Wednesday, July 23, 2008
Ekspansi Melalui Korporasi Freeport Indonesia
Sejarah PT Freeport Indonesia (PTFI) bermula saat seorang manajer eksplorasi Freeport Minerals Company, Forbes Wilson, melakukan ekspedisi pada tahun 1960 ke Papua. Ini setelah dia membaca sebuah laporan tentang ditemukannya Ertsberg atau Gunung Bijih, sebuah cadangan mineral, oleh seorang geolog Belanda Jean Jacques Dozy pada 1936.
Setelah ditandatanganinya kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia bulan April 1967, PTFI memulai kegiatan eksplorasi di Ertsberg pada Desember 1967. Konstruksi skala besar dimulai bulan Mei 1970, dilanjutkan dengan ekspor perdana konsentrat tembaga pada Desember 1972.
Setelah para geolog menemukan cadangan kelas dunia Grasberg pada 1988, operasi PTFI menjadi salah satu proyek tambang tembaga/emas terbesar di dunia. Pada akhir 1991, kontrak karya kedua ditandatangani dan PTFI diberi hak oleh Pemerintah Indonesia untuk meneruskan operasinya selama 30 tahun.
Dalam tahun 2005, PTFI telah menghasilkan dan menjual konsentrat yang mengandung 1,7 miliar pon tembaga dan 3,4 juta ons emas. Saat ini juga PTFI merupakan salah satu pembayar pajak terbesar bagi Indonesia. Sejak 1992 sampai dengan 2005, manfaat langsung dari operasi perusahaan terhadap Indonesia dalam bentuk dividen, royalti, dan pajak mencapai sekitar USD3.9 miliar.
Selama itu, PTFI juga telah memberikan manfaat tidak langsung dalam bentuk upah, gaji dan tunjangan, reinvestasi dalam negeri, pembelian barang dan jasa, serta pembangunan daerah dan donasi. Saat ini PTFI menerapkan dua teknik penambangan, yakni open-pit atau tambang terbuka yang menggunakan truk pengangkut dan sekop listrik besar di tambang Grasberg serta teknik ambrukan atau blok-caving pada tambang bawah tanah Deep Ore Zone(DOZ).
Bijih yang telah dihancurkan diangkut ke pabrik pengolahan melalui rangkaian ban berjalan dan orepass. Gabungan teknik penghancuran digunakan, termasuk penggunaan mesin semi-autogenous grinding (SAG) dan ball mill untuk menghancurkan bijih tambang menjadi pasir yang sangat halus.
Selanjutnya diikuti dengan proses pengapungan menggunakan reagent, bahan yang berbasis alkohol dan kapur, untuk memisahkan konsentrat yang mengandung mineral tembaga, emas, dan perak di mana mineral-mineral tersebut mengapung ke permukaan dan diciduk permukaannya (skimmed-off) sebagai produk akhir. Sisa dari batuan yang tidak memiliki nilai ekonomi mengendap di bagian dasar sebagai tailing dan dilepaskan melalui arus sungai menuju daerah pengendapan di dataran rendah.
Lalu konsentrat dalam bentuk bubur disalurkan dari pabrik pengolahan menuju pabrik pengeringan di Pelabuhan Amamapare melalui pipa sepanjang 110 km. Konsentrat yang telah dikeringkan disimpan di Pelabuhan Amamapare sebelum dijual dan dikapalkan ke pabrik-pabrik peleburan di seluruh dunia.
PTFI terus berupaya menjadi model pembangunan ekonomi di Indonesia yang mengolah sumber alam dan memaksimalkan manfaat sosial bagi bangsa, termasuk masyarakat Papua. Perusahaan juga berupaya meminimalkan dampak lingkungan dan bertekad untuk terus memperbaiki setiap aspek operasi.
Grasberg ditambang dengan menggunakan cara penambangan terbuka yang sesuai karena keberadaannya yang dekat dengan permukaan. Dengan penambangan terbuka, dimungkinkan pengerahan peralatan berat untuk pekerjaan tanah yang sangat besar, yang mampu mencapai tingkat penambangan yang tinggi pada biaya satuan yang paling rendah.
Sarana-sarana utama yang ada pada lokasi tambang terbuka adalah termasuk bengkel-bengkel perawatan, tambang batu gamping, pabrik pemrosesan, serta fungsi pendukung dan perkantoran.
Lazimnya, bahan-bahan dan perlengkapan dibawa ke lokasi tambang terbuka dengan menggunakan tram. Alat berat diangkut dengan menggunakan wheeled lowboy melalui jalan HEAT. Ini merupakan infrastruktur yang terbukti sangat vital untuk pengangkutan jenis peralatan di tambang terbuka Grasberg (arif dwi cahyono)
Sumber : Seputar Indonesia, 22 Juni 2008
|