Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Newmont Tak Lagi Punya Kewajiban Divestasi

Surel Cetak PDF

By: Rangga Prakoso

JAKARTA - PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) tak lagi memiliki kewajiban divestasi lantaran telah diakuisisi mayoritas kepemilikan saham oleh penanam modal dalam negeri, PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) yang telah mengakuisisi saham PT Amman Mineral Internasional (AMI) yang mengendalikan 82,2% dari NNT.

Pengamat Hukum Sumber Daya Alam dari Universitas Tarumanagara Ahmad Redi mengatakan, divestasi wajib dilakukan oleh perusahaan tambang kepemilikan modal asing. Dengan diakuisisinya NNT maka status kepemilikan tambang menjadi mayoritas milik pengusaha nasional.

"Logika hukumnya kalau pengusaha dalam negeri menawarkan divestasi menjadi tidak logis," kata Redi di Jakarta, Jumat (15/7).

Redi menuturkan, akuisisi saham memang berarti mengambilalih kewajiban. Namun dia mengingatkan semangat divestasi di sektor pertambangan yakni mengurangi kontrol atau pengusaan pemodal asing. Artinya, ketika pengusaha dalam negeri memborong saham pemodal asing maka divestasi pun selesai.

Namun dia menyebut proses akuisisi NNT tidak berjalan lancar. Pasalnya dari 82,2% saham yang dibeli Medco terdapat 7% saham telah ditawarkan ke pemerintah. Hal ini mengingat NNT sebelum diakuasisi Medco memiliki kewajiban melepas 51% saham yang dimiliki melalui mekanisme divestasi. NNT menawarkan 7% saham ke pemerintah dari 56% saham yang dimilikinya.

"Seharusnya sebelum diakuisisi Medco Energi, proses divestasi Newmont harus diselesaikan terlebih dahulu," ujarnya.

Menurut Redi, NNT harus segera memberi laporan resmi kepada pemerintah agar jelas perubahan komposisi saham. Pemerintah disebutnya memiliki hak untuk mengizinkan atau tidak proses akuisisi NNT tersebut

"Sebelum ESDM memberikan izin akuisisi saham Newmont, maka kewajiban Newmont harus diselesaikan terlebih dahulu," jelasnya.

Hal berbeda disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said. Menurutnya, divestasi masih melekat pada NNT meski sudah dikuasai oleh Medco Energi. Pemegang saham baru ini wajib menawarkan kembali 7% saham tersebut "Pemegang saham baru tetap berkewajiban menawarkan divestasi ke pemerintah," katanya.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot menambahkan, pihaknya masih menunggu laporan resmi dari NNT terkait perubahan komposisi saham tersebut Dari laporan resmi itu, pihaknya akan melakukan evaluasi. Sejauh ini, petinggi NNT baru sebatas memberi laporan lisan kepadanya terkait proses akuisisi saham tersebut

"Nanti akan kami tanyakan mengenai 7% (saham divestasi) itu seperti apa. Kami menunggu penjelasan resmi dulu dari mereka," ujarnya.

Bambang menuturkan, NNT sudah menawarkan 7% saham tersebut ke pemerintah. Hingga saat ini Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan belum mengeluarkan sikap resmi terkait penawaran tersebut Dia enggan menyebut kewajiban divestasi NNT hilang seiring dengan dikuasainya mayoritas saham oleh pengusaha dalam negeri.

"Kami lihat dulu seperti apa laporan resminya. Nanti kami evaluasi termasuk mengenai divestasi itu," jelas Bambang.

Hingga berita ini diturunkan, Juru bicara NNT Rubi Purnomo belum merespon pertanyaan Investor Daily terkait kapan pengajuan pelaporan resmi ke Kementerian ESDM dan nasib 7% saham divestasi.

MedcoEnergi Group dan AP Investment bekerja sama mengakuisisi saham di AMI dengan dukungan dari tiga bank BUMN, yaitu Bank Mandiri, BNI, dan BRI dengan struktur transaksi berkelas dunia dan unik bagi perbankan Indonesia. Penyelesaian transaksi akan menunggu persetujuan dari pemerintah dan pemegang saham MedcoEnergi.

NNT memiliki izin konsesi penambangan di Indonesia melalui penandatangan kontrak karya yang diteken pada 1986. NNT melakukan penambangan tembaga di Batu Hijau, Sumbawa Barat di Nusa Tenggara Barat Setiap ton bijih yang diolah hanya menghasilkan 4,87 kilogram tembaga. Sedangkan emas jauh lebih sedikit hanya 0,37 gram dari setiap ton bijih yang diolah.

 Sumber : Investor Daily, 16 Juli 2016

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 29 Juli 2016 02:48 )
 

Amendemen Rampung, Setoran Royalti Kontrak Karya Naik

Surel Cetak PDF

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) menyatakan setoran royalti pemegang Kontrak Karya akan naik menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Hal ini seiring dengan ditandatangani amendemen kontrak.

Direktur Jenderal mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan, setoran pemegang Kontrak Karya memang lebih rendah dari ketentuan dalam Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 2012 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan pajak (PNBP).

"Selama ini yang dibayarkan (pemegang) kontrak karya memang lebih rendah. Dengan amandemen kontrak maka tarif royalti akan mengikuti PP 9/2012," kata Bambang di Jakarta, Jumat (15/7).

Bambang menegaskan, pemerintah tidak berencana menaikan royalti mineral. Pasalnya, hingga saat ini PP 9/2012 belum direvisi. Namun setoran royalti 10 pemegang kontrak karya sudah meningkat Hal ini lantaran 10 perusahaan tersebut sudah menandatangani amendemen kontrak. Sampai saat ini, tercatat ada 34 pemegang kontrak karya di Indonesia.

"Jadi tidak ada itu pemerintah mau menaikkan royalti. Tapi amendemen kontrak yang membuat setoran royalti mereka bertambah," ujarnya.

Berdasarkan PP 9/2012, royalti emas ditetapkan sebesar 3,75%, sedangkan dalam kontrak karya hanya 1%. Kemudian untuk royalti Tembaga dalam PP 9/2012 ditetapkan sebesar 4%, sementara dalam kontrak karya hanya 3,75%. Selanjutnya, untuk royalti perak dalam PP 9/2012 ditetapkan sebesar 3,25%, sedangkan dalam kontrak karya royalti perak 1%.

Dikatakannya amandemen 34 kontrak karya ditargetkan rampung pada akhir 2016 ini. Dengan begitu mulai 2017 setoran royalti mineral akan bertambah. Meski belum tanda tangan amendemen kontak, lanjut Bambang, setoran royalti PT Freeport Indonesia sudah meningkat alias mengikuti ketentuan PP 9/2012.

Tujuan amandemen kontrak antara lain meningkatkan penerimaan negara," kata Bambang.

Peningkatan penerimaan PNBP bukan hanya melalui amandemen kontrak. Kementerian ESDM telah membentuk Direktorat Penerimaan mineral dan Batubara sebagai salah satu upaya peningkatan PNBP. Rencananya, Direktur atau setara dengan pejabat eselon II yang akan memimpin direktorat tersebut akan dilantik pada 20 Juli mendatang.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko menuturkan, setelah pelantikan maka Direktur terpilih bisa langsung bekerja.

 Sumber : Investor Daily, 18 Juli 2016

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 29 Juli 2016 01:57 )
 

Penerimaan Negara Berpeluang Naik

Surel Cetak PDF

By: Lucky L. Leatemia

JAKARTA - Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) berupa royalti sektor Pertambangan mineral dan batu bara dipastikan melonjak pada tahun depan setelah seluruh perusahaan pemegang Kontrak Karya menandatangani amendemen kontrak.

Direktur Jenderal mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan amendemen kontrak akan menyesuaikan tarif royalti para pemegang Kontrak Karya (KK) dengan ketentuan yang berlaku sekarang.

Dia menjelaskan, tarif royalti pemegang KK yang belum diamendemen kontraknya memang lebih rendah dari ketentuan yang ada dalam Peraturan Pemerintan Nomor 9/2012 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan pajak.

"Selama ini yang dibayarkan KK memang lebih rendah. Dengan amendemen kontrak, maka tarif royalti akan mengikuti PP Nomor 9," katanya, akhir pekan lalu.

Bambang menegaskan, di luar ketentuan yang ada dalam PP 9/2012 itu, tidak ada kenaikan tarif royalti lagi untuk mineral. Dengan kata lain, tarif royalti bagi KK yang sudah amendemen kontrak dan para pemegang lisensi izin usaha Pertambangan (IUP) masih tetap.

Saat ini, sudah ada sepuluh KK yang sudah menandatangani amendemen kontrak-. Selain sepuluh KK tersebut, kendati belum teken amendemen, PT Freeport Indonesia sudah menyesuaikan tarif royalti sesuai PP 9/2012.

Kementerian ESDM pun menargetkan amendemen kontrak untuk 24 KK yang tersisa, termasuk Freeport, bisa dilakukan akhir tahun ini. Dengan begitu, royalti mineral dan batu bara (Minerba) pada 2017 bisa naik.

"Jadi, di luar itu [PP 9/2012] tidak ada itu pemerintah mau menaikkan royalti, tetapi amendemen kontrak yang membuat setoran royalti mereka bertambah," ujarnya.

Berdasarkan PP 9/2012, royalti emas ditetapkan 3,75%, sedangkan dalam KK hanya 1%. Kemudian untuk royalti Tembaga dalam PP 9/2012 ditetapkan 4%, sedangkan dalam KK hanya 3,75%.

Selain itu, untuk perak yang dalam PP 9/2012 ditetapkan sebesar 3,25%, dalam KK hanya sebesar 1%.

Sebelumnya, Ketua Indonesian mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengatakan, amendemen kontrak sulit untuk dilakukan. Pasalnya, kedua belah pihak, pemerintah dan perusahaan, memiliki acuan hukum yang berbeda. "Perusahaan ingin kepastian jangka panjang dan kewajiban sesuai kontrak."

Menurutnya, harapan atas penyelesaian masalah tersebut ada pada revisi UU Nomor 4/2009 tentang Pertambangan mineral dan Batubara yang ditargetkan rampung akhir tahun ini. Jika regulasi tersebut nantinya bisa mengakomodasi dua kepentingan, negara dan perusahaan, maka penandatanganan amendemen kontrak tak perlu menungu waktu lama.

Seperti diketahui, target PNBP Minerba terus diturunkan lantaran harga komoditas masih berada dalam tren penurunan. Pada tahun lalu, PNBP yang ditargetkan Rp52,2 triliun tidak tercapai, hanya terealisasi Rp29,63 triliun.

Sama halnya dengan target tahun ini yang dalam APBN 2016 ditetapkan Rp40,8 triliun, diturunkan dalam APBN-P 2016 menjadi Rp30,l triliun.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 18 Juli 2016

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 29 Juli 2016 01:55 )
 

SELANGKAH LAGI MEDCO ENERGI (MEDC) MILIK ARIFIN PANIGORO KUASAI NEWMONT

Surel Cetak PDF

Sukirno

SELANGKAH lagi, perusahaan minyak dan gas milik Arifin Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk. menguasai 76% saham PT Newmont Nusa Tenggara dengan nilai US$2,2 miliar setara Rp30 triliun.

Komisaris Utama PT Medco Energi Internasional Tbk. Muhammad Lutfi belum bersedia berkomentar terkait rampungnya penandatanganan pembelian saham Newmont. Mantan Menteri Perdagangan itu mengaku terikat perjanjian non disclosure agreement.

"Negosiasi masih belum selesai, masih berlangsung," ujarnya saat dikonfirmasi Bisnis melalui sambungan telepon, Senin (20/6/2016).

Saat ini, komposisi saham NNT dikempit oleh Nusa Tenggara Partnership B.V. sebesar 56%, PT Multi Daerah Bersaing sebesar 24%, PT Pukuafu Indah sebesar 17,8%, dan PT Indonesia Masbaga sebesar 2,2%. Sedang-kan, sebesar 7% saham Nusa Tenggara Partnership B.V, tengah dalam proses divestasi kepada pemerintah Indonesia.

 

Memang, Mendag era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu sempat bertandang ke Istana Negara pada 28 Maret 2016. Selama sekitar 1,5 jam, Lutfi yang ditemani oleh Arifin Panigoro dan Hilmi Panigoro ber-bincang tertutup dengan Presiden Joko Widodo untuk membicarakan akuisisi Newmont.

 

Saat itu, saham emiten bersandi MEDC melambung hingga 13,27%. Lonjakan saham MEDC menyusul pada November 2015 ketika Arifin Panigoro menyatakan keinginan untuk mengakuisisi 76% saham Newmont dan membuat peningkatan harga 12,07%.

 

Perdagangan Senin (20/6/2016), saham MEDC pun kembali ditutup menguat 8,57% sebesar 120 poin ke level Rp1.520 per lembar. Sepanjang tahun berjalan, saham MEDC memberikan return 91,19% dengan kapitalisasi pasar Rp5,09 triliun.

 

Dua aksi korporasi tengah dirancang oleh Medco. Perseroan menerbitkan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 3,04 miliar lembar dengan target perolehan dana Rp4,65 triliun.

 

Dana hasil rights issue itu sebesar 70% akan digunakan untuk refinancing dan 30% bagi kebutuhan modal kerja. Perseroan juga tengah merancang penawaran umum ber-kelanjutan (PUB) II dengan nilai Rp5 triliun.

 

Tahap pertama, obligasi yang dirilis senilai Rp1,5 triliun. Dana dari emisi obligasi sebesar 70% juga bakal dialokasikan untuk refinancing dan sisanya bagi kebutuhan modal kerja dan rencana akuisisi.

 

Bila menilik dalam laporan keuangan yang terakhir dirilis Medco, total utang perseroan membengkak 33,26% menjadi US$1,58 miliar dari US$1,18 miliar.

 

Membengkaknya total utang perseroan terjadi lantaran pinjaman perbankan jangka panjang setelah dikurangi dengan biaya jatuh tempo dalam satu tahun meroket tajam. Pada periode 2015, utang itu melesat 66,75% menjadi US$908,21 juta dari tahun sebelum-nya US$544,66 juta.

Posisi total utang terhadap ekuitas Medco Energi hingga akhir tahun lalu mencapai 2,25 kali. Total utang bank MEDC per 31 Desember 2015 mencapai US$1,08 miliar yang terdiri dari jatuh tempo tahun ini US$179,5 juta dan jangka panjang US$908,21 juta.

Hilmi Panigoro, Direktur Utama Medco Energi, belum lama ini menyebutkan perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/Capex) senilai US$50 juta. Belanja modal itu akan digunakan untuk pembangunan fasilitas produksi gas blok A di Aceh.

Perseroan memastikan akan merogoh kas internal dan pinjaman dari perbankan untuk kebutuhan belanja modal 2016. Hingga akhir tahun lalu, saldo kas dan setara kas mencapai US$463,17 juta, melonjak 124% dari akhir tahun sebelumnya US$206,63 juta.

Terpisah, Direktur PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee, menilai akuisisi Newmont bakal mendukung kinerja Medco secara konsoli-dasian. Dalam outlook keuangan dan operasi Newmont tahun ini, produksi emas di Tambang Batu Hijau yang dioperasikan oleh Newmont diproyeksi mencapai 525.000 ounce hingga 575.000 ounce. Sebanyak 250.000 ounce hingga 275.000 ounce bakal diatribusikan kepada entitas induk Newmont.

Begitu pula dengan produksi tembaga yang diproyeksikan mencapai 170.000 ton hingga 190.000 ton. Dari jumlah tersebut, 80.000 ton sampai 100.000 ton akan diatribusikan ke perusahaan induk.

"Newmont mengantongi laba, akhirnya nanti laba Medco Energi juga akan melonjak.  Tentu akan menguntungkan bagi Medco, meski akuisisi menggunakan pinjaman," tuturnya.

Akuisisi saham Newmont yang meng-gunakan dana pinjaman dinilai sebagai aksi berani yang dilakukan oleh manajemen Medco. Tentu, pertaruhan kinerja Medco setelah akuisisi akan menjadi jaminan untuk pembayaran utang.

 

Meski tidak inline dengan core business Medco di bidang minyak dan gas, akuisisi Newmont diproyeksi bakal menguntung-kan. Pasalnya, Grup Bakrie juga telah lama ingin mengakuisisi kepemilikan saham Newmont meski tak kunjung berhasil.ยจ

Sumber : Bisnis.com, 21 Juni 2016



Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 13 Juli 2016 10:10 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL