Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Pemerintah Diminta Lanjutkan Hilirisasi

Surel Cetak PDF

JAKARTA - Pemerintah diharapkan melanjutkan program hilirisasi dengan mendorong perusahaan tambang mineral membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) sesuai dengan amanat Undang-Undang No 4/2009 tentang Mineral dan Batu Bara (UU Minerba). Di lain pihak, sebagai konsekuensi dari program hilirisasi tersebut, larangan ekspor mineral yang belum diolah yang bakal diberlakukan pada Januari 2017 harus dipegang teguh.

Kewajiban membangun smelter seperti yang sudah berlaku saatinimerupakanlangkah reformasi sektor mineral yang sangat sesuai dengan semangat ekonomi kerakyatan. Dengan mendorong perusahaan mineral membangun smelter, nilai tambah dan efek pengganda yang diperoleh masyarakat dan negara ini bakal mengalami kenaikan signifikan.

"Pemerintah harus tetap pada keputusan untuk konsisten. Jika benar revisi UU Mi-nerbadilakukansaatini.peme-rintah seyogianya mengawal agar revisi UU Minerba itu memperkuat tujuan meningkatkan nilai tambah dari sektor pertambangan melalui pembangunan smelter," ujar pakar hukum pertambangan dari Universitas Hasanuddin Abrar Saleng di Jakarta, kemarin.

Selain itu, harus dilakukan terobosan agar produk smelter diserap dalam negeri dengan menciptakan pasar domestik bagi produksnje/ter. Saat ini sudah ada 27 smelter dari berbagai komoditas mineral. Meski masih relatif sedikit, ini terbilang kemajuan pesat, mengingat susah payahnya kolabo-rasiparapemangkukepenting-an di sektor ESDM mewujudkan program ini.

Dia menegaskan, langkah tegas menjalankan UU Minerba perlu dilanjutkan demi menjamin kepastian hukum. Karena itu, dia berharap menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nantinya tidak perlu membuat kebijakan baru yang berpotensi menimbulkan tumpang tindih atau kerancuan dalam hal kepastian hukum.

Sementara Maryati Abdullah, Koordinator Nasional PWYP Indonesia-sebuah lembaga Open Government Part-nership-mengungkapkan, langkah penting yang harus dilanjutkan menteri ESDM adalah larangan ekspor mineral pada Januari 2017 nanti. Beberapa perusahaan telah mendapat kemudahan melakukan ekspor konsentrat selama ini dengan harapan mereka membangun smelter.

 Sumber : Harian SEPUTAR INDONESIA, 23 Agustus 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 25 Agustus 2016 10:10 )
 

Izin Akuisisi Newmont Kelar, Smelter Dikebut

Surel Cetak PDF

Rencana Bisnis Newmont oleh PT Medco Energi Internasional Tbk menunggu persetujuan RUPS

By Pratama Guitarra

JAKARTA - Meski izin akuisisi saham 82,2% PT Newmont Nusa Tenggara sudah keluar dari Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral, PT Medco Energi Internasional Tbk belum bisa menentukan arah pengembangan Bisnis Newmont.

Medco Energi saat ini baru bisa mempersiapkan penyusunan rencana Bisnis bagi Newmont Nusa Tenggara, pasca menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS). Perusahaan berkode MEDC di Bursa Efek Indonesia yang dijadwalkan akhir September 2016 atau 45 hari sejak pihak independen mengungkapkan data akuisisi dan valuasi saham Newmont.

Jika tahap tersebut terlewati, Medco Energi bisa menginjak proses akhir akuisisi alias closing sehingga proses pengambilalihan saham menjadi efektif. "Setelah itu, kami akan melakukan kajian yang komprehensif dengan existing management untuk menentukan rencana-rencana jangka pendek, menengah, dan panjang," ujar Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro kepada KONTAN, Senin (22/8).

Yang pasti, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral mentah alias smelter merupakan agenda utama bagi Newmont Nusa Tenggara. Medco Energi memiliki tiga opsi pembangunan smelter untuk menjadi pertimbangan.

Pertama, Medco Energi melanjutkan rencana kerjasama awal antara Newmont Nusa Tenggara dengan PT Freeport Indonesia. Adapun lokasi pembangunan smelter di Gresik, Jawa Timur.

Kedua, Medco Energi juga berencana membangun smelter sendiri. Lokasi yang mereka pilih sekitar area penambangan Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa, Nusa Tenggara Timur.

Ketiga, Medco Energi akan membangun smelter di Boja-negara, Proveinsi Banten. Tepatnya di pelabuhan Bojane-gara.

Dana US$ 500 juta

Selain lokasi, Medco Energi juga masih menimbang kapasitas smelter. Mereka juga belum bisa memastikan mitra Bisnis yang akan digandeng.

Namun dalam kesempatan berbeda, Komisaris Utama PT Medco Energi Internasional Tbk Muhammad Lutfi menyebut, akan melanjutkan kerjasama pembangunan smelter dengan Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur.

Bahkan mereka sudah menyiapkan dana sebanyak US$ 500 juta. "First opinion bangun smelter dengan Freeport," katanya kepada KONTAN, Senin (22/8).

Hanya saja, Juru Bicara PT Freeport Indonesia Riza Pratama masih enggan berkomentar perihal kelanjutan kerjasama smelter dengan Newmont Nusa Tenggara pasca diakuisisi Medco Energi. "Saya tidak bisa komentar soal smelter," ujar Riza.

Saat ini, Freeport Indonesia masih mencari lahan baru di Gresik. Semula mereka akan menggunakan lahan milik PT Petrokimia Gresik. Namun perkembangan terbaru, perusahaan asal Amerika Serikat tersebut mengalihkan pilihan ke lahan industri milik PT AKR Corporindo Tbk.

Sebelumnya Direktur PT AKR Corporindo Tbk Suresh Vembu mengatakan, negosiasi jual-beli lahan dengan Freeport Indonesia hampir final. Freeport Indonesia juga sudah mengajukan izin prinsip ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

AKR Corporindo rencananya akan melego lahan sekitar 100 hektare (ha) untuk proyek smelter tersebut. Hanya saja, manajemen perusahaan itu tak membeberkan nilai jual-beli lahan yang dimaksud.

 Sumber : Kontan, 23 Agustus 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 25 Agustus 2016 10:09 )
 

Medco Kaji Proyek Smelter Sendiri

Surel Cetak PDF

By Sukimo/Lucky l. Leatemia

JAKARTA - Emiten minyak dan gas milik pengusaha Arifin Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk., menyiapkan dana US$500 juta untuk membangun pabrik pemurnian atau smelter tembaga setelah mengakuisisi PT Newmont Nusa Tenggara.

Direktur Utama Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengatakan, investasi pembangunan smelter untuk Newmont menjadi salah satu opsi yang tengah dikaji perseroan.

Selain rencana membangun smelter sendiri, Newmont mengkaji untuk bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia.

"Kami studi dulu, rencana pembangunan smelter bareng Freeport. Kalau bikin sendiri mencapai US$500 juta," kata dia saat dihubungi Bisnis akhir pekan lalu.

Dia menyebut, pembangunan smelter masih mencapai tahap studi kelayakan setelah Medco Energi mengantongi restu dari pemerintah dalam mengakuisisi saham Newmont. Perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) pada September 2016, untuk menentukan langkah ke depan bagi perusahaan yang menambang di Batu Hijau tersebut.

Setelah mendapatkan restu pemegang saham, sambungnya, manajemen emiten bersandi MEDC itu akan memetakan rencana operasional bagi Newmont. Kemudian, kajian pembangunan smelter diproyeksi berlangsung dalam satu sampai dua bulan setelah RUPS.

Hilmi menambahkan, pendanaan untuk membangun smelter akan diperoleh dari penggalangan yang dilakukan oleh Newmont. Medco Energi sebagai induk usaha mengklaim tidak akan menyuntikkan modal untuk dana investasi smelter.

Medco Energi memang telah mengakuisisi seluruh saham NNT senilai US$2,6 miliar dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Akuisisi dilakukan Medco terhadap PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% saham NNT senilai US$2,6 miliar. AMI membeli NNT dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Medco dan AP Investment yang digawangi bankir kenamaan Agus Projosasmito bekerja sama mengakuisisi saham di AMI dengan dukungan dari tiga bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Sementara itu, emiten minyak dan gas tersebut berencana menerbitkan sisa penawaran umum berkelanjutan II (PUB) senilai Rp3,75 triliun dari total Rp5 triliun. Terakhir kali, Medco Energi menerbitkan PUB II tahap I pada Juli 2016 senilai Rp 1,25 triliun.

Medco Energi menggunakan dana hasil emisi obligasi untuk refinancing, belanja modal, dan akuisisi. Obligasi tersebut mendapatkan peringkat idA + dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Hilmi menuturkan, perolehan dana hasil obligasi kali ini dapat digunakan untuk mendanai pembangunan smelter Newmont. Namun, Hilmi memperkirakan, Newmont juga dapat menggalang dana sendiri untuk mendanai proyek smelter.

Newmont Nusa Tenggara tidak akan bergantung lagi pada PT Freeport Indonesia (PTFI) terkait kewajiban pengolahan dan pemurnian mineral setelah pemegang saham baru menyatakan siap membangun smelter sendiri.

Sejak 2014, NNT berkerja sama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk membangun smelter. Hal itu sekaligus menjadi tiket bagi perusahaan yang beroperasi di Nusa Tenggara Barat ini untuk mendapatkan rekomendasi surat persetujuan ekspor (SPE) konsentrat tembaga dari Kementerian ESDM.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 23 Agustus 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 25 Agustus 2016 10:07 )
 

Setelah Akuisisi, Medco Energi Siap Bangun Smelter Newmont Rp6,55 Triliun

Surel Cetak PDF

JAKARTA--Emiten minyak dan gas milik Arifin Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) siap membangun pabrik pemurnian tembaga atau smelter senilai US$500 juta setara dengan Rp6,55 triliun (kurs Rp13.100 per dolar AS), setelah mengakuisisi PT Newmont Nusa Tenggara.

Direktur Utama Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengatakan investasi pembangunan smelter untuk Newmont menjadi salah satu opsi yang tengah dikaji perseroan. Tidak hanya membangun smelter sendiri, Newmont juga mengkaji untuk bekerjasama dengan PT Freeport Indonesia.

"Kami studi dulu, rencana pembangunan smelter bareng Freeport. Kalau bikin sendiri mencapai US$500 juta," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com Minggu (21/8/2016).

Dia menyebutkan pembangunan smelter masih mencapai feasibility studies setelah Medco Energi mengantongi restu dari pemerintah dalam mengakuisisi saham Newmont. Rencananya, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) pada September 2016, untuk menentukan langkah ke depan bagi Newmont.

Setelah mendapatkan restu pemegang saham, sambungnya, manajemen emiten bersandi MEDC itu akan memetakan rencana operasional bagi Newmont. Kemudian, kajian pembangunan smelter diproyeksi berlangsung dalam 1-2 bulan setelah RUPS.

Dikutip dari Reuters, Komisaris Utama Medco Energi Muhammad Lutfi mengatakan perseroan berencana membenamkan investasi hingga US$500 juta untuk pembangunan smelter Newmont. Diperkirakan, tembaga dan emas yang dihasilkan Newmont dapat berkontribusi sekitar 30%-50% terhadap total pendapatan perseroan di masa depan.

Hilmi menambahkan, pendanaan untuk membangun smelter akan diperoleh dari penggalangan yang dilakukan oleh Newmont. Medco Energi sebagai induk usaha diklaim tidak akan menyuntikkan modal untuk dana investasi smelter.

Medco Energi memang telah mengakuisisi seluruh saham NNT senilai US$2,6 miliar dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation. Akuisisi dilakukan Medco terhadap PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% saham NNT senilai US$2,6 miliar. AMI membeli NNT dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Medco dan AP Investment yang digawangi bangkir kenamaan Agus Projosasmito, bekerjasama mengakuisisi saham di AMI dengan dukungan dari tiga bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

 Sumber : Bisnis.com, 22 Agustus 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 25 Agustus 2016 06:55 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL