Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Medco Kantongi Restu Presiden

Surel Cetak PDF

Lucky L Leatemla

JAKARTA - Proses akuisisi saham PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) memasuki babak akhir setelah pemilik Medco Group Arifin Panigoro menyatakan telah mengantongi restu Presiden Joko Widodo.

Arifin menuturkan, Medco telah memberikan laporan perkembangan terakhir rencananya tersebut. Menurutnya, Presiden Joko Widodo sudah memberikan restunya dan siap memberikan bantuan.

"Ini kan kemampuan nasional, tentu dia (Presiden] bantu," ujarnya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Selasa (5/4).

Dia juga menyatakan siap mengakuisisi seluruh saham PTNNT alias 100% yang saat ini dimiliki oleh beberapa pihak, termasuk Grup Bakrie, Pukuafu Indah milik Jusuf Merukh dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat.

Dalam komposisi kepemilikan saham PTNNT, Nusa Tenggara Partnership B.V yang terdiri dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation memegang 56% saham termasuk di antaranya 7% saham yang masih dalam proses divestasi kepada Pemerintah Indonesia.

Selanjutnya, PT Multi Daerah Bersaing (PTMDB) memiliki 24%. PTMDB merupakan perusahaan patungan antara PT Daerah Maju Bersaing, perusahaan milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan PT Multicapital, anak usaha PT Bumi Mineral Resources Tbk. yang berada di bawah bendera Grup Bakrie.

Pemegang saham lainnya adalah PT Pukuafu Indah (PTPI) sebesar 17,8% dan PT Indonesia Masbaga Investama (PTIMI) 2,2%. Kontrak Newmont Nusa Tenggara akan berakhir pada 2030.

Mskipun sudah menyatakan siap untuk memborong seluruh saham tersebut, Arifin masih enggan mengungkapkan nilainya maupun dana yang telah disiapkan. Adapun kabar yang berkembang menyebutkan nilainya berada di kisaran US$2 miliar-US$3 miliar untuk 100% saham Newmont Nusa Tenggara. Namun, dia memastikan penjajakan utang dilakukan terhadap bank dalam dan luar negeri.

"[Bank] dalam dan luar, salah satunya Mandiri. Tunggu pengumumannya. Saya kira pekan ini," katanya.

Menurutnya, pembelian PTNNT merupakan strategi bisnis yang wajar. Pasalnya, industri minyak dan gas yang menjadi pilar bisnis PT Medco Energi Internasional Tbk. tengah terpuruk.

Dia menilai, industri tersebut baru akan membaik dalam 2 hingga 3 tahun mendatang. Lain halnya dengan komoditas emas yang dianggap masih relatif stabil.

Selain itu, dia juga mengatakan siap berinvestasi dalam fasilitas pemurnian (smelter) apabila akuisisi itu terlaksana. "Itu kami sudah janji."

TUNGGU LAPORAN

Sementara itu, pihak Kementerian ESDM masih menunggu laporan dari pihak PTNNT terkait dengan rencana akusisi tersebut.Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan, hingga kemarin pihaknya belum menerima laporan resmi dari perusahaan asal Amerika Serikat tersebut. "Belum ada pemberitahuan apa-apa ke kami," katanya.

Menurutnya, berdasarkan Kontrak Kar ya (KK) PTNNT, setiap hal yang berhubungan dengan perubahan kepemilikan saham harus dilaporkan kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM, baik sebelum maupun setelah akuisisi.

Sebelumnya, pada 25 November 2015, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyatakan, pengusaha nasional Arifin Panigoro akan membeli 76% saham PTNNT dengan nilai sekitar US$2,2 "miliar.

Terkait hal itu. Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menilai hal itu sangat wajar. Pasalnya, Newmont memilki potensi cadangan untuk tambang bawah tanah, di samping Blok Elang yang belum dikembangkan. "Kabarnya bisa lebih besar dari Batu Hijau, khususnya emas," tuturnya kepada Bisnis.

Senada dengan Irwandy, Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso mengatakan periode KK Newmont masih cukup lama, sehingga masih akan menguntungkan bagi investor. "Newmont juga setidaknya sudah memiliki kepastian cadangan [tembaga dan emas]."

Sebelumnya, anggota Komisi VII DPR Kurtubi menyatakan, akuisisi saham Newmont oleh perusahaan nasional sejalan dengan kebijakan divestasi perusahaan pertambangan sehingga ada transfer penguasaan sumber daya alam dari asing ke dalam negeri.

"Siapapun yang membeli saham mayoritas yang dimiliki investor asing, bebas-bebas saja karena ini urusan korporasi semata, asal mendapat persetujuan dari Pemerintah Indonesia."

Dia mengusulkan agar Newmont dapat membangun smelter di Pulau Sumbawa sehingga memberikan dampak positif bagi perekonomian NTB karena akan menyerap banyak tenaga kerja.

"Medco juga diharapkan dapat menjual pasokan listrik ke PLN sehingga mengatasi pemadaman listrik di Pulau Sumbawa."

Juru bicara PTNNT Rubi Purnomo menuturkan, kemungkinan akuisisi tambang Batu Hijau saat ini telah menjadi bahan spekulasi pasar.

Dia mengatakan, Newmont dan Sumitomo masih melakukan pembicaraan dengan pihak-pihak yang berminat. Dia juga menegaskan belum ada pihak yang sudah dipastikan bakal melakukan akuisisi.

"Hingga saat ini, belum ada pihak yang dapat memberikan komitmen sepenuhnya atas pembiayaan atau persyaratan kesepakatan final," katanya.

Rubi melanjutkan pihaknya masih tetap fokus untuk mengoperasikan Batu Hijau secara aman dan efisien.

 Sumber : Bisnis Indonesia, 06 April 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 14 April 2016 03:47 )
 

Indonesian group to control Newmont Mining unit

Surel Cetak PDF

An Indonesian group will buy a controlling stake in Newmont Mining Corps local operations in a deal that is expected to be announced this week, Indonesian businessman Arifin Panigoro said on Tuesday.

A slowdown in demand from China has hammered the prices of commodities ranging from copper to coal, but investors are increasingly sniffing out deals to take advantage of the relatively more attractive valuations of Indonesian assets.

Arifin is the founder of oil and gas firm PT Medco Energi Internasional Tbk. He told reporters on the sidelines of an event that Indonesian

President Joko Widodo approves of the deal to buy the stake in the local Newmont unit, Newmont Nusa Tenggara, as it is "in [the] national interest".

Arifin expressed an interest in buying a 76 percent stake in the Newmont unit with his partners, according to comments from the Indonesian coordinating minister for maritime affairs and resources in November. There is no indication that the purchase would be made through Medco Energi.

Arifin declined on Tuesday to disclose the size of the deal, but said it is aimed at business diversification.

However, a source with knowledge of the matter said the deal is valued around US$2 billion. The transaction will involve debt and equity, said the source who declined to be identified as he was not authorized to speak to the media.

Newmont Nusa Tenggara operates the open pit Batu Hijau mine, the second-biggest copper mine in Indonesia. Its stakeholders include New York-listed Newmont Mining, Japans Sumitomo Corp and Jakarta-listed Bumi Resources Minerals, controlled by the family-owned conglomerate Bakrie Group.

When asked to respond to Panig-oros comments, Newmonts Indonesia unit referred to an emailed statement that it issued on Friday. That statement said Newmont and Sumitomo were in discussions with "certain interested parties", but "none has secured fully committed financing or final deal terms" at that time.

Bumi Resources Minerals did not give an immediate comment

Relations between Newmont and the Indonesian government hit a low point in 2014 when the miner filed an international arbitration over the governments mineral ore export ban. Newmont later withdrew the lawsuit.

Newmont Nusa Tenggara is currently 56 percent-owned by Nusa Tenggara Partnership BV, a joint venture between Newmont Mining and Japans Sumitomo Corp. Another 17.8 percent is owned by PT Pukuafu Indah, 24 percent is held by PT Multi Daerah Bersaing, which is a joint venture between the local administrations firm with a company related to politically wired Bakrie family and 2.2 percent by PT Indonesia Masbaga Investama.

 Source : The Jakarta Post, April 06, 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 14 April 2016 03:42 )
 

Antam Gandeng Freeport

Surel Cetak PDF

JAKARTA - PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Freeport Indonesia (PTFI), dan PT Smelting (PTS) telah menandatangani MoU proyek pengembangan pabrik pengolahan anode slim dan pemurnian logam mulia (PMR). Melalui MoU ini, Antam dan PTFI akan bekerja sama untuk menjajaki partisipasi Antam dalam proyek PMR yang diusulkan PTFI.

"Penandatanganan MoU ini merupakan salah satu inisiatif kami untuk bertumbuh secara inorganik pada segmen usaha emas guna memberikan imbal hasil yang solid bagi pemangku kepentingan," tutut Dirut Antam, Tedy Badrujaman melalui keterangan resmi, Senin (4/4).

Diakuinya, upaya ini juga merupakan salah satu diver-sidikasi risiko Antam dalam memeroleh kepastian/eed emas untuk diolah dan merupakan sinergi dengan UBPP Logam Mulia. Dengan kompetensi dan

pengalaman dalam Bisnis emas dan logam mulia, kerjasama ini memiliki masa depan yang baik bagi perusahaan.

"MoU tersebut juga memberikan kesempatan di mana Antam berkeinginan untuk memeroleh opsi untuk membeli, mengelola, atau memasarkan hingga jumlah tertentu yang disepakati produk-produk logam mulia yang dihasilkan melalui proyek tersebut," paparnya.

Sampai dengan akhir Februari tahun 2016, Antam telah membukukan penjualan emas lebih dari 2 ton. Pada 2015, pendapatan dari komoditas emas mencapai 7,31 triliun rupiah atau naik 49 persen dibandingkan dari 2014.

Dengan dukungan produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung serta Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia, ANTAM terus berinovasi di dalam lini usaha emas dan logam mulia, diantaranya melalui pembukaan Butik Emas Logam Mulia yang sudah berjumlah 13 butik di kota-kota besar Indonesia, serta adanya produk ema dengan motif batik.

Seperi diketahu, sepanjang 2015 dilaporkan kontributor terbesar pendapatan Antam adalah penjualan emas dan feronikel.

 Sumber : Koran Jakarta, 05 April 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 14 April 2016 03:39 )
 

Akuisisi Newmont Kurangi Dominasi Perusahaan Asing

Surel Cetak PDF

anton c

JAKARTA - Rencana pengambilalihan saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) oleh perusahaan nasional PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai menjadi momentum tepat bagi perusahaan nasional. Jika tidak dilakukan sekarang, pemerintah akan kehilangan kesempatan untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara produsen produk tambang terbesar.

Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengungkapkan, transaksi ini sangat posi tifuntukmendukungkebijak-an pemerintah dalam meningkatkan kemandirian ekonomi nasional. Dengan berkurangnya dominasi investor asing di sektor Pertambangan, perusahaan nasional atau investor nasional dapat memaksimalkan peranannya di sektor tersebut. "Sekarang ada swasta nasional yang mau membeli, ya kita dukung. Pada prinsipnya kalau swasta nasional semakin maju, mereka bisa bayar pajak di sini. Diolah di dalam n egeri s ebelum diekspor. Keuntungannya bisa diputar lagi di dalam negeri, artinya positif untuk rakyat," katanya di Jakarta kemarin.

Saat ini 56% saham Newmont dimiliki oleh Nusa Tenggara Partnership BV. Kemudi-an,24%sahamdimilikiPTMul-ti Daerah Bersaing (MDB),

17,8% PT Pukuafu Indah, dan 2,2% dimiliki Indonesia Mas-baga Investama. Saat didives-tasikan pada 2013 nilai 7% sa-hamNewmontdipatoksebesar USD246,8juta. Diperkirakan, harga 76% saham Newmont sekitar USD 2,2 miliar atau Rp30,l triliun. PT NNT di Pulau Sumbawa NTB, memiliki beberapa area Pertambangan yaitu di Batu Hijau, Dodo, Rin-tih, dan Elang. Saat ini yang sudah dieksplorasi baru di area Batu Hijau yang mendapatkan izin kontrak karya sejak 1986. Anggota Komisi VII DPR Kurtubi menyatakan, akuisisi saham Newmont oleh perusahaan nasional juga sejalan de-ngankebijakan divestasi perusahaan Pertambangan Pemerintahan Joko Widodo yang mengharapkan ada transfer penguasaan sumber daya alam dari asing ke dalam negeri. "Siapa pun yangmembeli saham mayori tas yang dimiliki in vestor asing bebas-bebas saja karena ini urusan korporasi semata asal mendapat persetujuan dari Pemerintah Indonesia," tuturnya.

Kurtubi berharap pemilik baru akan dapat menambah dampak positif bagi Indonesia, khususnya masyarakat Pulau Sumbawa sebagailokasi Pertambangan Newmont. Dia mengusulkan Newmont dapat membangun smelter di Pulau Sumbawa sehingga memberikan dampak positif bagi perekonomian NTB karena akan menyerap banyak tenaga kerja. "Medco juga diharapkan dapat menjual pasokan listrik ke PLN sehingga mengatasi pemadaman listrik di Sumbawa," imbuhnya.

Kurtubi menilai divestasi saham Pertambangan dari investor asing kepada investor nasional akan dapat meningkatkan ketahanan energi nasional. Bila benar terjadi, transaksi penjualan antara Medco dan PT Newmont Nusa Tenggara yang tidak gaduh menun-jukkanbahwaprosespenjualan saham mayoritas dalam sektor Pertambangan tidak rumit. Transaksi tersebut bisa menjadi benchmark sekaligus preseden ideal serta studi kasus menarik dalam kasus divestasi perusahaan tambang yang ada di Indonesia. "Perkembangan ini sangat positif karena prosesnya sederhana dan bisa menjadi acuan kalau ada divestasi perusahaan tambang yang adadilndonesia,"kata Kurtubi.

Kabar perusahaan nasional mengakuisisi saham Newmont yang notabene perusahaan asal Amerika Serikat memang menjadi kabar baik bagi Indonesia. Selama ini kepemilikan investor asing terhadap perusahaan Pertambangan di Indonesia tetap dominan. Perusahaan asing belum terlalu terbuka untuk menggandeng investor nasional untuk bersama-sama mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia.

 Sumber : Seputar Indonesia, 04 April 2016

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 14 April 2016 03:22 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL