2016, memaparkan harga logam bakal menurun 9% yoy karena berlebihnya suplai di pasar.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 15 November 2016

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 22 November 2016 09:18 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL