Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

PENYERAPAN BATU BARA DALAM NEGERI NAIK SIGNIFIKAN

Surel Cetak PDF

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan penye-rapan batu bara dalam negeri (domestic market obligation) meningkat 34,54 persen untuk periode Januari-April 2016. Tercatat konsumsi batu bara empat bulan pertama tahun ini mencapai 24,54 juta ton. Lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekitar 18,24 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan tingginya penyerapan batu bara di dalam negeri itu seiring terciptanya pasar di dalam negeri. Pasar yang dimaksud ialah mega proyek ketenaga-listrikan nasional 35.000 megawatt (MW).

"DMO batu bara tahun ini lebih baik karena proyek 35.000 MW," kata Bambang di Jakarta, Senin (13/6).

Bambang menuturkan, mega proyek 35.000 MW mayoritas menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Pasalnya, dari total kapasitas 35.000 MW itu sekitar 25.000 MW di antaranya berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Adapun kebutuhan batu bara tersebut mencapai 100 juta ton.

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko menambahkan, penyerapan batu bara Januari hingga April 2016 itu berdasarkan data produksi pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

"Seharusnya data produksi lengkap antara PKP2B dan IUP (Izin Usaha Pertambangan). Kami masih koordinasi dengan pemda terkait data produksi IUP," ujarnya.

Sujatmiko membeberkan produksi PKP2B Januari-April 2016 mencapai 86,63 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah dari produksi periode yang sama tahun lalu yang sebesar 96,77 juta ton. Berkurangnya produksi itu antara lain disebabkan oleh tren melemahnya harga batu bara yang saat ini berada di level US$ 50 per ton.

Dikatakannya, meningkatnya penyerapan DMO membuat volume ekspor batu bara menurun pada tahun ini. Tercatat ekspor periode Januari-April 2016 mencapai 68,09 juta ton. Padahal, jumlah ekspor diperiode yang sama tahun lalu sebesar 79,44 juta ton.

"Ekspor batu bara turun sekitar 14,29 persen," jelasnya. Rangga Prakoso/PCN

Sumber : Investor Daily, 13 Juni 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 16 Juni 2016 06:39 )
 

AUSTRALIA'S LARGEST COCKATOO THREATENED BY BAUXITE MINING

Surel Cetak PDF

By Michael Slezak

AUSTRALIA’S spectacular palm cockatoo is being put at risk by proposed bauxite mines, conservationists have said.

The Cape York palm cockatoo, Australia’s largest cockatoo, is listed as vulnerable under Australia’s federal environment laws. About 3,000 mature birds are thought to exist, and their numbers are declining.

It is considered a distinct subspecies of the palm cockatoo, which includes another subspecies found in Papua New Guinea.

 

One of the key threats facing the bird is loss of habitat from mining bauxite to make aluminium, according to advice given to the environment minister, Greg Hunt, in 2015 by the government’s independent threatened species scientific committee.

 

The advice recommended that Hunt “ensure impacts from mining activity do not further reduce the amount of available breeding and foraging habitat”. Despite that, it found 85% of the palm cockatoo’s woodland habitats were covered by mining or exploration leases.

 

Under current environmental laws, the cumulative impact of mining could be considered, but to do so a regional strategic assessment needed to be conducted, which was rarely done. And under the Coalition government, those laws were being weakened as part of a policy to cut “green tape”, and devolve approval powers under federal laws to state governments.

 

Australia is the largest producer of aluminium, and prices have increased as demand from China rises. Australia’s biggest aluminium resources lie in Weipa in Queensland, in key palm cockatoo habitat.

 

Andrew Picone, from the Australian Conservation Foundation, said the palm cockatoo was an example of why a new set of stronger federal environmental laws were needed, which routinely considered cumulative impacts.

 

He said although each individual proposed mine might have an insignificant impact on the overall population, the cumulative impact would be huge. And with the price of aluminium ore increasing, the threat could increase.

 

“The fact that it’s already listed under the EPBC act, that in all likelihood, unless we change the threats, it is going to go to extinct,” said Picone.

 

“[Australian Conservation Foundation] is calling for a new generation of stronger national environmental laws – ones that can give strength to the identification of critical habitat and ensure that that information then informs planning decisions and resource use so that we can protect the key areas that are essential for these species.”

 

Labor has said if elected it would retain federal oversight of national laws, and the Greens have pledged stronger laws and the establishment of an independent federal Environment Protection Agency.¨

Source : theguardian, June 10, 2016


Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 14 Juni 2016 08:41 )
 

HARGA SENG TEMBUS US$2.050

Surel Cetak PDF

Hafiyyan

HARGA seng menembus level tertinggi sepanjang 11 bulan dan memimpin kenaikan logam industri lainnya seiring dengan peningkatan prospek kinerja perdagangan China dan stimulus yang diberikan Bank Sentral Eropa.

Pada penutupan perdagangan Rabu (8/6) harga seng di London Metal Exchange (LME) naik 59,25 poin atau 2,97% menjadi US$2.057 per ton. Angka ini menjadi level tertinggi baru pada 2016 dan menunjuk-kan sepanjang tahun berjalan sudah menghijau sejumlah 30,32%.

 

Seng menjadi produk terbaik di antara enam logam utama di London Metal Exchange (LME) seiring dengan pemotongan produksi dan jatuhnya persediaan ke level terendah sejak 2009.

 

Commerzbank AG dalam publikasi risetnya menyampaikan, data impor China yang meningkat pada bulan lalu memberikan sentimen positif terhadap bahan baku. Tahun lalu, harga komoditas terjatuh setelah konsumen komoditas terbesar di dunia itu mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

 

Di sisi lain, European Central Bank (ECB) masuk ke dalam pasar obligasi korporasi dan membeli utang dari sejumlah perusahaan besar di Eropa. Hal itu bertujuan merangsang kegiatan ekonomi regional.

 

Angus Nicholson, Market Analyst IG ltd., menyampaikan data terbaru China mem-berikan dorongan bagi peningkatan sejumlah harga logam. "Fakta ini mengindikasikan permintaan terhadap logam kembali bangkit," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (9/6/2016).

 

Harga logam juga pulih akibat ekspektasi Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga berkurang, setelah rilis data pekerja pekan lalu yang kurang memuaskan. Indeks dolar merosot 2,7% sepanjang Juni dan menjadi level terendah sejak bulan lalu, sehingga meningkatkan harga komoditas yang menggunakan mata uang tersebut.

Ric Spooner, Chieft Analyst CMC Markets, menuturkan melemahnya dolar memicu aksi jual dari investor dan beralih meningkatkan pasar lainnya. "Dalam jangka pendek, sentimen ini mendukung harga logam," katanya.¨

Sumber : Bisnis.com, 10 Juni 2016

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 14 Juni 2016 08:38 )
 

AKHIR PEKAN, HARGA EMAS NAIK

Surel Cetak PDF

EMAS berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir naik pada Kamis (Jumat pagi WIB), setelah pasar ekuitas Amerika Serikat melemah.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Agustus bertambah USD10,40 atau 0,82 persen, menjadi menetap di USD1.272,70 per ounce.

Emas mendapat dukungan karena Dow Jones Industrial Average AS turun 26 poin atau 0,15 persen pada pukul 19.20 GMT. Analis mencatat bahwa ketika ekuitas mencatat kerugian maka logam mulia biasanya naik, karena investor mencari tempat yang aman. Sebaliknya, ketika ekuitas AS membukukan keuntungan, logam mulia biasanya turun.

Sementara itu, sebuah laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis memberikan tekanan pada logam mulia, karena klaim pengangguran mingguan turun 4.000 ke level 264,000. Para analis mencatat bahwa angka klaim pengangguran ini lebih baik dari yang diharapkan.

Namun, logam mulia dicegah dari kenaikan lebih lanjut ketika indeks dolar AS menguat 0,44 persen menjadi 93,96, pada pukul 19.20 GMT.

Perak untuk pengiriman Juli bertambah 28,30 sen, atau 1,67 persen, menjadi ditutup pada USD17,268 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun USD8,20 atau 0,81 persen menjadi ditutup pada USD1.003,80 per ounce. (dni)

Sumber : Okezone.com, 10 Juni 2016

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 14 Juni 2016 08:21 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL