Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

ESDM Evaluasi Seluruh Peraturan

Surel Cetak PDF

JAKARTA - Berakhirnya masa ekspor mineral olahan atau konsentrat pada Januari 2017 dijadikan momentum oleh Kementerian ESDM untuk mengevaluasi seluruh peraturan di sektor pertambangan mineral dan batu bara.

Pelaksana Tugas (Pit) Menteri ESDM Luhut Binsar Panjaitan menilai akan meninjau kembali peraturan mana saja yang perlu direvisi, mulai dari Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara hingga berbagai peraturan turunannya.

"Kita melihat apakah ini [UU Minerba) harus direvisi, tapi kan urusannya di DPR. Sekarang kita lihat peraturan [turunan] mana saja yang harus direvisi," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia belum mengungkapkan peraturan mana saja yang saat ini menjadi perhatian pemerintah.

Namun, belakangan ini wacana relaksasi ekspor konsentrat mineral kian menguat. Sebelumnya, Luhut menyebut jangka waktu perpanjangan relaksasi ekspor mineral hasil olahan atau konsentrat dipertimbangkan selama tiga sampai lima tahun. Hal itu akan tergantung pada kesiapan masing-masing komoditas.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan apabila revisi UU Minerba selesai, maka seluruh peraturan turunannya akan menyesuaikan.

Oleh karena itu, dia menilai percepatan pembahasan UU Mineba menjadi opsi terbaik saat ini.

"Kalau UU berubah, otomatis peraturan berubah. Tapi revisi UU Minerba kan bukan target pemerintah, itu inisiatif DPR. Kita berharap cepat," Ujarnya.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 13 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:11 )
 

Berharap Tuah Emas Newmont

Surel Cetak PDF

Kelamnya harga minyak mentah dunia membuat kinerja emiten Migas tertekan. Pun begitu dengan PT Medco Energi Internasional Tbk. yang berharap dari keuntungan produksi emas setelah mencaplok PT Newmont Nusa Tenggara.

Kisah terpuruknya harga minyak mentah mulai sedikit terobati. Harga minyak mentah sedikit

menguat menyusul pembicaraan antara Rusia dan Arab Saudi soal usaha stabilisasi pasar minyak, dan tidak membahas pembekuan output.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober turun 1,9% ke level USS4S.01 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan kemarin hingga pukul 17.16 WIB.

Sementara itu, harga Brent untuk pengiriman November turun 1,75% ke posisi US$47,17 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Meski mulai pulih, analis PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan, menuturkan nyaris seluruh emiten migas di dunia tengah tertekan oleh jebloknya harga minyak mentan. Outlook harga minyak mentah dunia secara global masih tertekan.

"Minyak tidak seperti batu bara, meski secara global outlook batu bara tertekan, tapi dapat ditopang oleh domestik. Kalau minyak, demand domestik tidak besar," ujarnya, Selasa (6/9).

Pangsa pasar ekspor emiten migas yang terbilang besar, membuat kinerja Medco sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia. Tidak ada yang dapat memprediksi waktu pulihnya harga minyak mentah kembali ke masa jayanya.

Terus tertekannya harga minyak mentah dunia, tentu berdampak pada aktivitas penggalangan dana perseroan. Saat Medco Energi yang dimiliki oleh Arifin Panigoro menerbitkan surat utang, investor hanya menyerap 83% obligasi senilai Rpl,25 triliun.

Tidak hanya outlook harga minyak mentah dunia, investor masih wait and see sehingga tak terlampau agresif dalam menyerap surat utang Medco. Upaya Medco untuk mendiversifikasi Uni usaha dengan mengakuisisi Newmont, juga diapresiasi pelaku pasar.

Alfred menilai, strategi bisnis emiten bersandi saham MEDC itu tepat. Diversifikasi portofolio pertambangan Medco dengan merambah tambang logam emas, membuat masa depan perseroan kian cerah.

Langkah itu dinilai patut diapresiasi. Medco melakukan diversifikasi risiko terutama akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia, menjadi penambang emas yang lebih stabil.

Kendati harga tambang logam kini belum menggairahkan, strategi yang ditempuh Medco perlu dilihat dalam jangka panjang. Prediksinya, dalam 3 tahun-5 tahun mendatang, Medco dapat memanen booming-nya harga tambang logam.

"Strategi akuisisi Newmont sekarang itu tepat, karena Medco dapat harganya murah. Sekarang, perusahan migas pasti ingin menjual murah," tuturnya.

Medco Energi memang telah mengakuisisi seluruh saham NNT senilai US$2,6 miliar dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Akuisisi dilakukan Medco terhadap PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% saham NNT senilai US$2,6 miliar. AMI membeli NNT dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Medco dan AP Investment yang digawangi bankir kenamaan Agus Projosasmito, bekerja sama mengakuisisi saham di AMI dengan dukungan dari tiga bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Dari sisi keuangan, lanjut Alfred, Medco dapat melakukan refinancing pinjaman yang segera jatuh tempo tahun ini. Saat ini, tren suku bunga yang terus turun di pasar domestik dan global, menjadikan waktu yang tepat untuk melakukan restrukturisasi utang.

Jika ditelisik dalam laporan keuangan yang telah diaudit, total utang Medco membengkak 33,26% menjadi US$1,58 miliar dari USS1.18 miliar. Medco juga belum merilis laporan keuangan pada semester 1/2016.

Membengkaknya total utang perseroan terjadi lantaran pinjaman perbankan jangka panjang setelah dikurangi dengan biaya jatuh tempo dalam satu tahun meroket tajam. Pada periode 2015, utang itu melesat 66,75% menjadi US$908,21 juta dari tahun sebelumnya US$544,66 juta.

Posisi total utang terhadap ekuitas Medco Energi hingga akhir tahun lalu mencapai 2,25 kali. Total utang bank MEDC per 31 Desember 2015 mencapai USS 1,08 miliar yang terdiri dari jatuh tempo tahun ini US$179,5 juta dan jangka panjang US$908,21 juta.

Dua kreditor terbesar Medco Energi adalah Bank- Mandiri USS590 juta, pinjaman sindikasi dari Standard Chartered Bank, PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank DBS Indonesia, Bank Mandiri, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation USS200 juta.

Dari laporan keuangan perseroan per kuartal 1/2016, total utang jangka pendek dari pebankan dan obligasi mencapai US$349,71 juta.

Sementara itu, utang jangka panjang yang terdiri dari pinjaman bank, obligasi rupiah, obligasi dolar AS, obligasi dolar Singapura, dan wesel jangka menengah, seluruhnya mencapai US$1,25 miliar.

"Medco bisa menerbitkan obligasi dengan bunga yang lebih rendah, optimalisasi aset. Pinjaman perbankan agak sulit karena rasio kredit bermasalah perusahaan tambang sedang tinggi," kata dia.

Tidak hanya aksi-aksi penggalangan dana tersebut, Medco juga dapat menggelar penerbitan saham baru baik dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), maupun non-HMETD. Aksi rights issue dinilai sebagai pelengkap untuk memperlebar leverage perseroan.

Pada kesempatan terpisah, analis pasar modal Kiswoyo Adi Joe, menilai refinancing utang dapat menjadi pilihan agar beban bunga tidak membengkak dan menekan kinerja keuangan. Emisi obligasi dan pinjaman perbankan dapat menjadi pilihan yang ditempuh Medco dan emiten migas lainnya.

Bagi Kiswoyo, emisi obligasi lebih baik dipilih korporasi lantaran kupon bunga yang ditawarkan lebih rendah dari utang perbankan. Namun, pembayaran bunga obligasi harus langsung dilakukan meski dana yang dikantongi belum dipergunakan.

Tantangan terbesar bagi Medco adalah harga minyak mentah yang masih murah. Ekspansi yang dapat dilakukan oleh Medco sebaiknya berkaitan dengan sektor pertambangan.

"Akuisisi Newmont belum kelihatan, harus menunggu kinerja setahun baru tampak," tuturnya.

Dia memperkirakan, akuisisi Newmont dapat menyokong kinerja Medco pada periode mendatang. Emiten migas disarankan untuk tidak melakukan diversifikasi usaha saat ini lantaran kinerja masih sangat tertekan.

EMISI OBLIGASI

Sementara itu, Medco Energi tengah menerbitkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) II tahap II dengan target perolehan dana Rpl,5 triliun yang ditangani oleh PT Mandiri Sekuritas. Obligasi II Medco seluruhnya bernilai Rp5 triliun dengan tahap I mengantongi Rpl,25 triliun.

Direktur Utama Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengatakan selain emisi obligasi, perseroan juga menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) I mencapai 1,3 miliar saham. Perseroan menurunkan target perolehan dana rights issue dari Rp4,65 triliun menjadi Rpl,94 triliun.

"Dana hasil rights issue akan digunakan untuk akuisisi dan refinancing," katanya ketika dihubungi Bisnis.

Adik Arifin Panigoro itu menuturkan perseroan tengah merancang investasi hingga US$500 juta untuk membangun pabrik pemurnian tembaga atau smelter Newmont.

Investasi pembangunan smelter untuk Newmont menjadi salah satu opsi yang tengah dikaji perseroan. Tidak hanya membangun smelter sendiri, Newmont juga mengkaji untuk bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia.

Diperkirakan, tembaga dan emas yang dihasilkan Newmont dapat berkontribusi sekitar 30%-50% terhadap total pendapatan perseroan di masa depan.

Memang, tidak hanya sejumlah aksi korporasi yang tengah dirancang oleh Medco Energi. Terakhir kali, Medco melakukan optimalisasi aset dengan menjual hak partisipasi di ladang minyak lepas pantai Pulau Bawean.

Medco melepas 100% hak partisipasi di PSC Bawean dengan penjualan saham di Camar Resources Canada Inc. (CRC) dan Camar Bawean Petroleum Ltd., (CBPL).

Roberto Lorato, Chief Executive Officer Medco, mengatakan penjualan hak partisipasi dilakukan melalui anak perusahaan Medco Bawean (Holding) Pte. Ltd. Medco Bawean meneken perjanjian jual beli dengan Hyoil (Bawean) Pte., Ltd., pada 1 September 2016.

"Perseroan melepaskan 100% hak partisipasi di PSC Bawean melalui penjualan saham CRC dan CBPL," katanya.

PSC Bawean merupakan aset penghasil minyak lepas pan- taj yang terletak di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Produksi PSC Bawean pada paruh pertama tahun ini mencapai 670 bpod.

Perseroan telah mengoperasikan PSC Bawean sejak 2004 melalui kepemilikan di CRC. Masa kontrak PSC Bawean akan berakhir pada 2031 sesuai perpanjangan kontrak 20 tahun yang telah diberikan pemerintah Indonesia pada 2010.

"Divestasi ini sejalan dengan rencana kami untuk merasionalisasikan portofolio perseroan agar tetap fokus pada aset yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi," tuturnya.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 13 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:09 )
 

Antam Siap Jalan Sendiri

Surel Cetak PDF

By Lucky l Leatemia

JAKARTA - PT Antam (Persero) Tbk. siap membangun sendiri fasilitas pengolahan lumpur anoda menjadi logam berharga atau precious metal refinery apabila kerja sama dengan PT Freeport Indonesia tidak dilanjutkan.

Direktur Utama Antam Tedy Badrujaman mengatakan, perseroan tambang tersebut memiliki kemampuan finansial dan operasional dalam membangun pabrik pengolahan minera) tersebut. Namun, hal tersebut tergantung sikap Freeport Indonesia atas kerja sama yang masih berlangsung.

"Kami masih ada kerja sama dengan Freeport, tetapi di Freeport ini masih menunggu isu perpanjangan [operasi]," katanya, Rabu (7/8).

Dia menjelaskan, awalnya Antam akan membangun pengolahan anoda dengan kapasitas 2.000 ton lumpur anoda per tahun di lokasi unit bisnisnya di Pulo Gadung, Jakarta.

Freeport juga berencana untuk membuat fasilitas yang sama sehingga dua perusahaan tersebut sepakat bekerja sama untuk membangun pabrik pengolahan anoda berkapasitas 6.000 ton per tahun. Lokasinya berada di Gresik, dekat dengan fasilitas pemurnian tembaga milik PT Smelting yang telah beroperasi.

Smelting juga ikut dalam kerja sama tersebut sebagai pemasok anoda slime sebagai produk sampingan pemurnian konsentrat tembaga.

"Kalau kami harus jalan sendiri, kami sebenarnya siap bangun di Pulo Gadung. Dana juga sudah siap karena tidak terlalu mahal," tuturnya.

Direktur Pengembangan Antam Johan Nababan mengungkapkan, nilai investasi precious metal refinery (PMR) tersebut sekitar US$40 juta. Namun, tahap kerja sama antara Antam, Freeport Indonesia, dan Smelting belum sampai membicarakan porsi saham.

Meskipun begitu, pihak Antam sempat mengungkapkan akan mengincar sekitar 30%-40% saham dalam proyek tersebut.

"Porsi saham masih dibicarakan walaupun kemungkinannya Freeport mayoritas. Kalau sudah oke, [pembangunan] setahun selesai."

Sementara itu, juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama menjelaskan, kerja sama dengan Antam masih berlangsung. Dia mengatakan, Freeport punya komitmen menjadi pemasok anoda slime untuk PMR tersebut.

Menurutnya, pembangunan PMR tersebut jauh Iebih mudah dan cepat bila dibandingkan dengan smelter baru yang saat ini sedang dibangun. .

"Sambil menunggu smelter, pembangunan PMR ini kan bisa menjadi pilihan karena cepat dan tidak terlalu rumit," katanya, Kamis (8/9).

 Sumber : Bisnis Indonesia, 09 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:07 )
 

Aturan Operasi Tambang Akan Dirombak

Surel Cetak PDF

By Robby Irfany

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan mengusulkan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara. Aturan teknis bisnis tambang ini rencananya dibuat lebih longgar. "Kami melihat yang masalah justru peraturan pemerintah yang harus direvisi. Undang-Undang Mineral dan Batu Bara itu usul DPR," kata pelaksana tugas Menteri Energi, Luhut Binsar Pandjaitan, di Jakarta, kemarin.

Salah satu hal yang akan diubah adalah batas waktu perpanjangan operasi kontrak dan izin tambang. Saat ini, perpanjangan hanya boleh diajukan dua tahun sebelum masa operasi berakhir. Nantinya, perusahaan bisa mengajukan perpanjangan kontrak lebih awal.

Menurut Luhut, perubahan dilakukan untuk memberi kepastian soal investasi tambang. Ia menilai aturan yang berlaku sekarang sudah tidaksejalandengantujuan pemerintah memperbaiki iklim bisnis. "Mungkin dulu lalai. Kami ingin melihat dengan benar supaya tidak membuat kesalahan lagi."

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Bambang Gatot Ariyono mengatakan sampai saat ini belum ada kesepakatan soal batas waktu. Revisi PP Nomor 77 Tahun 2014 sempat diajukan Kementerian Energi saat dipimpin Sudirman Said. Ia mengusulkan agar regulasi seperti yang berlakupada sektorminyak dan gas bumi, misalnya soal perpanjangan, bisa diusulkan 10 tahun sebelum kontrak habis.

Rencana ini merupakan bagian dari paket kebijakan ekonomi ketiga yang diluncurkan pemerintah pada Oktober 2015. Namun usul ini mental karena tidak disetujui oleh presiden.

Kini, Luhut mengusung ide serupa. Ia membantah anggapan bahwa revisi hanya ditujukan untuk memuluskan kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia. "Kami tidak bicara Freeport. Kami bicara semuanya. Tapi ini masih tahap awal dan sedang dibahas," tutur Luhut. Ia yakin presiden bakal setuju.

 Sumber : Koran Tempo, 09 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:05 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL