Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Pemerintah Evaluasi Peraturan di Sektor Minerba

Surel Cetak PDF

JAKARTA - Pelaksana Tugas (Pit) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan memasang target 10 hari guna mengevaluasi peraturan di sektor pertambangan agar selaras dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

"Selama 10 hari ke depan, kami mau meluruskan semuanya. Mulai dari UU Minerba peraturan sampai Kepres supaya jangan ada lagi yang melanggar undang-undang," kata Luhut di Jakarta, Selasa (13/9).

Luhut belum mau membeberkan beleid apa saja yang dievaluasi dan selaraskan tersebut. Dia hanya menyebut evaluasi tersebut melibatkan sejumlah ahli diantaranya Ahli" Hukum Internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Ju-wana. Para ahli tersebut akan membantu merumuskan apa saja langkah terbaik terkait permasalahan implementasi UU Minerba.

Dikatakannya evaluasi dan penyelarasan tersebut harus mengedepankan prinsip keadilan dan kedaulatan. Selain itu semangat hilirisasi dalam UU Minerba tetap dipertahankan. "Kami mau semua berkeadilan.

Tidak ada kepentingan salah satu misalnya Freeport atau Newmont Kami bicara kepada semua yang terbaik," ujarnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot engganmerinci peraturan apa saja yang dievaluasi tersebut Pasalnya semua masih dalam tahap pembahasan. Begitu pula terkait perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat di 2017. "Belum selesai semua. Jadi belum bisa dikemukaan. Masih panjang yang terlibat banyak," ujarnya. Secara terpisah, Hikmahanto yang ikut pertemuan itu pun enggan membeberkan peraturan apasaja yang dievaluasi tersebut.

Berdasarkan catatan Investor Daily, tumpang tindih peraturan dengan UU Minerba yang menimbulkan ketidakpastian antara lain terkait kewajiban pengolahan dan pemurnian hasil tambang bagi pemegang kontrak karya. Dalam pasal 170 UU Minerba menyebutan pemegang kontrak karya yang sudah berproduksi wajib melaukan pemurnian selambat-lambatnya lima tahun sejak UU Minerba diundangkan.

Ketentuan ini dipertegas dengan Peraturan Pemerintah No. I Tahun 2014 tentang Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Namun kewajiban hilirisasi mineral itu ternyata bertentangan dengan pasal 169 UU Minerba yang menyatakan pemegang kontrak karya harus menyesuaikan kontraknya dengan pasal-pasal dalam UU Minerba paling lambat satu tahun sejak diundangkan.

Penyesuaian itu termasuk kewajiban hilirisasi mineral dengan membangun fasilitas pemurnian (smelter) bagi pemegang kontrak karya. Faktanya hingga kini renegosiasi kontrak karya belum selesai bahkan melewati batas waktu yang ditetapkan UU Minerba.

Kemudian terbit Peraturan Menteri ESDM No. 1 Tahun 2014 sebagai turunan dari Peraturan Presiden 1/2014. Permen ESDM 1/2014 itu menyatakan ekspor mineral mentah dilarang sejak 11 Januari 2014. Kemudian ekspor konsetrat mineral masih dapat dilakukan hingga

II Januari 2017. Tiga tahun waktu yang diberikan itu guna membangun smelter. Namun jelang pemberlakuan larangan tersebut pembangunan smelter belum signifikan. Bahkan ada proyek smelter yang terhenti pembangunannya.

 Sumber : Investor Daily, 14 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:18 )
 

Inalum Bakal Jadi Induk Holding BUMN Tambang Beraset US$ 6 Miliar

Surel Cetak PDF

 

Jakarta - Pembentukan holding BUMN tambang tinggal selangkah lagi. Kementerian BUMN akan mengusung PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai induk holding BUMN tambang.

Inalum dipilih sebagai induk karena 100% sahamnya masih dimiliki pemerintah. Setelah holding terbentuk, Inalum akan menaungi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Apa saja persiapan Inalum menghadapi holding BUMN tambang, dan bagaimana respons atas target pemerintah dengan adanya holding tersebut?

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Direktur Utama Inalum, Winardi Sunoto, saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pekan lalu.

Bagaimana persiapan Inalum menjadi induk holding BUMN tambang?

Kita sudah persiapkan dari tahun lalu. Kita sudah kaji semua. Diharapkan awal 2017 holding tambang sudah operasi. Peraturan Pemerintahnya (PP) tak lama lagi keluar. Persiapan RUPS juga harus sudah selesai.

Kita mau operational holding. Tapi kita lihat apa maunya pemegang saham, apakah mungkin strategic holding. Apakah sudah berkomunikasi dengan calon anggota holding BUMN tambang? Saya melihatnya positif. Komunikasi kita lebih encer, tidak ada halangan. Untuk kantor pusat holding BUMN tambang rencananya akan disiapkan di mana? Harus di Jakarta, nanti kita lihat.

Setelah holding BUMN tambang terbentuk, rencananya mau fokus di sektor apa saja? Semuanya potensi yang kita miliki. Nggak ada yang kita tinggalkan. Batu bara, nikel, timah, aluminium, dan emas. Mungkin nanti tembaga setelah kita punya porsi lebih besar di Freeport.

Aset kita semua berkisar US$ 6 miliar. Inalum asetnya sekitar US$ 1,6 miliar, Antam sedikit lebih besar, PT Bukit Asam hampir sama dengan kita.

Menteri BUMN berharap holding bisa caplok tambang-tambang besar, khususnya asing. Bagaimana respons Anda?

Tujuan holding supaya daya saing lebih besar, skalanya lebih besar, efisiensi, dan menguasai sumber daya mineral baik melalui akuisisi dan lainnya. Dengan struktur modal yang kuat kita kuasai tambang-tambang, tujuannya itu.

Yang jelas, kita nanti jadi besar, lebih agresif lagi. Dengan holding itu nanti kita ingin BUMN ini mulai berperan. Kita bisa beli aset-aset asing. Sehingga kita juga akan besar. Batu bara diperkuat, tambang lainnya diperkuat, emas tembaga dan lainnya.

Targetnya, holding BUMN tambang bisa masuk 500 besar perusahaan dunia. Bagaimana menurut Anda?

Targetnya masuk 500, malah syukur kita bisa 250 perusahaan besar dunia pasca holding nanti.

Menteri BUMN Rini Soemarno, meminta setelah holding BUMN terbentuk jangan hanya jago kandang?

Di Indonesia kan cukup bagus, artinya banyak sumber daya mineral. Orang luar saja datang ke sini. Kita perkuat dulu di sini, baru lari ke luar. Apakah ke Vietnam atau yang lainnya, potensinya bagus.

Untuk ke depan, Ibu Rini mengharapkan Inalum bisa masuk ke pasar modal. Apakah siap? Ya kita mau ke situ. Tapi harus selesaikan holding dulu. Kita lihat dulu nanti, disusun rencana jangka panjang 5 tahun ke depan setelah holding selesai. Kalau sekarang fokus dulu selesaikan holding.

 Sumber : detik.com, 13 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:16 )
 

ESDM Evaluasi Seluruh Peraturan

Surel Cetak PDF

JAKARTA - Berakhirnya masa ekspor mineral olahan atau konsentrat pada Januari 2017 dijadikan momentum oleh Kementerian ESDM untuk mengevaluasi seluruh peraturan di sektor pertambangan mineral dan batu bara.

Pelaksana Tugas (Pit) Menteri ESDM Luhut Binsar Panjaitan menilai akan meninjau kembali peraturan mana saja yang perlu direvisi, mulai dari Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara hingga berbagai peraturan turunannya.

"Kita melihat apakah ini [UU Minerba) harus direvisi, tapi kan urusannya di DPR. Sekarang kita lihat peraturan [turunan] mana saja yang harus direvisi," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia belum mengungkapkan peraturan mana saja yang saat ini menjadi perhatian pemerintah.

Namun, belakangan ini wacana relaksasi ekspor konsentrat mineral kian menguat. Sebelumnya, Luhut menyebut jangka waktu perpanjangan relaksasi ekspor mineral hasil olahan atau konsentrat dipertimbangkan selama tiga sampai lima tahun. Hal itu akan tergantung pada kesiapan masing-masing komoditas.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan apabila revisi UU Minerba selesai, maka seluruh peraturan turunannya akan menyesuaikan.

Oleh karena itu, dia menilai percepatan pembahasan UU Mineba menjadi opsi terbaik saat ini.

"Kalau UU berubah, otomatis peraturan berubah. Tapi revisi UU Minerba kan bukan target pemerintah, itu inisiatif DPR. Kita berharap cepat," Ujarnya.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 13 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:11 )
 

Berharap Tuah Emas Newmont

Surel Cetak PDF

Kelamnya harga minyak mentah dunia membuat kinerja emiten Migas tertekan. Pun begitu dengan PT Medco Energi Internasional Tbk. yang berharap dari keuntungan produksi emas setelah mencaplok PT Newmont Nusa Tenggara.

Kisah terpuruknya harga minyak mentah mulai sedikit terobati. Harga minyak mentah sedikit

menguat menyusul pembicaraan antara Rusia dan Arab Saudi soal usaha stabilisasi pasar minyak, dan tidak membahas pembekuan output.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober turun 1,9% ke level USS4S.01 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan kemarin hingga pukul 17.16 WIB.

Sementara itu, harga Brent untuk pengiriman November turun 1,75% ke posisi US$47,17 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Meski mulai pulih, analis PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan, menuturkan nyaris seluruh emiten migas di dunia tengah tertekan oleh jebloknya harga minyak mentan. Outlook harga minyak mentah dunia secara global masih tertekan.

"Minyak tidak seperti batu bara, meski secara global outlook batu bara tertekan, tapi dapat ditopang oleh domestik. Kalau minyak, demand domestik tidak besar," ujarnya, Selasa (6/9).

Pangsa pasar ekspor emiten migas yang terbilang besar, membuat kinerja Medco sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia. Tidak ada yang dapat memprediksi waktu pulihnya harga minyak mentah kembali ke masa jayanya.

Terus tertekannya harga minyak mentah dunia, tentu berdampak pada aktivitas penggalangan dana perseroan. Saat Medco Energi yang dimiliki oleh Arifin Panigoro menerbitkan surat utang, investor hanya menyerap 83% obligasi senilai Rpl,25 triliun.

Tidak hanya outlook harga minyak mentah dunia, investor masih wait and see sehingga tak terlampau agresif dalam menyerap surat utang Medco. Upaya Medco untuk mendiversifikasi Uni usaha dengan mengakuisisi Newmont, juga diapresiasi pelaku pasar.

Alfred menilai, strategi bisnis emiten bersandi saham MEDC itu tepat. Diversifikasi portofolio pertambangan Medco dengan merambah tambang logam emas, membuat masa depan perseroan kian cerah.

Langkah itu dinilai patut diapresiasi. Medco melakukan diversifikasi risiko terutama akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia, menjadi penambang emas yang lebih stabil.

Kendati harga tambang logam kini belum menggairahkan, strategi yang ditempuh Medco perlu dilihat dalam jangka panjang. Prediksinya, dalam 3 tahun-5 tahun mendatang, Medco dapat memanen booming-nya harga tambang logam.

"Strategi akuisisi Newmont sekarang itu tepat, karena Medco dapat harganya murah. Sekarang, perusahan migas pasti ingin menjual murah," tuturnya.

Medco Energi memang telah mengakuisisi seluruh saham NNT senilai US$2,6 miliar dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Akuisisi dilakukan Medco terhadap PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% saham NNT senilai US$2,6 miliar. AMI membeli NNT dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Medco dan AP Investment yang digawangi bankir kenamaan Agus Projosasmito, bekerja sama mengakuisisi saham di AMI dengan dukungan dari tiga bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Dari sisi keuangan, lanjut Alfred, Medco dapat melakukan refinancing pinjaman yang segera jatuh tempo tahun ini. Saat ini, tren suku bunga yang terus turun di pasar domestik dan global, menjadikan waktu yang tepat untuk melakukan restrukturisasi utang.

Jika ditelisik dalam laporan keuangan yang telah diaudit, total utang Medco membengkak 33,26% menjadi US$1,58 miliar dari USS1.18 miliar. Medco juga belum merilis laporan keuangan pada semester 1/2016.

Membengkaknya total utang perseroan terjadi lantaran pinjaman perbankan jangka panjang setelah dikurangi dengan biaya jatuh tempo dalam satu tahun meroket tajam. Pada periode 2015, utang itu melesat 66,75% menjadi US$908,21 juta dari tahun sebelumnya US$544,66 juta.

Posisi total utang terhadap ekuitas Medco Energi hingga akhir tahun lalu mencapai 2,25 kali. Total utang bank MEDC per 31 Desember 2015 mencapai USS 1,08 miliar yang terdiri dari jatuh tempo tahun ini US$179,5 juta dan jangka panjang US$908,21 juta.

Dua kreditor terbesar Medco Energi adalah Bank- Mandiri USS590 juta, pinjaman sindikasi dari Standard Chartered Bank, PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank DBS Indonesia, Bank Mandiri, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation USS200 juta.

Dari laporan keuangan perseroan per kuartal 1/2016, total utang jangka pendek dari pebankan dan obligasi mencapai US$349,71 juta.

Sementara itu, utang jangka panjang yang terdiri dari pinjaman bank, obligasi rupiah, obligasi dolar AS, obligasi dolar Singapura, dan wesel jangka menengah, seluruhnya mencapai US$1,25 miliar.

"Medco bisa menerbitkan obligasi dengan bunga yang lebih rendah, optimalisasi aset. Pinjaman perbankan agak sulit karena rasio kredit bermasalah perusahaan tambang sedang tinggi," kata dia.

Tidak hanya aksi-aksi penggalangan dana tersebut, Medco juga dapat menggelar penerbitan saham baru baik dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), maupun non-HMETD. Aksi rights issue dinilai sebagai pelengkap untuk memperlebar leverage perseroan.

Pada kesempatan terpisah, analis pasar modal Kiswoyo Adi Joe, menilai refinancing utang dapat menjadi pilihan agar beban bunga tidak membengkak dan menekan kinerja keuangan. Emisi obligasi dan pinjaman perbankan dapat menjadi pilihan yang ditempuh Medco dan emiten migas lainnya.

Bagi Kiswoyo, emisi obligasi lebih baik dipilih korporasi lantaran kupon bunga yang ditawarkan lebih rendah dari utang perbankan. Namun, pembayaran bunga obligasi harus langsung dilakukan meski dana yang dikantongi belum dipergunakan.

Tantangan terbesar bagi Medco adalah harga minyak mentah yang masih murah. Ekspansi yang dapat dilakukan oleh Medco sebaiknya berkaitan dengan sektor pertambangan.

"Akuisisi Newmont belum kelihatan, harus menunggu kinerja setahun baru tampak," tuturnya.

Dia memperkirakan, akuisisi Newmont dapat menyokong kinerja Medco pada periode mendatang. Emiten migas disarankan untuk tidak melakukan diversifikasi usaha saat ini lantaran kinerja masih sangat tertekan.

EMISI OBLIGASI

Sementara itu, Medco Energi tengah menerbitkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) II tahap II dengan target perolehan dana Rpl,5 triliun yang ditangani oleh PT Mandiri Sekuritas. Obligasi II Medco seluruhnya bernilai Rp5 triliun dengan tahap I mengantongi Rpl,25 triliun.

Direktur Utama Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengatakan selain emisi obligasi, perseroan juga menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) I mencapai 1,3 miliar saham. Perseroan menurunkan target perolehan dana rights issue dari Rp4,65 triliun menjadi Rpl,94 triliun.

"Dana hasil rights issue akan digunakan untuk akuisisi dan refinancing," katanya ketika dihubungi Bisnis.

Adik Arifin Panigoro itu menuturkan perseroan tengah merancang investasi hingga US$500 juta untuk membangun pabrik pemurnian tembaga atau smelter Newmont.

Investasi pembangunan smelter untuk Newmont menjadi salah satu opsi yang tengah dikaji perseroan. Tidak hanya membangun smelter sendiri, Newmont juga mengkaji untuk bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia.

Diperkirakan, tembaga dan emas yang dihasilkan Newmont dapat berkontribusi sekitar 30%-50% terhadap total pendapatan perseroan di masa depan.

Memang, tidak hanya sejumlah aksi korporasi yang tengah dirancang oleh Medco Energi. Terakhir kali, Medco melakukan optimalisasi aset dengan menjual hak partisipasi di ladang minyak lepas pantai Pulau Bawean.

Medco melepas 100% hak partisipasi di PSC Bawean dengan penjualan saham di Camar Resources Canada Inc. (CRC) dan Camar Bawean Petroleum Ltd., (CBPL).

Roberto Lorato, Chief Executive Officer Medco, mengatakan penjualan hak partisipasi dilakukan melalui anak perusahaan Medco Bawean (Holding) Pte. Ltd. Medco Bawean meneken perjanjian jual beli dengan Hyoil (Bawean) Pte., Ltd., pada 1 September 2016.

"Perseroan melepaskan 100% hak partisipasi di PSC Bawean melalui penjualan saham CRC dan CBPL," katanya.

PSC Bawean merupakan aset penghasil minyak lepas pan- taj yang terletak di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Produksi PSC Bawean pada paruh pertama tahun ini mencapai 670 bpod.

Perseroan telah mengoperasikan PSC Bawean sejak 2004 melalui kepemilikan di CRC. Masa kontrak PSC Bawean akan berakhir pada 2031 sesuai perpanjangan kontrak 20 tahun yang telah diberikan pemerintah Indonesia pada 2010.

"Divestasi ini sejalan dengan rencana kami untuk merasionalisasikan portofolio perseroan agar tetap fokus pada aset yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi," tuturnya.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 13 September 2016

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 September 2016 11:09 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL