Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Terkendala L/C, Freeport Tak Bisa Ekspor Konsentrat

Surel Cetak PDF

MIMIKA. PT Freeport Indonesia tidak bisa melakukan ekspor produk konsentrat Tembaga menyusul adanya kebijakan pemerintah pusat yang harus menggunakan letter of credit (L/C).

"Sudah dua minggu ini ada dua kapal tidak bisa berangkat, masing-masing untuk tujuan Jepang dengan kapasitas konsentrat 29.300 ton dan tujuan India 22 ribu ton. Belum lagi konsentrat yang menumpuk di gudang sebanyak 70 ribu ton," kata Manager Dewatering Plant Portsite PT Freeport Indonesia Area Laga kepada wartawan saat kunjungan ke Portsite Amamapare, Mimika, Selasa (21/4).

Menurut dia, karena penundaan ekspor ini Freeport harus menanggung biaya denda sebesar USS 50 ribu per kapal per hari. "Kalau penundaan untuk tujuan lokal sebesar USS 30 ribu per kapal per hari," ujarnya.

Meski Freeport cukup dirugikan dengan adanya kebijakan ini, namun kata Area, Freeport belum berencana mengajukan force majeur kepada pembeli. "Kami masih menunggu kebijakan pemerintah, karena kabarnya untuk ekspor produk Pertambangan dan migas ada pengecualian untuk ketentuan L/C ini," jelasnya.

Saat ini, pengiriman konsentrat hanya dilakukan untuk tujuan Gresik sebanyak 22 ribu ton. Pada 2014, ekspor dengan tujuan India mencapai 10% dan Jepang sebesar 9% dari total produksi. TioTigkok mengambil porsi terbesar untuk pasar ekspor, yakni 12%. Negara lainnya adalah Spanyol (7%), Korea (2%), serta Bulgaria dan Filipina masing-masing 1%. Sementara untuk pasar domestik sebesar 58%.

Tanam Kakao

Di sisi lain, Freeport membantu masyarakat Mimika dengan menanam 10 ribu pohon kakao (cokelat) di daerah Kampung Utikini Baru, Distrik Kuala Kencana, Mimika, Papua. Cara ini diharapkan bisa membuat Mimika terkenal akan cokelatnya.

Vice President Community Development PT Freeport Indonesia Claus Wamafrna menyatakan program penanaman pohon cokelat menjadi salah satu alternatif masa depan kabupaten Mimika sebagai komoditas unggulan.

"PTFI bersama pemda akan mendorong produk cokelat, sehingga harapan kami dalam 10 tahun ke depan akan ada produk cokelat made in Mimika," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Mimika, Yohannes Bassang mengatakan, program PTFI untuk masyarakat itu merupakan wujud kepedulian perusahaan dalam memberdayakan masyarakat Menurut dia, harapan PTFI yang mendorong cokelat menjadi produk unggulan merupakan cita-cita mulia yang wajib dikembangkan. (es)

 Sumber : Investor Daily, 22 April 2015

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 23 April 2015 09:07 )
 

Per Maret, Penerimaan Negara Sektor Tambang Rp 8,7 T

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor Pertambangan pada kuartal pertama ini tercatat Rp 8,7 triliun atau naik 45% dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 6 triliun.

Direktur Jenderal mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) R Sukhyar mengatakan, peningkatan PNBP ini berkat penataan tata kelola tambang yang dilakukan sejak tahun kemarin. Pihaknya melibatkan sejumlah institusi diantaranya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Direktorat Jenderal pajak. Selain itu, opimalisasi penerimaan negara juga dilakukan dengan kewajiban untuk masuk dalam daftar Eksportir Terdaftar (ET).

"PNBP kuartal pertama tahun ini Rp 8,7 triliun, naik dari kuartal pertama tahun lalu Rp 6 triliun. Capaian ini (PNBP) berkat adanya ET dan pengawasan di lapangan," kata dia di Jakarta, awal pekan ini.

Direktur Pembinaan Program mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sujatmiko merinci PNBP Rp 8,7 triliun itu berasal dari royalti sebesar Rp 4,3 triliun, penjualan hasil tambang Rp 2,2 triliun dan iuran tambang sekitar Rp 1,2 triliun. Namun dia masih enggan merinci berapa besar yang berasal dari sektor Pertambangan batubara dan berapa yang dihasilkan sektor mineral. "PNBP kuartal ini tambahannya dari sektor mineral," ujarnya.

Pasalnya, jelas dia, PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) belum mendapat izin ekspor konsentrat Tembaga pada kuartal pertama tahun lalu. Namun, pada tahun ini, keduanya sudah bisa mengekspor konsentrat Tembaga yang diproduksinya.

Freeport mendapat kuota ekspor selama enam bulan untuk periode Januari-Juli 2015 mencapai 580.000 ton konsentrat Sedangkan NNT mendapatkan kuota ekspor sebesar 477.000 ton.

Di sektor Pertambangan batubara sendiri, tercatat adanya penurunan produksi yang mencapai 12% dibandingkan tahun lalu. Hingga Maret lalu, produksi batubara tercatat sebesar 97 juta ton, turun dari kuartal pertama tahun lalu mencapai 124 juta ton.

Meski demikian, melihat realisasi pada kuartal pertama ini, Sukhyar optimis target PNBP 2015 sebesar Rp 52,2 triliun akan tercapai. Hal ini lantaran pihaknya menemukan 350 IUP di Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat yang masih kurang bayar pajak hingga Rp 97,72 miliar. (rap)

 Sumber : Investor Daily, 22 April 2015

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 23 April 2015 09:05 )
 

Copper Bulls Backing Away After Record Rally

Surel Cetak PDF

Joe Deaux

BLOOMBERG/NEW YORK. Investors are backing away from Copper after the biggest two-month rally since 2012.

The problem is that demand is slowing in China, which accounts for about half of global Copper use. Producers including Freeport-McMoRan Inc. say Chinese buying has not picked up as it normally does at this time of year, and Goldman Sachs Group Inc. and Societe Generale SA are among banks predicting lower prices.

The metal is losing its appeal for money managers, who have reduced their net-long positions for two straight weeks, according to Commodity Futures Trading Commission (CFTC) data. Analysts, traders and hedge funds surveyed by Bloomberg last week were split on the price outlook, assessing rising inventories and prospects for reduced China consumption against aging mines that will mean limited supply gains.

"The market isn’t sure about how much production were going to see and how much Chinese demand there’s going to be," Paul Christopher, the St. Louis-based head of international strategy at Wells Fargo Investment Institute, which oversees $1.6 trillion. "There’s still lingering concern about excess inventories, especially in the second half of this year."

The metal climbed 9.8 percent in the two months through March 31, the biggest such gain since August-September 2012, amid speculation that China would increase stimulus measures, while operating glitches at some mines threatened to erode supply.

Copper futures on the Comex in New York lost 17 percent last year and are down 1.8 percent this year. In 2015, the Bloomberg Commodity Index has dropped 2.2 percent, while the MSCI All-Country World Index of equities advanced 4.1 percent. The Bloomberg Dollar Spot Index climbed 4.8 percent.

Speculators cut their net-long positions in Copper by 7.3 percent to 14,295 futures and options in the week ended April 14, CFTC data show. Those wagers were trimmed 9.8 percent in the prior week. Total long positions, or bets on higher prices, were reduced by 6.3 percent in the latest report, the most since Jan. 20.

The International Monetary Fund on April 15 highlighted the threat of a "retrenchment" in Chinese industries that are facing overcapacity, as well as in the country’s property market. Financial stress among Chinese real-estate firms could cause "cross-border spillovers", the fund said. The IMF also said that risks to

the global financial system are rising as emerging markets face a squeeze from the strong dollar and weak commodity prices.

Those worries have some analysts sounding the alarm on Copper. In a report April 12, Goldman cast doubt on the durability of the recent rally, saying demand will decline as fewer houses are built by Chinas construction industry, which generates about 60 percent of the nation’s annual consumption of the metal. The bank estimated prices in London would fall at least 15 percent by year-end.

Economic data last week from the US added to demand concerns, as industrial production dropped more than economists forecast in March and applications for future home building slid the most in 10 months. The Copper Development Association says construction accounts for about 40 percent of the commodity’s use.

Societe Generale said lower energy prices and weakening producer currencies against the dollar are cutting costs for mining companies, spurring output.

While many analysts say supply will exceed demand this year, disruptions at mines including BHPs Olympic Dam in Australia and Freeport’s Grasberg in Indonesia mean the glut may shrink. Last week, RBC Capital Markets forecast a surplus of 60,000 metric tons in 2015, down from its prior forecast of 139,000 tons.

Supply concerns signal prices are likely to hold recent gains, RBC analysts led by Fraser Phillips said. Macquarie Group Ltd. says Copper on the London Metal Exchange (LME) will approach $6,500 a ton this year, or about 7 percent above Fridays closing price.

Speculation that China will move to shore up growth is also supporting Copper, after gross domestic product grew last quarter at the slowest pace since 2009. The Peoples Bank of China cut banks’ reserve requirements by the most since the global financial crisis on Monday.

Premier Li Keqiang has said the government would take more targeted measures to boost the Economy, and Chinese equities closed at the highest since March 2008 last week.

Inventories in warehouses tracked by the LME have risen 41 percent in the past 12 months. Stockpiles reported by the Shanghai Futures Exchange have more than doubled this year. Out of 17 analysts, traders and hedge funds surveyed by Bloomberg at the World Copper Conference in Santiago last week, nine expected Copper on the LME to approach or fall below its five-year low and eight said the worst is over. Joe Deaux

 Source : The Jakarta Post, April 21, 2015

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 21 April 2015 08:57 )
 

PNPB Minerba Naik 45%

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (Minerba) pada kuartal 1/2015 mencapai Rp8,7 triliun atau naik 45% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp6 triliun.

Dirjen mineral dan Batubara Kementerian ESDM R. Sukhyar menjelaskan capaian tersebut sudah cukup memuaskan mengingat tarif royalti yang diterapkan untuk perusahaan berlisensi izin usaha Pertambangan (IUP) belum berubah, yakni 3%, 5% serta 7%.

"Rp8,7 triliun, kalau kali empat kan Rp40 triliun. Kita masih memakai tarif royalti yang lama, kalau menghitung [target] Rp52 triliun itu pakai royalti baru," katanya, Senin (20/4).

Sukhyar mengatakan dengan tarif royalti yang baru yakni 7%, 9% serta 13,5%, maka PNPB akan lebih tinggi.

Menurutnya, peningkatan PNBP ini terjadi karena laporan sistem pengendalian yang sudah baik. "Sistem pengendalian sudah bagus, ada ET [eksportir terdaftar] dan pengawasan di lapangan sudah bagus meskipun belum sempurna."

Secara lebih rinci Direktur Pembinaan Program mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sujatmiko menjelaskan Rp4,3 triliun dari PNBP tersebut berasal dari royalti dan Rp2,2 dari penjualan hasil tambang. Sementara itu, sisanya dari iuran tetap.

Menurutnya, wajar jika PNBP sektor Minerba masih bisa naik di tengah rendahnya harga batu bara dan penurunan produksi hingga 12% dari 124 juta ton pada kuartal 1/2014 menjadi 97 juta ton.

Pasalnya, ada lonjakan pendapatan dari sektor mineral setelah PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara kembali mengekpor konsentrat Tembaga.

"Tahun lalu kan mereka gak ekspor. Dari sektor mineral berarti ada penambahan yang cukup besar," ujarnya.

Adapun PNPB tahun ini diprediksi masih akan didominasi oleh penerimaan dari batu bara yang menopang sekitar 80% atau sekitar Rp41,76 triliun. Sementara itu, sektor mineral hanya menyokong 20% atau sekitar RplO,44 triliun.

Kementerian ESDM menyatakan akan bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk penghimpunan royalti akan melalui sistem online.

"Nanti kalau pelaku usaha tambang melewatkan kendaraannya, langsung terekam di monitor mom, itu yang akan kita terapkan," tutur Sukhyar.

Sukhyar mengaku telah bertemu dengan pihak Kementerian Riset dan Teknologi serta pengembangnya pada tiga pekan yang lalu untuk membicarakan mengenai lokasi dan teknologinya. Proyek percontohan akan dimulai di Kalimantan dan Sumatera Selatan

"Nanti ada semacam jembatan timbang lah, begitu mas.uk terekam semua dan ketahuan," tambahnya.

Alat perekam ini nantinya akan dipasang di tempat masuk Pertambangan. Diharapkan dengan adanya sistem yang lebih baik, maka pengumpulan royalti juga menjadi lebih terjamin dan sesuai dengan yahg ditargetkan pemerintah.

Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia Hendra Sinadia menilai naiknya PNBP sektor Minerba kemungkinan besar berasal dari mineral. (Annisa L Ciptantnqtyas/Lucky L Leatemia)

 Sumber : Bisnis Indonesia, 21 April 2015

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 21 April 2015 08:54 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL