Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Hilirisasi Tak Kunjung Berjalan

Surel Cetak PDF

Kementerian ESDM sampai saat ini belum mampu memaksa produsen mineral membangun smelter. Alhasil, program peningkatan nilai tambah mineral yang diprediksi tidak akan terlaksana sesuai target.

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) seolah tak memiliki taji untuk memaksa perusahaan raksasa seperti PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara untuk membangun smelter tepat waktu yakni 2017. Padahal, mereka sudah bertahun-tahun mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Dengan berbagai alasan, Kementerian ESDM selalu memberi kemudahan bagi dua produsen Tembaga dan emas itu. Hal ini bisa dilihat dari diperbolehkannya Freeport memperpanjang ekspor konsentrat dari Januari-Juli 2015.

Padahal, sebelumnya pemerintah hanya akan memberi izin ekspor jika pencapaian pembangunan smeller sudah mencapai persentase tertentu.

Parahnya, smelter Freeport malah baru menyewa lahan, belum ada konstruksi. Dengan dalih sudah membuat komitmen dengan penyewa lahan yakni PT Petrokimia Gresik, Kementerian ESDM mengizinkan ekspor Freeport Celakanya, saat Freeport sudah menetapkan lokasi smeller di Gresik, ada desakan juga agar Freeport membangun smelter di Papua. Kebingungan pun kembali melanda Kementerian ESDM soal mana yang lebih prioritas dibangun? Di Gresik atau Papua?

Atas alasan itulah kemudian, pemerintah akan merancang aturan baru agar proyek smelter bisa dimolorkan lagi. Dari seharusnya 2017 menjadi belum ditentukan waktunya "Apa boleh buat," kata Sukhyar, Direktur Jenderal mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) pekan lalu.

Selain itu, untuk smelter Freeport yang sudah terlanjur mendapat lahan di Gresik kemungkinan besar akan bekerjasama dengan PT Newmont Nusa Tenggara, PT Kalimantan Surya Kencana, dan PT Gorontalo minerals. Padahal, aturannya adalah setiap produsen harus memiliki smelter sendiri.

Tak hanya itu, Daisy Primayanti, Juru Bicara Freeport Indonesia menyatakan, pihaknya meminta kepastian perpanjangan operasi pasca 2021 sebelum mengucurkan investasi untuk bangun smelter di Gresik

Kondisi inilah yang membuat pengamat Pertambangan Simon Sembiring miris. Ia menilai langkah pemerintah dalam mengambil kebijakan hilirisasi mineral sudah menyimpang. Sebab, UTJ Minerba secara tegas menginstruksikan, kewajiban pemurnian di dalam negeri harus dilaksanakan 12 Januari 2014 lalu.

"Sejak awal, pemerintah tidak konsisten menjalankan UU Minerba. Harusnya sejak 2014 mereka melakukan pemurnian, tapi kok dimundurkan sampai 2017, lalu mau dimundurkan lagi, nanti pun mundur lagi, mau sampai kapan," ujar dia. Muhammad Yazid, Azis Husaini

 Sumber : Kontan, 27 februari 2015

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 27 Februari 2015 08:18 )
 

Masa Berlaku MoU Amendemen Kontrak Newmont Segera Habis

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) menyatakan penyusunan amendemen kontrak PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) belum selesai. Padahal ESDM dan NNT telah bersepakat menyusun amendemen tersebut selama enam bulan yang berakhir pada 3 Maret mendatang. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) amendemen kontrak Pertambangan.

Direktur Jenderal mineral dan Batubara Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan pihaknya akan memanggil manajemen NNT untuk membahas MoU yang segera berakhir masa berlakunya. "Kamis kami akan panggil NNT khusus membahas ini (MoU)," kata Sukhyar di Jakarta, Rabu (25/2).

Sukhyar menuturkan, MoU amendemen kontrak NNT sama dengan MoU Freeport yang memiliki batas waktu selama 6 bulan. MoU NNT ditandatangani pada 3 September 2014. Dia menjelaskan batas waktu MoU tersebut disepakati guna kepastian dalam penyusunan amendemen kontrak. Penyusunan tersebut dilakukan menyusul disepakatinya 6 poin renegosiasi kontrak. Namun Sukhyar menyangkal akan ada perpanjangan masa MoU bagi NNT seperti yang dilakukan pada MoU Freeport "Kami belum bicara mengenai perpanjangan," ujarnya.

Dia mengatakan, menyusun amendemen kontrak bukanlah erkara mudah. Pasalnya amandemen itu berisi penjabaran secara rinci terkait kesepakatan enam poin renegosiasi Kontrak Karya yakni mengenai pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian di dalam negeri (smelter), pengurangan luas lahan tambang, perubahan perpanjangan kontrak menjadi izin usaha Pertambangan Khusus (IUPK), kenaikan royalti untuk penerimaan negara, besaran divestasi, serta penggunaan barang dan jasa Pertambangan dalam negeri. Nantinya amandemen itu akan ditilang dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. "Soal smelter dan penerimaan negara yang belum selesai," ujarnya.

Sukhyar menuturkan dalam pertemuan besok itu akan dibahas mengenai pembangunan smelter. Pasalnya NNT telah berkomitmen membangun smelter dengan beberapa pihak yakni PT Indosmelt, PT Nusantara Smelting, serta tergabung dalam smelter Tembaga nasional. "NNT bertindak sebagai pemasok konsentrat. Kami ingin kepastian berapa banyak konsentrat yang dipasok," jelasnya.(rap)

 Sumber : Investor Daily, 26 Februari 2015

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 27 Februari 2015 08:15 )
 

Saham 7% Bakal Diambil Pusat

Surel Cetak PDF

JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral menegaskan bila divestasi PT Newmont Nusa Tenggara sebesar 7% akan diserap oleh pemerintah pusat. Dirjen mineral dan Batubara R. Sukhyar mengungkapkan bila dalam kesepakatan yang sudah ada ketentuan divestasi sebesar 7% saham Newmont akan diberikan kepada pemerintah pusat.

Namun, lanjutnya, terkait permintaan Pemda Kabupaten Sumbawa Barat untuk mengambil divestasi itu dengan menggandeng Badan Usaha Milik Negara, belum ada pembicaraan dengan BUMN mineral PT Aneka Tambang Tbk. (Antam).

"Kerja sama dengan Antam saya kira ndak ada. Belum ada pembicaraan di Antam," katanya yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Antam, Rabu (25/2).

Pernyataan itu, dibenarkan oleh Sekretaris Perusahaan Antam Tri Hartono bila belum ada pembicaraan antara pihaknya dengan Pemda Sumbawa Barat terkait divestasi Newmont 7%. "Belum ada pembicaraan," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Sumbawa Barat Zulkifli Muhadli mengatakan pihaknya siap menggandeng badan usaha milik negara (BUMN) untuk membeli sisa saham 7% PT Newmont Nusa Tenggara.

"Memang pemerintah daerah tidak memiliki uang, tetapi kita memiliki emas yakni tambang emas. Karenanya, siapa saja yang ingin bermitra dengan pemerintah daerah, termasuk BUMN, kita siap," katanya.

Dia menilai seharusnya sisa 7% saham PT Newmont Nusa Tenggara itu menjadi hak Kabupaten Sumbawa Barat karena sebagai daerah penghasil maka pemerintah daerah seharusnya diberikan kewenangan untuk mengelola melalui pembelian saham itu.

"Coba bayangkan dalam setahun Newmont mengeruk kekayaan untuk dibawa dan dijual ke luar negeri mencapai Rp20 triliun. Kami daerah penghasil hanya diberikan royalti Rp70 miliar. Padahal kekayaan daerah ini sudah dikeruk, lalu dimana keadilan itu," ujarnya.

Bisnis mencatat, pemerintah daerah sejak 2009 bersama mitranya PT Multi Capital (Bakrie Group) telah memiliki 24% saham PT Newmont Nusa Tenggara yang sudah dilepas melalui skema divestasi.

Bila, sisa divestasi saham sebesar 7% ini jatuh ke tangan Pemda, maka genaplah porsi pemda menjadi 31% dalam saham kepemilikan PT Newmont Nusa Tenggara.

Pemerintah daerah siap menyanggupi aspek persyaratan yang diminta oleh pusat yakni terkait mitra dalam proses divestasi sehingga lebih transparan.

Pasalnya, Bakrie Group telah menyatakan kepada pemerintah daerah tidak lagi berminat memodali pemerintah daerah dalam pembelian 7% saham itu.

AMENDEMEN KONTRAK

Pemda juga siap menggelar lelang terbatas dan terbuka. Hanya saja, jika daerah ditunjuk untuk membeli sisa 7% saham itu, pembelian saham bakal melibatkan tiga daerah melalui melalui PT Daerah Maju Bersaing (PT DMB) yang dimiliki Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

Sementara itu, Newmont Nusa Tenggara diminta untuk segera memenuhi panggilan Kementerian ESDM untuk membicarakan pembahasan amendemen kontrak karya. Pasalnya, nota kesepahaman yang ditandatangani kedua pihak pada 3 September 2014 bakal habis masa berlakunya pada 3 Maret 2015.

Dirjen mineral dan Batubara Kementerian ESDM R. Sukhyar mengatakan pihaknya akan memanggil perusahaan pada Kamis (26/2) membicarakan lebih lanjut soal nota kesepahaman itu.

Sayangnya, Sukhyar enggan membeberkan secara detail apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu. E3,Lukas Hendra

 Sumber : Bisnis Indonesia, 26 Februari 2015

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 27 Februari 2015 08:14 )
 

Copper Falls As Stockpiles Rise To 12-Month High

Surel Cetak PDF

Bloomberg

Copper fell a third day as stockpiles rose to the highest in a year and before data that may show slowing demand from China, the world’s biggest consumer.

The metal slid as much as 0.6 percent after closing at the lowest since Feb. 17. Inventories tracked by the London Metal Exchange rose to 299,675 metric tons, the highest since February 2014 and up 69 percent this year, bourse data showed Monday. Manufacturing in China contracted for a third month in February, according to a Bloomberg News survey before a private gauge to be published Wednesday, when the country’s markets reopen after the Lunar New Year holiday that started Feb. 18.

"The rising LME stocks do certainly indicate there’s plenty of stock there," said David Lennox, an analyst at Fat Prophets in Sydney. "We’ll have to wait and see when China gets back what their pick-up of the slack will be. We haven’t seen too much in the way of positive news out of China."

Copper for delivery in three months on the LME fell 0.6 percent to US$5,639.50 a ton ($2.56 a pound) at 307 p.m. in Hong Kong. In New York, May futures slid 0.7 percent to $2.5685 a pound.

BHP Billiton Ltd., the world’s biggest mining company, announced plans on Monday to cut project spending to the lowest since 2010. The miner joins Rio Tinto Group, Glencore Plc and Freeport-McMoRan Inc. in reducing investment in the wake of weaker metals prices. An index of the six main base metals on the LME has fallen 7.7 percent since the start of the year.

"Current low prices are expected to intensify the looming supply deficit, as projects are deferred or delayed," BHP Billiton said in a statement, referring to Copper. The market this year will be balanced by increased spending on Chinas power grid and US housing construction, Andrew Mackenzie, the company’s chief executive officer, said during an analyst call.

Mine-supply growth will slow to 1.3 percent this year, compared with 2 percent in 2014, Citigroup Inc. analysts including David Wilson said in a research note dated Feb. 24.

"Bearish sentiment is being driven by concerns over China macro slowing to the exclusion of analysis of supply trends," the bank said in the report. "We expect increasing supply problems to be highly supportive of Copper prices in the second half of the year, and continue to target a return to $7,000 a ton levels before year-end."

Also on the LME, aluminum rose as much as 0.6 percent, the first gain in four days. Inventories of the metal tracked by the exchange have fallen to the lowest since May 2009.

Meanwhile, gold traded near $1,200 an ounce before Federal Reserve Chair Janet Yellen addresses lawmakers in remarks that may give signals about the interest rate outlook and as investors tracked Greek efforts to secure bailout funds.

Bullion for immediate delivery was at $1,201.29 an ounce at 213 p.m. in Singapore from $1,201.83 on Monday, according to Bloomberg generic pricing. Prices fell to $1,191.19 on Feb. 23, the lowest since Jan. 5, as Greece sought a deal with creditors to unlock further cash by the end of the month.

Yellen is scheduled to testify in the Senate on Tuesday and the House of Representatives the next day. She will probably provide an update on the banks view after policy makers signaled at their Jan. 27-28 meeting they’re willing to keep interest rates low for longer given risks to the Economy. Greece’s month-old government submitted a draft list of new economic measures to creditor institutions on Monday that are offered in exchange for four months of additional funding.

Gold for April delivery was little changed at $1,200.90 an ounce on the Comex. The most-active contract fell as much as 1.2 percent to $1,190.60 on Monday, the lowest since Jan. 5.

Silver for immediate delivery was little changed at $16.3376 an ounce. Spot platinum rose 0.2 percent to $1,166.13 an ounce, set for the first climb in six days. Palladium increased 0.1 percent to $788.22 an ounce.

Source : The Jakarta Post, February 25, 2015

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 27 Februari 2015 08:08 )
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL