Kementerian ESDM belum memastikan akan menjatuhkan sanksi.
Dini Hariyanti /
Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya
PEMERINTAH dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa PT Freeport Indonesia dengan belum boleh melakukan kegiatan produksi. Ini sejalan belum selesainya proses investigasi penyebab runtuhnya tambang bawah tanah Big Gossan pada 14 Mei.
"Sekarang tidak boleh operasi untuk produksi. Baru bisa dilakukan maintenance perawatan lingkungan dan keselamatan kerja," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara ESDM Thamrin Sihite, di Jakarta, pekan lalu.
Ia menolak anggapan kalau tak berjalannya kegiatan produksi bijih lembaga dan emas pada wilayah kerja Freeport di Papua menyebabkan kerugian pada negara. Sebab pendapatan negara dari kegiatan produksi tambang oleh PTFI pun tersendat.
"Tidak ada kerugian. Nyawa itu lebih tinggi daripada uang. Produksi tidak berjalan bukannya negara jadi rugi, hanya penerimaan negara tertunda," ucap Thamrin kepada wartawan.
Setelah runtuhnya Big Gossan menyebabkan 28 pekerja meninggal dunia, pada 31 Mei 2013 kembali terjadi insiden serupa. Kali ini terjadi di area kerja Deep Ore Zone (DOZ) menyebabkan satu pekerja tewas.
Thamrin menyatakan runtuhnya DOZ bukan disebabkan adanya kegiatan produksi. Melainkan pada area itu sedang dilakukan pekerjaan perawatan (maintenance). Kini, imbuhnya, seluruh insiden di wilayah tambang Freeport Indonesia sedang diselidiki lebih jauh penyebabnya.
"Freeport baru bisa produksi lagi kalau sudah dapat surat rekomendasi dari pemerintah. Menteri ESDM yang menentukan sudah boleh dibuka lagi atau belum untuk kegiatan produksi," tutur Thamrin.
Manajemen PTFI mengakui peristiwa yang terjadi di Deep Oore Zone, Vice President Corporate Communications PTFI Daisy Primayanti sebelumnya mengatakan kejadian di DOZ merupakan longsoran material bijih basah (wef muck).
"Perusahaan menyesalkan kecelakaan yang terjadi saat dilakukannya kegiatan pemeliharaan yang telah disepakati di tambang bawah tanah DOZ. Material wet muck terus mengalir dari wadah penampung dan kemudian menutupi truk berikut operatornya," tulisnya dalam surat elektronik, pekan lalu.
Ia menegaskan peristiwa di DOZ bukan keruntuhan seperti di Big Gossan. Melainkan kecelakaan kerja lantaran tidak sesuainya kegiatan pemeliharaan dengan panduan keselamatan perusahaan untuk penanganan wet muck.
Wilayah kerja pertambangan DOZ berlokasi di Distrik Tcmbagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Peristiwa keruntuhan terjadi pada Jumat (31/5) sekitar pukul 13.00 WIT.
"Kejadian ini tidak disebabkan oleh runtuhnya area tambang seperti yang telah dilaporkan secara tidak akurat dan tidak dapat merefleksikan integritas yang telah selalu dilaksanakan di area tambang," ucap Daisy.
Untuk diketahui, operator truk yang terlibat dalam kejadian ini langsung dilarikan ke Rumah Sakit Tembagapura sesaat setelah kejadian. Pemerintah pun menyesalkan sampai terjadinya peristiwa ini.
Tunggu Laporan Lengkap
"Sebetulnya katanya itu bukan runtuh, tapi kecelakaan ketika sedang dilakukan maintenance. Tim investigasi geologi belum laporkan hasil detail (ke ESDM)." kata Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo saat dihubungi Jurnal Nasional, akhir pekan lalu.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta Freeport melaporkan kondisi pertambangannya sebelum mulai melakukan produksi bijih emas dan tembaga di area kerja pertambangan terbuka Grasberg.
"Freeport sendiri memang harus melaporkan perkembangan tambangnya sebelum mulai produksi penuh lagi," ujar Susilo.
Pelaporan itu penting agar kejadian seperti di Big Gossan ataupun di DOZ tidak terjadi lagi. Khusus tambang bawah tanah belum boleh beroperasi lagi. Tapi kalau PTFI mau mengoperasikan kembali wilayah tambang terbuka harus meminta Izin ESDM dulu.
Kementerian belum dapat memastikan akan menjatuhkan sanksi kepada Freeport atau tidak. Keputusan ini harus menunggu hasil penyelidikan tim investigasi dan inspektur tambang.
Sejak tambang bawahtanah Big Gossan level 3020 PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua runtuh pada 14 Mei 2013 kegiatan produksi berhenti. Sebelumnya, Freeport Indonesia menyatakan kegiatan produksi akan kembali dilakukan mulai 30 Mei 2013.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Rozik B Soetjipto menyatakan kabar tersebut kepada wartawan, di Jakarta, pekan lalu. Namun kembali berlangsungnya kegiatan produksi tak langsung mencapai volume normal.
"Persiapannya kami sudah mulai. Produksi normal saya kira dalam beberapa hari ke depan, sekitar dua atau tiga hari," tutur Rozik. Sedianya dari tambang Grasberg memproduksi sekitar 140 ribu ton bijih per hari.
Hanya disampaikan bahwa penghentian produksi Freeport beberapa hari terakhir merupakan inisiatif perusahaan. Bukan karena perintah pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM.
"Kementerian tidak meminta kami menghentikan kegiatan service mining. Ini adalah keputusan kami sendiri seiring terjadinya keruntuhan Big Gossan." ucap Rozik. Menyoal penghentian kegiatan produksi bakal mempengaruhi target produksi tahunan PTFI atau tidak, ia enggan menjawab. Hanya dikatakan, perseroanbelum mengalkulasi hal tersebut.
Penyebab runtuhnya tambang bawah tanah Big Gossan di wilayah kerja PT Freeport Indonesia di Papua akan dievaluasi hingga dua bulan ke depan. Penyelidikannya dilakukan dua tim berbeda, yakni tini inxstigasl independen dan tim inspeksi gabungan internal Freeport dan inspektorat tambang.
Rozik menuturkan, pihaknya terus mengumpulkan Informasi teknis untuk mengetahui penyebab runtuhnya Big Gossan yang menewaskan 28 pekerja. Kurun waktu dua bulan itu diperlukan bagi tim independen untuk mencari tahu penyebab kejadian.
Khusus untuk kegiatan produksi tambang bawah baru dapat dilanjutkan jika tim Inspeksi sudah memberi lampu hijau.
"Pemeriksaan safety di underground selesai kapan ya tanya sama inspektur tambang. Tanpa izin dari inspektur tambang kita tidak bisa mulai," ucap Rozik.
Perlu diketahui, tim investigasi khusus menyelidiki penyebab terjadinya reruntuhan. Sedangkan tim inspeksi fokus mencegah kejadian serupa kemudian hari. Proses inspeksi belum dapat diperkirakan jangka waktunya.
Sejauh ini proses pengapalan tetap berlangsung, yang berhenti hanyalah services mining. Untuk memulai kembali kegiatan penambangan, sejak awal pekan ini PTFI sudah memulai kembali menghidupkan mesin.
Sebetulnya, Freeport Indonesia belum akan memulai produksi dari Deep Ore Zone. DOZ merupakan blok lorong tambang bawah tanah yang berjarak beberapa kilometer dari Grasberg. Biasanya diproduksi sekitar 80 ribu ton ore per hari.
Untuk lokasi runtuhnya Big Gossan terjadi 500 meter dari mulut tambang. Ruangan yang tertimpa reruntuhan merupakan ruang kelas untuk training pekerja. Titik yang runtuh tepat di ruang kelas 11 Quality Management Services (QMS) Underground. Sebanyak 38 pekerja tertimbun dengan dan menimbun 38 pekerja, 28 orang di antaranya tewas sementara lainnya selamat. Big Gossan terletak sekitar 2,7 kilometer dari wilayah tambang Grasberg.
Sumber : JURNAL NASIONAL, 13 Juni 2013